Pandangan Pertama

“Kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama?” tanya April. Owen memandanginya balik. Bertanya – tanya kenapa gadis dengan rambut hitam legam yang tebal dan mukanya yang tidak bisa ia deskripsikan karena mampu menarik hati semua lelaki yang pernah melihatnya ini memiliki cara berpikir yang rumit.

Puitis. Seakan – akan ia menghabiskan kehidupan sebelumnya dengan terlalu banyak pertanyaan dan tidak cukup jawaban. Seperti ia terjebak di kehidupan yang menyodorkan pertanyaan di tiap belokan.

Owen menghembuskan nafas panjang dan semakin membenamkan dirinya ke dalam kursinya. Ia memandangi April dengan tatapan ‘Tolong bebaskan aku dari neraka pertanyaan tak jelasmu yang harus aku jawab dengan serius karena jika tidak kamu akan terus menanyaiku selama 3 hari berikutnya’. Tapi seperti biasa, April tidak mengerti pandangannya.

“Yeah.” Jawab Owen akhirnya.
“Kenapa?” Sambar April seketika.
“Kenapa tidak?” tanya Owen balik.

April mendengus. “Kamu seharusnya jatuh cinta dengan seseorang yang kamu kenal. Jatuh cinta pada pandangan pertama bukan cinta– itu nafsu.” Owen mengangkat bahu, “Mungkin.” “Aku membenci frase itu. ‘Cinta pada pandangan pertama.’ Cih.” “Kenapa, terlalu banyak membacanya di surat cinta yang kamu dapat tiap hari?” tanya Owen. April memasang muka kesalnya. Owen merasa ia tepat sasaran, tapi April seperti biasa mengganti topik.

“Bukan. Karena nyaris semua buku dan film selalu menggambarkannya seperti itu.”
“Hmm.” Owen mulai mengecek kukunya untuk kotoran, “Tapi jika ada ribuan buku dan film yang mengatakan hal yang sama, bukankah menurutmu ada kemungkinan itu  benar – benar bisa terjadi? Banyak dari karya fiksi lahir dari pengalaman nyata, kan.”

“Ya kalaupun ada, itu hanya kebetulan belaka! Mereka tertarik dengan penampilan satu sama lain dan kebetulan saja mereka bisa benar – benar jatuh cinta dengan sifat satu sama lain.”
“Hmm.”
“Kenapa kamu mengeluarkan ‘hmm’ itu. Aku tahu kamu memiliki pikiran lain.”
“Kenapa kamu sangat terobsesi dengan memaksaku mengatakan pikiranku. Aku percaya ada cinta pada pandangan pertama dan kamu tidak. Sesederhana itu. Tidak perlu bertengkar.”
“Aku tidak bertengkar, aku berargumen. Ada perbedaannya.”
“Hmm.”

Owen membenarkan posisinya dan mengangkat mukanya untuk melihat April yang sangat cemberut. “Okay, okay.” Owen menghela napas panjang, “Ada kurang lebih 7 biliar orang di dunia. Mungkin bahkan lebih– aku yakin lebih. Dari 7 biliar itu, dengan ribuan kebudayaan dan sifat dan perasaan yang tercampur jadi satu gumpalan di planet ini– aku yakin setidaknya ada 1 pasang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Kemungkinan itu tidak bisa disangkal.”

April mendengus.

“Dan minggu lalu kamu sendiri mengatakan ‘tidak ada yang namanya kebetulan’. Jadi kurasa aman untuk berkata argumenmu bahwa ‘itu hanya kebetulan belaka’ itu tidak valid.”

April menundukkan kepalanya dan mulai memainkan rambut dengan jarinya.

“Lagipula. Kita bisa jatuh cinta tanpa melihat– Kita bisa jatuh cinta dengan sebuah lagu, dengan sebuah kota yang kita tidak pernah ketahui hanya dengan mendengarkan cerita – cerita tentangnya. Kita bisa jatuh cinta dengan seseorang tanpa perlu melihat mukanya– hanya berkorespondensi dengan surat dan telpon dan detik berikutnya kamu sadar kamu jatuh cinta.”

April menggigit bibir bawahnya.

“Jadi kurasa aman untuk mengatakan bahwa jika kamu bisa jatuh cinta tanpa melihat sama sekali, kamu juga bisa jatuh cinta cukup dengan sekali.”

Owen mengakhiri ‘argumen’nya dan memandangi jari jemari April yang masih menari – nari dengan rambutnya sendiri. Setelah beberapa saat, ia mengulurkan kedua tangannya. Satu tangannya memegang tangan April, satunya mengangkat dagu gadis itu dengan lembut untuk kembali memandanginya.

April memandanginya balik. “Kamu selalu mengalahkan aku di permainan ini.”

“Hmm.”

“Mungkin itulah kenapa aku jatuh cinta denganmu.”

“Hmm.”

“Berhenti bilang ‘hmm’.”

“Hm–” Sebelum Owen bisa menyelesaikan gumaman tak jelasnya, April mencondongkan badannya. Dan Owen tidak merasa April mau berargumen lagi sisa malam ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s