Toleransi

Aku tidak tahan dengan hubungan ini lagi.

Itu masalahnya.

Aku mendecakkan lidahku. Pandanganku tertanam ke air di panci. Mulai mendidih.

Dia masuk ke dalam ruangan. Membuka kulkas. Menarik keluar cake. Mengecup pundakku sembari menarik piring.

Aku tidak tahan dengan caraku harus tersenyum terpaksa ketika ia melakukan itu.

Airnya mendidih. Aku mematikan kompor dan menuangkan air ke dalam poci teh. Menunggu airnya berubah kecoklatan.

Ia mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Aku sengaja memperlambat tiap gerakanku. Mengulur – ulur waktu agar tidak harus duduk di seberangnya dan memandangnya.

Aku tidak tahan.. tidak lagi.

Aku menuang teh ke 2 cangkir dan membawanya ke meja makan.

Duduk di seberangnya. Memundurkan kursiku sedikit agar ada lebih banyak jarak di antara kita.

Aku tidak tahan dengan hubungan ini lagi.

Aku mendongak.

Ia menangis.

Itu masalahnya.

Aku tidak tahan dengan hubungan ini lagi.

Tapi aku lebih tidak tahan melihatnya menangis.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: