Ritual pt.8

Rumahku satu  – satunya yang gelap di jalanan.

Gelap dan kaca sebelah pintu depannya pecah, serpihannya masih di sekitar semak – semak. Aku mendongak ke kamar ayahku, tempat terakhir aku melihat tangan itu melambai – lambai ke arahku. Tapi kamarnya gelap dan gordennya tertutup. Aku menelan ludah.

Dengan hati – hati, aku berusaha melompat masuk ke rumahku melalui jendela itu, berusaha menghindari pecahan kaca di sekitarnya. Aku merasa hembusan angin dingin dari luar sementara aku memanjat masuk dan bertanya – tanya bagaimana caraku menjelaskan ini ke ayahku besok.

Aku berhasil masuk kembali ke rumah. Setidaknya semua barang masih di tempatnya. Meski aku yakin aksi melompat keluar jendelaku membuat semua tetanggaku mengecek apa yang terjadi, tidak ada satupun yang mencuri benda – benda di sekitar ruang keluarga. Untuk sesaat aku merasa bersyukur aku tinggal di area dengan orang – orang yang terlalu ramah dan baik yang hanya suka menggosip di belakang punggungmu.

Aku menemukan saklar lampu dan menekannya. Tidak ada apa – apa. Aku mengecek pintu depan rumahku dan menemukan jumlah gembok yang kukunci masih lengkap. Hanya beberapa gembok yang lepas dengan sendirinya tadi masih berada di lantai. Aku menendang mereka. Tidak terjadi apa – apa. Di sebelah pintu aku melihat payung butut yang kita pakai jika perlu keluar saat hujan. Aku mengangkatnya dan menggenggamnya dengan seluruh jiwaku.

Aku menghembuskan napas pelan – pelan dan mulai berjalan pelan – pelan.

Dapur. Saklar ditekan. Lampu menyala. Kosong. Kakiku menginjak sesuatu dan aku menunduk untuk menemukan macaroni di lantai. Makan malamku kemarin. Aku melangkahi macaroniku dan berjalan terus. Tidak ada apa – apa di lantai 1.

Jantungku berpacu lebih kencang daripada seekor kelinci yang dikejar seekor burung hantu. Entah berapa kencangnya itu tapi aku jamin cukup kencang karena aku merasa aku bisa serangan jantung dalam hitungan detik. Kenapa otakku memikirkan hal – hal ini ketika aku gugup? Aku tidak bakal tahu.

Lorong lantai 2 kosong. Aku menggigit bibir bawahku. Dimana kamu? Aku tidak ingin melihat kamu disini tapi aku tetap tidak suka ini. 

 Aku membuka kamar ayahku. Menekan saklarnya buru – buru. Kosong. Tinggal kamarku. Atau kamar mandi. Aku bisa mendengar degup jantungku di telingaku, menulikan. Aku membuka pintu kamarku.

Hal pertama yang kusadari adalah jendela dengan kaca yang pecah.

Hal kedua adalah sosok gelap yang duduk dengan tenang di tempat tidurku.

Seakan – akan ia menunggu  kapan aku pulang. Kapan aku bakal membuka pintu.

Hal ketiga adalah sebelum aku sempat bereaksi, sebelum tanganku sempat menekan saklar yang persis di sebelahku, sebelum aku bisa mengangkat tanganku yang menggengam payung– sosok itu menyerangku.

Bukan menyerang. Lebih tepatnya hanya aku tiba – tiba terbutakan sementara sekujur badanku terdorong ke dinding. Tanganku mengayun tanpa arah, aku berusaha berteriak tapi tidak ada suara yang bisa keluar. Aku berusaha berdiri. Terhuyung – huyung. Punggungku menabrak pintu. Tanganku dengan panik menyambar mencari kenop. Aku menemukannya dan mendorongnya masuk dan terjatuh ke lantai ubin kamar mandiku yang dingin.

Lampunya menyala– aku tidak ingat menyalakannya.

Aku mengernyitkan mukaku, berusaha berdiri lagi. Ketika mataku akhirnya beradaptasi dengan terangnya lampu, aku melihat kaca jendela di pojok kamar mandi terbuka. Otakku berusaha memproses fakta baru ini. Aku menoleh dari kaca itu kembali ke pintu kamar mandi yang terbuka lebar dan sosok yang mulai merayap masuk.

Tidak sadar kapan aku menahan napas. Aku tersenggal – senggal menghirup sebanyak mungkin udara selagi masih bisa. Aku mengangkat payungku tinggi – tinggi dan berusaha menonjoknya lalu   PYAR

Bohlam lampunya jatuh berserakan. Aku tersesat di kegelapan lagi, tidak jadi membantingkan payungku dan aku merasakan sesuatu merayap di kakiku. Lalu menariknya. Aku tidak bisa menahan jeritanku sementara aku terseret. Aku menemukan batas antara pintu dan dinding kamar mandi dan berpegang padanya. Pintu itu terbanting tutup dan terbuka lagi, jemariku sempat terjepit dan aku bersumpah aku mendengar semacam krak yang pelan tapi aku tidak yakin karena degup jantungku begitu keras.

Aku berhasil menendang apapun yang menyeret kakiku untuk melepaskanku. Secepat yang aku bisa, aku mundur kembali ke dinding, aku menabrak sebuah meja dan berikutnya aku tergeletak di lantai. Aku membuka mataku untuk menyadari meja itu memiliki vas bunga di atasnya. Aku tidak ingat itu. Vas itu terjatuh dan mengenai kepalaku, serpihannya masih berserakkan di sekitarku. Aku berusaha berdiri untuk melihat apakah sosok itu masih mendekatiku, tapi aku tidak bisa.

Satu – satunya hal yang kubisa lakukan adalah mendengarnya semakin lama mendekat.

Di dalam kegelapan.

Tergeletak tanpa bisa bergerak.

Aku memejamkan mataku erat – erat. Menarik napas dengan gemetaran. Langkah kaki itu semakin mendekat. Aku membayangkan tangan pucat itu. Membayangkan sosok hitam yang menyeretku. Membayangkan sorotan mata yang tiba – tiba memandangiku balik– apapun mahkluk itu.

“Edgar?”

Aku membuka mataku untuk melihat ayahku. Mukanya pucat, seperti ia habis melihat hantu. Ia terlihat tua. Untuk sesaat aku bingung apakah harus merasa lega karena ayahku sudah pulang.. atau lega karena aku sudah mati dan ini pasti surga atau semacamnya.

Untuk pertama kalinya dari waktu yang sangat lama, aku memanggilnya, meski agak ragu – ragu. “Dad..?”

 * * *

Aku bangun di rumah sakit keesokan harinya. Kepalaku dibebat perban dan dokter berkata aku mungkin terkena gegar otak ringan karena vas bunga itu. Atau entah berapa kali aku menabrakkan kepalaku ke dinding dan lantai. Ia mengatakan begitu karena ketika ia bertanya kenapa aku meloncat keluar dari jendela rumahku aku berkata ‘Lari dari monster’. Meski diberi pandangan heran dan penuh simpatik ditambah dengan resep untuk obat tidur– aku masih yakin dengan apa yang terjadi di rumahku.

Secara teknis, Ruth menyelamatkanku. Setelah aku bersikeras pulang dari rumahnya, ia menelpon ayahku yang seketika pulang lebih awal. Perjalanannya membutuhkan 2 jam, nyaris 3. Aku tidak mengerti bagaimana waktuku di rumah dengan apapun yang berusaha membunuhku itu selama itu.

Ayahku menelpon rumah sakit seketika setelah menemukanku. Ia tidak senang dengan fakta aku tidak melakukan ritualku. Semua usahaku untuk menanyakan apa sebenarnya mahkluk itu tidak ia jawab. Jujur saja, aku tidak terlalu memaksanya. Aku tidak terlalu ingin tahu. Tiap aku memejamkan mataku bayangan tangan pucat itu ada. Aku terbangun beberapa kali mengira mendengar ketukan sepelan apapun hingga gedoran pintu. Kakiku kadang terasa seperti ditarik sendiri.

Mungkin tidak tahu lebih baik.

Ruth datang beberapa kali saat aku di rumah sakit.

Mukanya merah padam ketika ayahku berterima kasih karena langsung menelponnya begitu tahu apa yang terjadi denganku, berkata “Anakku beruntung memiliki seorang wanita yang menjagainya sepertimu.” Aku memberikan ayahku pandangan ‘Tolong jangan pernah mengatakan hal – hal semacam itu lagi’. Tapi terlambat. 

Di sisi lain, aku merasa lega ia mengunjungiku. Untuk pertama kalinya aku memiliki perasaan aku bisa mempercayakan sesuatu kepada Ruth dan tidak perlu takut diblack-mail. Ia bertanya tentang apa yang terjadi malam itu dan aku hanya mengangkat bahu. Karena jujur saja, aku tidak terlalu mengerti sendiri.

Kurasa cerita ini berakhir dengan agak anti-klimatik. Tapi aku seorang yang anti-klimatik yang kebetulan memiliki pengalaman dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan sains. Beberapa orang akan mengira pengalaman semacam ini akan mengubah hidupmu. Satu – satunya yang berubah hanyalah aku sekarang nyaris sama paranoidnya seperti ayahku dan aku butuh obat tidur untuk bisa tidur tenang.

Mungkin itu yang terbaik.

Aku berusaha memikirkan itu sementara aku menelan 2 pil obat tidur dan memejamkan mataku erat – erat. Berusaha tidak mendengar ketukan di balik pintu  kamar rumah sakitku. Dan tangan putih yang melambai, di balik jendela kecil pintu itu. Menantiku untuk melihatnya dan kembali lagi ke rumahku. Rumah dengan pintu dengan 7 gembok, 1 kunci kombinasi, sebuah balok kayu dan jendela yang tertutup dengan kertas agar tidak ada yang bisa melihat masuk.

Dan tidak ada yang bisa melihat keluar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: