Ritual pt.6

Aku mengerling ke Ruth yang menyeruput es krim soda stroberinya dengan diam. Ia terlihat kecil. Rambut panjangnya yang coklat dan halus ia tidak ikat hari ini. Sesuatu yang aku sadari karena biasanya ia selalu mengepang mereka atau mengikatnya menjadi ikat satu. Aku ingat waktu SD Ruth menjadi selebriti ketika ia satu – satunya cewek yang bisa mengepang rambut dengan bagus. Semua cewek selalu ke mejanya dan meminta rambut mereka ia atur, dengan diam dan senyumannya ia akan selalu menerima.

Kurasa tidak banyak yang berubah sampai SMA. Setidaknya 5 cewek akan datang ke mejanya tiap pagi sebelum kelas mulai. Ruth mendongak ke arahku, matanya bertanya – tanya. Aku menoleh ke arah lain buru – buru, mengambil kentang lagi.

Setelah ia menyetujui ajakanku, kita pergi ke restoran cepat saji yang memiliki interior dan menu seperti mereka terjebak di dunia tahun 1950-an di Amerika. Lantai dengan keramik hitam dan putih yang mulai menguning. Burger, kentang, es krim soda dan root beer. Dan beberapa pandangan menghakimi dari pengunjung yang lain ke diriku. Kurasa kaki yang telanjang dan luka di sekitar lengan dan kakiku cukup untuk membuat siapapun bertanya – tanya.

interior

Ruth mengambil kentang dan aku menunduk menyadari sebuah kaca kecil tertanam di jariku. Aku menariknya keluar dan darah segar keluar. “Apa yang terjadi..?” tanya Ruth. “Sori?” tanyaku, mengangkat mukaku. Ia kelihatan takut. Aku menelan ludah, menyadari apa yang ia tanyakan, tetapi ia semakin memperjelas lagi, “Apa yang terjadi? Kamu memiliki serpihan kaca dan kamu tidak memakai sepatu jadi..” Suaranya memperpelan.

Aku menggaruk leher belakangku, mencari alasan.

Aku tidak bisa menemukan satu.

“Kamu tidak akan percaya jika aku mengatakannya.” kataku akhirnya, setengah menyerah. Ruth bakal memiliki begitu banyak topik untuk memblack-mail diriku. Setelah catatan dari Marrisa lalu sekarang ini. “Oh. Uh. Okay..”

Kita diam untuk waktu yang lama. Hanya bergantian memakan kentang. Kentang itu habis dan Ruth membayar (dengan aku berjanji akan segera menggantikan uangnya waktu Senin lagi). Lalu kita diam lagi.

“Apakah.. apakah kamu keberatan jika kamu ke rumahku dulu..?” tanya Ruth tiba – tiba.
“Apa?”
“Mak-maksudku..” Ruth terbata, mukanya merah padam, “Kamu terlihat benar – benar perlu kotak P3k dan beberapa plester di sini dan sana.. jadi.. um.. aku bukan memaksa atau semacamnya cuma, yah. Uh..” Suaranya semakin mengecil lagi.
“Uh.. yeah.” kataku akhirnya. “Aku akan sangat senang jika aku boleh meminjam P3k.”

Ruth tersenyum samar dan kita meninggalkan restoran itu. Berjalan kaki di trotoar. Diam lagi. Aku merasa tidak nyaman. “Kamu tahu, eh, aku hanya mau minta maaf. Untuk semua ini.” kataku. Ia menoleh kepadaku, heran. “Yah, er, aku ke taman itu lalu kalian terganggu. Dan kamu tidak jadi ikut menonton bersama mereka karena aku meminjam uangmu untuk makan dan — uh. Yah. Ini semua, intinya.”

“Oh. Um, aku tidak berniat nonton dari awal.” kata Ruth. Aku mengerjap, “Kamu tidak?”
“Tidak. Yah, mereka membelikan tiket untukku tetapi sebenarnya aku tidak tertarik. Aku hanya ikut karena Marrisa memaksaku ikut.” Ruth menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya, dan aku tiba – tiba sadar.
“Kenapa kamu meminta Marrisa melakukan itu?”potongku.
“Apa?”
“Marrisa menghentikan Frankie di taman itu. Tapi kamu yang meminta Marrisa melakukan hal itu.”
“Oh.”
“Kenapa?”
“Kita sudah sampai,” ujar Ruth buru – buru, setengah berlari ke pintu rumahnya, aku berhenti, menoleh ke rumahnya yang berwarna putih dan terang. Aku menyusulnya. Ia membuka pintu dan membiarkanku masuk sebelum menutupnya kembali. Rumahnya terasa hangat dan aman. Kakiku menginjak lantai kayu yang dingin. Ia mengunci pintunya sekali dan menggerendel dengan semacam rantai. Hanya 2. Sekilas aku membayangkan pintu rumahku. Dan kenop yang berputar dengan sendirinya. Aku merinding.

“Edgar,” panggil Ruth dengan pelan. Aku mengerjap, kaget. Ia sudah menaiki tangga yang persis di depan pintu. Dengan satu tangan ia memberikan signal agar aku mengikutinya. Aku mengekor. Ia membuka pintu kamarnya dan membiarkanku masuk, “Tunggu sebentar.” katanya dan menutup pintu. Meninggalkanku sendiri di kamarnya yang lumayan besar. Ada sebuah jendela besar hanya tertutup dengan tirai yang transparan. Langit gelap di belakangnya. Tangan pucat melambai ke arahku. 

Aku mengepalkan tanganku dan menoleh ke arah lain, menyadari queen size bed dengan banyak bantal di atasnya. Ada sebuah kursi sandar dengan warna yang senada dengan kamarnya yang berwarna coklat moccha dengan teddy bear yang duduk manis di atasnya, di seberang bed itu. Sebuah meja belajar dengan buku fisika terbuka di atasnya. Lemari buku yang penuh dengan novel – novel entah dengan genre apa. Sebuah meja rias yang bagus, dengan sebuah scrapbook di dinding dengan foto Ruth dengan teman – temannya. Kebanyakan dengan Marrisa.

Terlihat begitu feminim. Begitu normal dan bahagia dibandingkan dengan kamarku yang kosong dan dingin. Tanganku melewati buku – bukunya, mencoba mencari judul yang mungkin kutahu. Kebanyakan tetapi terdengar seperti buku – buku romansa fantasi yang lagi populer. Pintu kamarnya terbuka lagi dan Ruth masuk dengan kotak P3K. Ia memandangiku yang menyentuh salah satu bukunya. Aku menarik tanganku dengan buru – buru. Ruth berjalan ke tempat tidurnya dan duduk, menepuk – nepuk satu posisi di sebelahnya agar aku duduk di situ juga. Dengan ragu – ragu, aku mendudukkan diriku.

Ia menarik keluar sebuah penjepit dan mulai menarik keluar beberapa serpihan kaca yang rupanya ia dari tadi perhatikan di lenganku. “Ow,” kataku tak sengaja satu kali. “Sori!” serunya seketika. “Tidak apa – apa,”balasku. Aku menelan ludah, memandanginya yang mulai memasangi plester ke beberapa luka yang memanjang. “Apakah orang tuamu ada di rumah?” tanyaku pelan.
“Iya. Ada kakakku juga. Tapi kurasa menjelaskan keberadaanmu akan agak canggung dan mereka biasanya di kamar mereka sendiri – sendiri. Jadi, eh.. jangan keras – keras?” balasnya balik dengan pelan.
“Okay..” kataku lagi. Aku memegang tangannya untuk menghentikannya memasangi plester di salah satu lukaku, “Kamu akan kehabisan plester.” bisikku. Ruth memandangiku balik. Lalu ia pelan – pelan mengemas kembali kotak P3k-nya. Aku memandangi sekitar kamarnya lagi. “Apakah kamu bisa menjelaskan luka – luka ini ke orang tuamu?” tanya Ruth. Aku mengangkat bahu. “Ayahku lagi di luar kota,” Ruth mengangkat alisnya, “Oh?”
“Yeah.” Aku menelan ludah. Terdengar sederhana. Kita terdiam lagi. Lama. Aku menoleh ke jendela kamarnya lagi. Ia menoleh juga. “Kenapa?” tanyanya. “Tidak apa – apa. Cuma.. apakah  kamu keberatan jika aku menutup gordennya?” tanyaku. Ruth menaikkan alisnya, heran. Tapi ia menggeleng. Aku berdiri dan menutup gorden jendelanya, merasa jauh lebih lega setelah melakukannya.

Aku berdiri di depan gorden itu, memeganginya dan menyadari betapa aneh aku pasti di mata Ruth. Aku menahan napas dengan tajam dan mengepalkan tanganku dengan keras – keras.

“Kamu tahu tentang ayahku..?” tanyaku begitu pelan aku tidak yakin Ruth bisa mendengar. Tetapi ia menjawab dengan suara sama pelannya, “Ya..?”
“Jadi kamu tahu tentang ritualnya.” Aku membalikkan badanku, suaraku terdengar serak, agak pecah. “Bagaimana tiap malam ia akan mengunci pintu depan dengan gembok dan menutup semua jendela? Membarikade rumahnya sendiri tiap malam. Seisi kota tahu.”
Ruth mengangguk ragu – ragu.
“Yeah. Well, ketika ia pergi–” aku menelan ludah dan mengeluarkan kalimat berikutnya dengan setengah tertawa, “Aku tidak melakukan ritual ayahku.” Ruth memandangiku, tidak mengerti. Ia terlihat mulai takut. Aku bertanya – tanya apakah aku juga.

“Ruth.. aku tidak melakukannya. Dan aku tahu aku akan terdengar sama gilanya seperti ayahku, tetapi aku menyesal aku tidak melakukannya. Karena ini,” Aku menunjuk ke lenganku yang dipenuhi plester. “Ini akibatnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s