Ritual pt.4

Aku membuka pintu rumah dan merasakan bulu kudukku berdiri. Aku menelan ludah, tidak yakin apakah aku bahkan bisa tenang di rumahku sendiri. Ini bodoh. Batinku, sambil melangkah masuk dan menutup pintu. Hening.

Aku berjalan masuk, menjatuhkan tasku di dekat sofa. Tasku menyenggol meja kecil sedikit, dan aku menoleh ke arah meja itu– telpon di atasnya.

Apakah aku perlu memberitahu ayahku..?

Bayangan tangan itu terlihat lagi. Suara ketukan itu masih terdengar jelas di kepalaku. Dan aku bertanya – tanya apakah itulah alasan ayahku selalu paranoid dan memasang kertas – kertas coklat itu agar tidak bisa melihat keluar jendela. “Jika ada apa – apa, kamu memiliki nomor telponku.” 

Aku menghembuskan napas panjang, dan naik ke kamarku, melompat ke tempat tidur dan menjejalkan earphone ke telingaku. Menelpon ayahku adalah ide buruk. Ia bisa melompat keluar dari pesawat jika mendengar aku tidak mengunci pintu dengan sepenuhnya dan menutup jendela. Aku yakin aku melihat tangan itu– tapi aku pernah yakin Titanic adalah kejadian fiksi. Jadi bisa dipastikan aku seorang idiot– tidak perlu menelpon ayahku untuk mengonfirmasi hal itu lebih lanjut.

Aku membuka mataku dan memandangi langit – langit kamarku. Kalaupun aku benar – benar melihat hal itu– mataku melirik jendela dengan sendirinya– ia ada di luar. Dan aku di dalam. Aku memejamkan mataku lagi, menghela napas panjang. Aku tinggal perlu mengunci semua jendela dan mengunci pintu dengan erat.

 * * *

Aku mengebas – ngebaskan kedua tanganku setelah mengunci semua jendela dan menutup kunci– kali ini mengunci 4 dan bukan hanya 2 agar lebih aman. Aku menoleh ke jam– setengah 6. Bagus. Dengan puas aku meninggalkan kumpulan kunci di atas meja makan.

Aku berdiri, diam.

Tidak nyaman dengan kesunyian yang menyusul, aku menyetel stereo di ruang keluarga– lagu rock dari CD favoritku waktu aku masih labil ketika SMP menyala dengan keras. Aku mengecilkan suaranya sedikit– tetapi tetap membiarkannya cukup keras. Sambil sedikit meringis karena teringat akan fase menyedihkanku waktu SMP, aku mengambil hp-ku dan menjatuhkan diri ke sofa, bermain salah satu gameku.

Lalu pintu depan digedor.

Begitu keras aku nyaris terjatuh dari sofa. Aku menoleh ke pintu yang bahkan bergetar saking keras gedorannya. Aku menelan ludah dan tanpa membuat suara sedikitpun, berjalan pelan – pelan ke pintu. Kali ini aku mengerling dari lubang kecil di pintu untuk melihat siapa yang di luar. Aku menahan napasku– menggigit lidahku agar tidak mengumpat dan mengeluarkan suara sekecil apapun. Tidak ada apa – apa di luar. Lalu sekelebat hitam– dan aku tanpa sengaja berseru.

Seketika pintunya digedor lagi. Aku mundur, punggungku menabrak dinding.

Gedorannya berhenti setelah beberapa detik yang terasa seperti abad.

Lalu salah satu gembok yang kupasang jatuh dengan sendirinya. Dan sebuah baut terlempar terbuka sementara satu gembok jatuh lagi. Aku hanya mengunci 4. Menyadari apa yang sedang terjadi, kakiku berlari ke meja makan, tanganku dengan ceroboh masih menjatuhkan kunci ke lantai. Aku merebutnya dan berlari ke pintu depan–terburu – buru memasang semua gembok dan mengunci semuanya. Pintunya digedor sementara aku melakukannya.

Ketika ketujuh gembok sudah terpasang dan kunci kombinasi kuputar dengan asal, aku menghela napas panjang. Lalu kakiku lemas dan aku terjatuh ke lantai. Memandangi pintu yang bergeming. Keringat bercucuran dari dahiku.

Apa – apaan itu tadi..?! 

Aku memberanikan diri berdiri– menggunakan dinding untuk sandaran– dan mengerling keluar lubang kecil di pintu lagi. Sebuah mata memandangiku balik. Aku menunduk seketika. Jantungku berdegup kencang dan kulitku merinding– kenop pintunya berputar– tidak bisa terbuka dari banyaknya kunci yang kupasang. Aku tidak bisa bergerak. Membeku dengan ketakutan dengan posisi setengah jongkok, memandangi kenop pintu itu berusaha dibuka untuk yang terasa seperti selamanya.

Lalu kenop pintu itu akhirnya dilepas– dan tidak berputar lagi. Aku mendengar langkah kaki menjauh dari balik pintu. Aku menghembuskan napas panjang. Mengira apapun di luar sudah pergi.

Tapi aku mendengar suara seperti kaca pecah dari lantai 2– dan aku menyadarinya. Jendela. Ia membuka kunci jendelanya.

 Next (Ritual pt.5)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: