Ritual pt.3

Ketika aku bangun, yang pertama kusadari adalah aku tertidur tidak di atas bantal dan hanya di atas kasur. Aku merayap pelan ke bantalku dan menjatuhkan kepalaku. Memejamkan mataku lagi.

Lalu aku menyadari sinar matahari yang masuk ke kamarku. Lebih terang dari biasanya.

Karena tidak ada kertas yang menutupi jendela. 

Jendela.

Ketukan–tangan itu. Pukulan lalu gelap.

Aku tersentak bangun, mendudukkan diriku sendiri. Pandanganku melayang ke jendela– tidak ada apa – apa. Hanya langit biru dan secuil atap tetangga yang bisa terlihat dari posisiku sekarang. Aku memegang kepalaku, mengacak – acak rambutku berusaha menemukan suatu benjolan atau luka apapun. Tapi tidak ada apa – apa. Apapun yang membuatku tidak sadar diri kemarin tidak meninggalkan bekas apapun di kepalaku. Itu aneh.

Aku melompat turun dari tempat tidur dan mengerling ke luar jendela. Tidak terdapat apa – apa. Bahkan tidak ada bekas apapun di kaca jendela, tidak ada bekas tangan, tidak ada bekas cakaran.. Aku menelan ludah. Apakah aku mengimajinasikannya? Apakah aku hanya tertidur kemarin dan itu cuma mimpi buruk saja?

Terdengar suara nyaring dan aku berteriak kaget, membalikkan badanku dan nyaris terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Jam wekerku. Ini hari Jumat. Masih sekolah. Aku menghembuskan napas lega, lalu berjalan ke tempat tidurku dan mematikan jam wekerku dengan satu tangan. Mengusap – usap mataku dengan capek, bingung dan jantung yang masih berdebar – debar. Sebelum aku keluar kamar, aku mengerling sekali lagi ke jendela, masih tidak yakin.

***

Frankie tidak sempat menggangguku sebelum kelas karena aku sendiri nyaris telat masuk kelas. Setidaknya kali ini aku tidak masuk dengan baju basah dengan air toilet. Aku hendak duduk di bagian belakang kelas seperti biasa ketika aku sadar bangku itu persis sebelah jendela. Aku berhenti. Mataku menyapu sekelas, berusaha mencari tempat duduk lain. Segerombolan anak masuk, mulai mengambil tempat duduk yang mereka selalu ambil. Frankie mendorongku sedikit dan ada seseorang menabrakku dengan pundaknya dengan keras. Pilihan tempat dudukku mulai menipis, dan tanpa pikir panjang aku hanya duduk di salah satu kursi yang di tengah – tengah kelas. Posisi yang biasanya kuhindari. Guru – guru selalu bertanya pada anak – anak di posisi ini dan para bully gampang menyerang. Tapi aku lebih siap menghadapi itu daripada duduk di sebelah jendela hari ini.

“Psst-Higgins!” panggil seorang anak di sebelahku. Aku menoleh, bertatapan dengan Henry Brown yang tampaknya berusaha berbisik tapi yang keluar sama kerasnya dengan teriakan biasa. “Kamu bisa beri ini ke Marrisa?” ia menyodorkan sebuah kertas. Aku memandanginya balik dengan tatapan terkosongku. Kirim – kiriman kertas adalah modus bullying paling sukses. Kamu tidak bisa tahu isi kertasnya. Jika isinya sesuatu yang menyudutkan kamu dan orang yang pesannya dituju, para bully akan punya topik baru. Jika kamu menolak, kamu akan dikira sombong. Para bully akan punya topik baru. Jika kamu memutuskan untuk tetap mengirimnya, si guru bisa melihatmu dan membacakan isi kertasnya ke seluruh kelas– kembali ke nomor 1, plus detensi.

Di saat – saat seperti ini, aku berharap dunia bisa menelanku dan tidak pernah memuntahkanku kembali.

Sebelum aku memikirkan cara untuk kabur dari situasi ini, Henry sudah melemparkan kertas itu ke mejaku. Refleks pertamaku adalah melemparnya balik ke mejanya tapi aku tahu itu bakal memperparah keadaan. Aku memandangi kertas di mejaku, menutupi gambar organ untuk pernapasan di hewan ternak atau semacamnya. Aku menoleh ke Marrisa. Ia duduk di baris kedua dari depan, terlihat sangat bosan, ia mengunyah sesuatu dengan pelan. Berhenti jika si guru menoleh ke arah kelas.

