Ritual pt.2

Aku benci SMA.

Segedung berisi manusia – manusia merana yang penuh dengan hormon dan mimpi buruk. Gadis – gadis yang memuntahkan isi perut mereka hanya untuk terlihat cantik di foto bersama teman – teman mereka yang sama – sama kelaparan. Lelaki – lelaki yang terobsesi dengan gadis – gadis itu dan hanya bisa berpikir untuk membawa mereka ke kamar tidur mereka.

Segerombolan yang ke sekolah untuk membuktikan dirinya ke satu sama lain daripada untuk belajar. Guru – guru SMA adalah profesi yang agak percuma jujur saja. Mereka tidak pernah didengarkan, tidak pernah diperhatikan dan tidak akan diingat.

Aku benci SMA karena anak – anak macamku tidak bisa masuk ke dalam gerombolan itu dengan nyaman– dan karena itu aku terlihat mencolok dan aku menjadi sasaran empuk sebagai pelampiasan dari apapun yang mereka tidak bisa capai.

Aku baru berjalan 5 langkah masuk sekolah ketika aku ditabrak dari kiri dengan badan yang tampaknya meminum 5 pil steroid per jam saking besar ototnya. Aku terlempar ke loker seketika, dan sebelum aku bisa paham apa yang terjadi, si penabrak sudah menahan badanku ke loker itu, menggencet rusukku dengan kekuatan yang membuatku asma mendadak.

“PAGI HIGGINS!” teriak penabrakku– yang sekarang bisa kuidentifikasi sebagai salah satu orang yang paling suka membully-ku, Frankie. “Pagi Frank.” balasku datar.

Aku sudah mencapai tahap aku bahkan tidak takut dengan pembullyku, jujur saja. Apapun yang kukatakan ia bakal tetap menindasku. “Semangat untuk pelajaran pertamamu hari ini?” tanyanya, mendekatkan mukanya kepadaku. Aku bisa mencium bau busuk dari mulutnya– aku bertanya – tanya apakah ia bahkan pernah gosok gigi dalam seminggu silam ini.

Ia menyeretku ke suatu tempat dan kakiku merasakan perbedaan dari lantai marmer dengan kubin dan oh shitfuck. Ia mau memasukkan kepalaku ke toilet bahkan sebelum pelajaran pertama. Aku tidak pernah bisa menggeliat lepas dari Frankie, tapi aku tetap selalu berusaha. Selalu gagal juga sih, aku menahan napas sebelum kepalaku ditabrakkan masuk ke dalam leher angsa. Aku mulai kehabisan napas dan mulai meronta – ronta, dan kudengar Frankie tertawa– lalu bel berbunyi. Ia melepas genggamannya ke rambutku, dan ketika aku mengangkat mukaku dan bernapas, tersenggal – senggal dan basah kuyup di lantai toilet– ia sudah hilang.

Aku terhuyung – huyung berdiri, bergerak ke wastafel dan mulai mencuci mukaku, menarik beberapa tisu untuk mengeringkan muka dan leherku– melihat sekilas bayanganku di kaca. Helaan napas ketika menyadari aku tetap terlihat menyedihkan dengan mata gelapku dan rambut yang teracak.

Aku mengetuk pintu kelas dan diijinkan masuk oleh guru yang tidak terlalu bahagia aku terlambat. Sekelas tertawa melihat t-shirt basah-ku. Aku mengambil kursi di belakang kelas, berusaha membenamkan diriku. Waktu aku mengangkat mukaku, satu – satunya yang masih memandangiku hanya Ruth. Ketika ia melihat bahwa aku memandanginya balik, ia buru – buru mengalihkan pandangannya. Aku mendengus pelan.

***

Ketika aku sudah sampai rumah lagi, aku menendang lepas sepatuku, menaiki tangga ke kamarku dan melempar diriku ke bed. Aku terbangun ketika mendengar ketukan. Aku bangun terduduk, kaget dengan kamar yang sudah gelap. Aku memandang sekitar dan menemukan jam– 6 malam. Pandanganku melayang ke deretan kunci di meja belajarku. Seharusnya aku melakukan ‘ritual’ ayahku setidaknya setengah jam yang lalu.

Aku mengusap mukaku, menyadari aku bahkan belum mandi sejak kepalaku dimasukkan ke toilet. +100 untuk kepandaian higienis, Edgar Higgins! Luar biasa.

Aku menggerutu dan mengangkat kunci – kunci ayahku. Dengan malas aku berjalan turun tangga, aku menggerutu keras – keras ketika menyadari jumlah gemboknya. Aku mengunci 2 dari mereka, lalu memutuskan rumah ini sudah cukup aman dengan 2 gembok saja. Aku tetap mengunci semua jendela– kurasa mengunci jendela masih masuk akal di kepalaku. Hei, pencuri tetap bisa masuk. Aku melempar kunci ke sofa dan menaiki tangga lagi ke kamar mandi. Ketika aku di kamar mandi, aku mendengarnya lagi. Ketukan. Menyadari itu ketukan yang sama yang membangunkanku– aku baru sadar mungkin ada tamu. Dengan panik aku membilas semuanya dan menarik handuk dan celana.

Aku mengacak – acak rambutku dengan handuk dan bergegas turun, mengerling dari lubang pintu.

Tidak ada siapa – siapa.

Aku mengerutkan kening. Okay.. aku kembali naik ke lantai 2, menarik t-shirt kering dan memakainya dengan buru-buru. Ketika aku melakukan itu, aku melihat kertas coklat yang seharusnya kupasang di jendela. Aku berhenti sesaat. Menoleh ke jendela. Aku sudah menguncinya, sialan. Tidak perlu terlalu paranoid seperti ayahmu. 

Aku berjalan terus ke dapur, mencari makanan. Menemukan macaroni beku di ujung freezer. Aku memanasinya dan memakannya di depan TV, mengunyah macaroni yang gosong di luar dan masih es di dalam. Lalu aku mendengarnya lagi. Ketukan itu, lebih keras. Aku mengecilkan suara TV, berusaha mendengar jika terdengar ketukan itu lagi.

Pikiran pertamaku adalah apakah ada binatang yang masuk ? Dan aku mulai gugup. Tidak lucu jika ayahku kembali dan menemukan seekor tikus raksasa telah beranak pinak di dalam rumah ketika ia pergi atau semacamnya.

Aku mematikan TV dan meletakkan macaroniku, berusaha mencari tikus, atau burung, atau hewan apapun. Aku mengecek semua ruangan dan semua celah– tidak ada apa – apa. Aku kembali ke depan TV, menggaruk – garuk kepalaku– ketika aku melihat macaroniku hilang. Hatiku mencelos. Oke. Pasti ada hewan di rumah ini.

Aku menarik keluar racun tikus dan koran bekas, membeberkan beberapa dan meletakkannya di tengah – tengah dapur dan ruang makan. Memutuskan bahwa aku tidak bisa melakukan apa – apa lagi, aku naik kembali ke kamarku.

Aku melompat ke tempat tidur, memutuskan browsing internet.

Ketika aku setengah tertidur– aku mendengar ketukan familier itu.

Sebelum aku sadar apa yang kulakukan, aku menoleh ke jendela. Tidak tertutup dengan kertas apapun. Dan ada tangan pucat,kurus dan dengan pasti mengetuk dengan pelan.

Tangan itu melambai ke arahku.

Aku membeku, merasakan darahku berubah sedingin es sementara kuku – kuku panjang tangan itu mencakar jendelaku. criiiiiiiittttt—- 

Aku mendengar sebuah piring terjatuh di lantai bawah dan aku menoleh, ke pintu kamarku. Ketika aku menoleh ke jendelaku lagi, tangan itu sudah hilang dan sesuatu menghantam kepalaku dan —

gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s