Ritual pt.7

Ruth memandangiku balik.

Dengan tatapan terkosong dan mata bening yang takut seperti mereka bisa menangis karena tidak mengerti. Ia terlihat kecil. Aku menyapu rambutku dengan jemariku. Apa yang kupikirkan menceritakan hal ini ke Ruth?

Aku terdengar gila. Aku mungkin memang gila. 

“Aku tidak mengerti.” Ujar Ruth akhirnya. Aku menunduk dan menghela napas panjang, “Yeah, kurasa aku juga tidak.”Aku mendekatinya dan duduk di bednya lagi, “Aku– aku melihat sesuatu di luar jendelaku kemarin.” Aku menelan ludah, tidak yakin bagaimana untuk melanjutkan. “Semacam tangan. Aku kira aku mengimajinasikannya atau semacamnya. Kemarin aku sangat capek entah kenapa. Aku terus mengira aku mendengar ketukan di pintu padahal tidak ada orang dan makananku hilang ketika kutinggal. Paginya aku menemukan piring pecah, tapi selain itu tidak ada bukti apa – apa lagi.”

Ruth memiringkan kepalanya, melipat lengannya seperti ia kedinginan. Aku berhenti, tetapi pandangannya menyuruhku melanjutkan. “Well. Begitulah. Lalu hari ini aku melihatnya lagi. Dan bukan cuma melihat.. kurasa apapun itu sudah masuk ke rumahku. Dan..” Aku menarik napas panjang, lalu mengatakannya nyaris tanpa spasi, “Akumelompatkeluarjendelaku.”

Ruth memandangiku.

Aku bertanya – tanya apakah aku juga harus perlu melompat keluar jendela Ruth untuk kabur sebelum ia menelpon rumah sakit jiwa.

Aku menunduk ke karpetnya, menyadari ada bekas berwarna oranye di salah satu ujungnya. Mungkin ketumpahan jus.

“Edgar..?” kata Ruth pelan. Aku menoleh kepadanya. “Apakah ayahmu tahu tentang.. semua ini?” tanyanya. Aku menggeleng. “Kenapa tidak? Jika mendengar ceritamu menurutku ayahmu seharusnya tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”Aku mengangkat bahu lalu menggertakan gigiku. “Mungkin.”

“Kapan ayahmu akan balik?”
“Besok malam. Atau lusa pagi.”
“Apa yang akan kamu lakukan hingga itu?”
“Entahlah. Aku berharap apapun yang di rumahku akan hilang dengan sendirinya, segera.” Ada perbedaan antara berharap dan berkhayal, idiot. 
“Okay.” ujar Ruth.

Ia tidak terdengar seperti menghakimiku. Jika apapun, suaranya terdengar menenangkan. Aku menarik napas panjang dan memejamkan mataku. “Sori.” ujarku. Tanpa memandangnya aku tahu ia mengerjap dan terlihat bingung. Mata bening yang besar dan muka kecil. “Kenapa?” tanyanya dengan pelan. “Aku pasti terdengar melantur tak jelas. Aku..” Aku berdiri, menelan ludah, memaksakan senyuman. “Aku seharusnya pergi sekarang. Sebelum membuang -buang waktumu lagi dengan cerita – cerita konyol ini. Terima kasih untuk semuanya, Ruth.”

Aku membalikkan badan tetapi sebelum aku sampai ke pintunya, lengan bajuku tertarik.

Aku menoleh, muka Ruth merah padam tetapi tangannya masih memegangi lengan bajuku. “Jangan pergi.” bisiknya. Aku terdiam.
“Aku tidak tahu apa yang kamu lihat. Tapi mungkin lebih baik kamu tidak pulang sekarang.”
“Aku tidak memiliki tempat lain.”balasku datar.
“Tapi kamu tidak ingin kembali ke sana, kan?” tanyanya, mengangkat mukanya.
“Tidak. Tapi aku tidak memiliki tempat lain.” ulangku.

Ruth masih tidak melepas pegangannya. Aku membalikkan badanku dan memegang tangannya. Jemarinya kecil tetapi hangat dan lembut. Aku merasa aku bisa mematahkan mereka hanya dengan memegangnya. “Biarkan aku pulang.” kataku.

“Kamu bertanya apa isi catatan untuk Marrisa, kan? Dan kenapa aku meminta Marrisa menyuruh Frankie berhenti tadi?” katanya. Aku mengerjap. Mengangguk tipis. “Aku tidak ingin mereka membully-mu.” Bisiknya. “Tapi aku terlalu takut untuk meminta mereka berhenti. Sekarang aku memberanikan diriku untuk melakukan apa yang kuinginkan sendiri.”

Ia menggenggam tanganku balik. “Aku tidak tahu apa yang kamu lihat. Tapi aku tidak mau kamu terluka.” Dan ia sungguh – sungguh. Aku tahu ia sungguh – sungguh. Dan satu – satunya hal yang ada di kepalaku hanyalah aku menceritakan kepadanya terlalu banyak dan aku harus berhenti sekarang karena lebih baik tidak melibatkan orang lain di apapun masalah ini. Apapun yang ada di rumahku sekarang adalah tanggung jawabku.

Jadi aku meremas tangannya. Dan melepaskannya. Dan meskipun ia menggeleng memintaku tidak pergi, aku keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan keluar dari rumah Ruth yang terang dan hangat.

Kakiku menginjak aspal yang dingin dan kasar dan pandanganku tertuju ke ujung jalan.

Lalu aku mulai berjalan pulang.

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Ritual pt.7

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: