Ritual pt.1

Sejak aku masih kecil– jauh sebelum aku bahkan bisa ingat kapan–ayahku memiliki sebuah ‘ritual’.

Tiap malam ayahku akan menutup semua jendela dengan rapat. Tidak cuma menutup jendela saja– ia bahkan menutupi kacanya dengan semacam kertas coklat, menghalangi satu pun cahaya dari bulan untuk masuk. Ia akan mengunci pintu– kita memiliki 7 gembok, 1 kunci kombinasi dan ia memasang semacam balok kayu yang berat untuk menahannya. Dulu ketika kecil aku sebagai anak laki – laki yang mengidolakan ayahnya menganggap ia keren karena di pikiranku ia hanya menjaga kita.

Sekarang aku  menganggapnya terlalu paranoid.

Sekarang aku mendengus dan aku berharap ia tidak melakukan hal – hal seperti itu.

Aku sudah pernah menganjurkannya untuk tidak melakukan hal- hal semacam ini– bahwa tetangga – tetangga kita semakin menganggap keluarga kita gila. Tapi ia tidak mau mendengar dan aku sudah terlalu lelah untuk mengganti pikirannya.

Aku tidak memiliki banyak teman karena dikenal sebagai anak dari ayahku. Dulu aku sempat marah karena hal itu– membenci ayahku karenanya. Sekarang aku hanya menerimanya dengan pasrah.

Sekarang aku hanya seorang remaja yang selalu lelah dan bosan dengan kehidupanku dengan seorang ayah yang paranoid.

 * * *

“Edgar,” panggil ayahku suatu makan malam. Aku mengangkat mukaku dari nasi dan daging asapku dan bertatapan dengan muka ayahku yang khawatir. “Yeah?” balasku setelah beberapa detik diam. “Aku memiliki tugas dari kantor untuk pergi besok siang.”

“Hm.” Ini baru.

“Aku sudah meminta orang lain saja yang dikirim– tapi kita kekurangan orang jadi aku terpaksa pergi.”

“Hm.”

“Aku harus meninggalkan rumah.”

Oh. Aku paham sekarang. Ia agak paranoid meninggalkan seorang anak remaja sendirian di rumahnya. “Tidak apa – apa. Aku bisa menjaga rumah kok.” Kataku, memaksakan senyuman. “Tidak boleh ada pesta atau semacamnya, paham?” tanya ayahku, agak tegas. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Aku tidak bisa merusak rumah dengan mengadakan pesta besar– aku tidak memiliki cukup orang untuk bahkan kupanggil ‘teman’. Tapi kurasa sedikit menghibur ketika ayahmu mengira kamu masih cukup terkenal di sekolah. Aku mengangguk, “Aku tidak akan membakar rumah, jika itu yang ayah khawatirkan.”

“Tentu saja, tentu saja– tapi kamu harus berjanji padaku untuk melakukan.. sesuatu.” Aku mengerutkan keningku. “Definisikan sesuatu.” balasku datar. Ayahku mengangkat satu jari, membuat semacam tanda agar aku tidak bergerak dari posisiku. Ia berdiri dan bergegas ke ruangan lain. Aku menelan ludah, sendirian di meja makan, mulai menggoyang – goyangkan kakiku dengan tidak sabar. Ayahku kembali membawa sederetan kunci.

Oh astaga. Aku menggerutu keras – keras di benakku. Ritual malam ayahku. Tentu saja.

Ia menunjukkanku kunci dengan berbagai warna dan bentuk– semua dilabel dengan jelas mana yang pertama hingga terakhir. Aku mengangguk, tersenyum. Berjanji setidaknya 10 kali bahwa aku akan melakukan semuanya. Aku bahkan ikut menemaninya melakukan satu per satu ritualnya- berpura – pura memperhatikan satu per satu gembok dikunci dan jendela ditutup dan dipasangi kertas.

Lalu aku mengatakan selamat malam dan aku masuk ke kamarku. Menghapus senyumanku dalam sepersekian detik. Memandangi jendela kamarku yang tertutupi kertas coklat dengan perasaan dongkol dan kesal.

***

“Jika ada apa – apa, kau memiliki nomor telponku.” ujar ayahku, sambil memasang dasi keesokan paginya. Aku menyendok serealku dan bergumam ‘hmm’. “Aku yakin kamu bisa mengurus makanmu sendiri.” Ayahku membenarkan jasnya dan mengangkat tas kerjanya. Ia menaikkan kacamata kotaknya, “Dan aku serius tentang tidak boleh ada pesta di dalam rumah selama aku pergi, Edgar.” “Iya, iya.” balasku.

Ayahku tersenyum. Menepuk pundakku sekali. Lalu senyumannya hilang dan ia meremas pundakku sekali. “Pastikan semuanya terkunci dengan erat, kamu dengar aku, nak?” Pegangannya ke pundakku semakin erat, aku berusaha menggeliat tetapi tidak bisa. Aku mengangguk kaku. Tangan satunya menggenggam pundakku, ia sedikit mengguncangku. “Bersumpahlah.” “I-iya.” aku bersumpah, mulai agak tidak nyaman dengan apa yang ayahku lakukan. Ia melepaskan genggamannya dan aku menggosok – gosok lenganku.

Ayahku memandangiku dengan pandangan ragu – ragu. Lalu ia menaikkan kacamatanya lagi dan berkata, “Yah, sudah saatnya aku pergi.” “Hati – hati di perjalanan.”ujarku. Aku memandanginya pergi dengan mobil sedan lamanya dari ujung pintu. Melambaikan tangan ketika ia mengangkat mukanya sebelum hilang dari pandangan.

Tak lama kemudian aku ke sekolah.

Advertisements

One thought on “Ritual pt.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s