Aku menghirup napas panjang lalu berusaha menarik perhatian Janet Wheeler di sebelahku. “Janet–” bisikku. Janet tidak menoleh. “Janet!” bisikku agak keras, ia akhirnya menoleh. “Berikan ini ke Marrisa– tolong.” aku menyodorkan kertas dari Henry. Janet pelan – pelan mengambilnya. Aku berhasil menyerahkkannya sebelum si guru menoleh ke arah kita. Janet menyerahkannya ke Derek di depannya. Derek menyerahkannya ke Ronnie di sebelahnya. Ronnie menyerahkannya ke Ruth di seberangnya–

Dan Ruth menerimanya. Tapi tidak memberikannya ke Marrisa yang persis di sebelahnya. Aku mengerjap, mengerutkan dahiku. Ruth menoleh ke arahku seketika. Kita saling pandang dan ia langsung menoleh balik ke mejanya, menunduk. Aku menoleh ke papan lagi, memutuskan aku pasti terlalu lama memandanginya.

* * *

Waktu pulang sekolah, aku membereskan semua barang – barangku dari loker, hendak pulang. Ketika aku menutup pintu lokerku, ada seseorang berdiri di baliknya. “Shi-” aku nyaris mengumpat, lalu menahan diriku ketika sadar orang itu– Ruth.

“S-sori, apakah aku men-mengagetimu?” tanya Ruth, terbata sedikit.

Aku menepuk pintu lokerku, “Eh. Tidak.”

“Oh. Eh. Bagus.”

Aku diam saja. Ia diam saja, memandangiku dengan mata lebar. Aku menggaruk leherku, “Er, aku harus pulang. Bye.” ujarku, berjalan melewatinya.

“E-Edgar!” panggilnya. Aku menoleh. “Kamu– apakah kamu menulis catatan itu?”

Aku mengerutkan dahiku.

“Di kelas. Tadi. Untuk Marrisa?”

Oh. 

“Tidak. Henry memintaku memberinya ke Marrisa.” kataku cepat.

“Oh. Er. Baguslah.” ujarnya, menghembuskan nafas panjang.

Aku memandanginya. “Memangnya kenapa?”
“Kenapa?”
“Memangnya kenapa kamu bertanya?” tanyaku, lebih jelas.
“Oh.” Muka Ruth memerah. “Aku– aku membukanya dan..”
“Kamu membukanya?” tanyaku, tidak yakin aku mendengar jelas.
“Ya- tidak! Maksudku– Marrisa sangat tidak suka menerima catatan dari siapa – siapa waktu kelas. Jadi ketika aku mendengar kamu, dari semua orang di kelas, memberinya catatan, aku mersa agak aneh, jadi–” Ruth berusaha menjelaskan dengan buru – buru.

“Um.” Aku tidak tahu apakah itu bagus atau tidak. Satu – satunya yang bisa kupikir adalah Ruth, si gadis paling diam di kelas tapi yang selalu bersama geng dari anak – anak yang populer, sekarang mungkin memiliki bahan untuk blackmail aku.”Bolehkah aku setidaknya tahu apa isinya, kalau begitu?”

“Apa?”
“Isi pesannya.”

“Oh,” Muka Ruth semakin memerah, “K-kurasa lebih baik kamu tidak tahu.”

Yep. Ruth akan memblackmailku. Aku harus mulai bersikap ekstra baik kepadanya jika mau selamat. Koneksinya banyak. 

Um. Okay.” Aku menelan ludah, “Well, thank you sudah menjaga agar pesannya tidak sampai ke Marrisa, apapun isinya. Aku bersungguh – sungguh ketika aku berkata pesan itu dari Henry– apapun isinya.” Aku memaksakan senyuman. Ruth tersenyum balik. Dan aku bergegas keluar dari situasi canggung itu.

Setelah aku keluar dari gerbang sekolah aku baru sadar– aku akan kembali ke rumah dan tidak kembali lagi hingga 2 hari lagi. Ini akhir pekan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: