Ritual pt.5

Aku tidak bisa berpikir.

Aku mendengar langkah kaki– samar. Tapi konstan. Dan pintu yang terbuka dengan pelan– engsel pintu rumah kita selalu perlu diberi oli.

Aku tidak bisa berpikir– apa yang harus kulakukan?

Langkah kaki lagi. Menuruni tangga. Satu per satu.

Kunci di tanganku. Aku menggengamnya erat – erat dan berdiri, mencoba membukai semua gembok dan kunci yang ada– gerakanku terasa konyol karena aku begitu takut dan gugup. Langkah kaki itu bertambah dekat– aku tahu aku tidak akan bisa membuka pintu dengan cukup cepat.

Tapi persetan dengan berusaha menoleh ke belakang dan melihat apapun itu yang mendekat ke arahku. Aku menggengam semua kunci itu di satu tangan berlari ke jendela ruang keluarga dan melempar seluruh badanku ke kaca jendela. Mungkin karena fungsi jendela tidak termasuk menahan berat badan seorang remaja pecundang yang saking takutnya tidak bisa berpikir sehat macam aku– tapi kaca itu roboh dan aku terjatuh keluar, mendarat di antara serpihan – serpihan kaca dan rumput taman depan rumahku.

Anjing tetangga seketika menggonggongiku sementara beberapa rumah menyalakan lampu teras mereka, seakan – akan mau mengecek suara apa itu.

Aku merangkak menjauh dari rumahku, pertama kalinya melihat ke belakang dan melihat semacam sosok– tapi ketika aku mengerjap sosok itu sudah hilang. Apakah aku mengimajinasikannya? Apakah aku sudah resmi gila? 

Lampu kamar ayahku menyala– aku mendongak ke lantai 2. Terdapat sosok di balik jendela, memandangiku balik. Aku tahu ini karena sebuah tangan berwarna putih pucat menempel ke jendela, melambai ke arahku. Lalu sepasang mata menyala memandangiku balik. Aku berlari.

 * * *

Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku seorang idiot, tapi sesekali aku melakukan sesuatu yang lebih bodoh dari hal terbodoh sebelumnya sehingga membuatku bertanya – tanya apakah mungkin ada orang lain sebodoh aku.

Aku berlari keluar dari RUMAHKU. Tanpa sepatu. Di malam hari yang dingin. Dengan baju lengan pendek dan celana pendek yang biasa kupakai tidur. Dan sekujur lengan dan kakiku tergores dengan serpihan kaca akibat proses kaburku yang tidak kupikir panjang.

Sekarang rumahku didiami oleh entah ‘apa’, aku kedinginan, berdarah – darah dan lapar, dan aku tidak yakin aku bisa mengumpulkan cukup keberanian untuk menghadapi apa yang ada di rumahku sendiri. Aku berhenti berjalan sesaat untuk mengecek telapak kakiku yang berdarah, aku menarik keluar sebuah potongan kaca yang agak tebal. “Ouch.” kataku pelan, meringis. Aku menyentil potongan itu menjauh, lalu menyadari ada sebuah taman di depanku. Tiba – tiba memiliki respek tertinggi kepada pemerintah yang membangun taman – taman di sekitar kota dengan tempat duduk, aku setengah melompat lompat dengan satu kaki  ke taman itu.

Hingga aku menyadari aku tidak sendirian di taman itu.

“Hei apakah itu Higgins?”

Aku menoleh dan hatiku mencelos. SEAKAN – AKAN HIDUPKU TIDAK CUKUP MENDERITA DENGAN ADANYA AKSI PARANORMAL DI RUMAHKU!

“HEIII!” Frankie menyenggolku, aku terpaksa mencari keseimbangan dan meletakkan kaki satuku. Aku menahan sakitnya, “Apa – apaan ini? Kamu bahkan tidak memakai kaos kaki! Kau ditendang keluar dari rumahmu atau semacamnya?”

Aku tidak tahu bagaimana cara menjawab itu. Kurasa memang aku ditendang keluar dari rumahku..? “Pfft, apakah kamu bodoh dan BISU juga sekarang?!” ujar Frankie sambil mendorongku. Aku mengerling ke belakangnya, menyadari segerombolan anak – anak yang juga ada di sana. Mereka tertawa dan beberapa mulai membuka HP untuk memfoto.

Frankie mendorongku lagi dan aku tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk melawan balik hari ini. Aku sudah siap untuk menerima hajaran darinya ketika– “Ayolah Frank, biarkan dia sendiri.” ujar sebuah suara cewek. Marrisa, berdiri dari antara gerombolan itu. Frankie menoleh ke Marrisa, “Kamu suka dia atau semacamnya, Marrisa?” tanya Frankie, mencemooh. “OOOooohh!” Seru anak – anak di sekitar Marrisa. Ia memutar bola matanya, “Aku hanya bosan dengan pemandangan ini di sekolah dan aku tidak mau menonton ini lagi di luar sekolah. Lagipula, kita harus pergi ke bioskop jika mau mengejar film jam 8.” Seorang anak mengecek jam dan berkata, “Oh, yeah.” Gerombolan itu berdiri satu per satu, mengangkati barang mereka. Frankie mendorongku sekali. “Yeah. Kamu beruntung kali ini, Higgins.” ujar Frankie. Ia menunjukku dengan satu jari. Lalu mengangkat jari tengahnya ke arahku dan berjalan bersama gerombolan itu pergi.

Marrisa menoleh kepadaku sambil berjalan. Aku setengah mengangguk kepadanya. Ia mengangkat bahu dan mengedikkan kepalanya ke satu anak– Ruth. Aku menoleh ke Ruth yang memandangiku balik. Ruth berjalan di paling belakang– dan paling pelan. Saking pelannya ia tertinggal tanpa disadari oleh gerombolan itu.

Ketika gerombolan itu semakin mengecil, Ruth mendekatiku. “Apakah– apakah kamu tidak apa – apa?” tanya Ruth, dengan suara terkecil yang pernah kudengar. Aku menghela napas panjang dan memberikan semacam angkatan bahu dan suara tak jelas. “Apakah kamu meminta Marrisa melakukan hal itu tadi?” tanyaku balik, mengganti topik. Muka Ruth memerah dan ia mengangguk. “Oh. Well. Thanks.” ujarku, merasa canggung sekarang. Kita diam, aku menoleh ke arah lain, berusaha memikirkan apa yang bisa kukatakan. Ruth menunjuk lenganku, “Apa yang terjadi?”

“Aku jatuh.” Bohongku. Well. Tidak bohong. Ruth mengangkat alisnya, tampak ragu – ragu. Aku mengangkat bahu, “Cerita panjang. Dan agak tidak masuk akal.”
“Oh.” ujar Ruth pelan. “Hei, sori untuk bertanya tapi apakah aku bisa berhutang padamu? Aku akan membayarnya senin besok, aku bersumpah.” ujarku, menyadari aku perlu makan dan tempat untuk tinggal malam ini.

“Uh..” “Well, hanya untuk makan,” kataku berusaha terdengar meyakinkan. “Kita bisa makan bersama, aku akan membayar semuanya waktu senin. Jadi anggap saja aku mentraktirmu– cuma sementara pakai uangmu.” Fuck itu tidak terdengar meyakinkan sama sekali. 

Entah bagaimana, Ruth mengangguk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s