Kontak

“Hei.”

“Terapisku berkata aku akan merasa lebih baik jika aku menelponmu, tapi itu agak susah, eh?” Aku tertawa canggung. Menggaruk belakang leherku.

“Sesuatu dengan ‘mengontak seorang teman’ dan ‘menyelesaikan masalah – masalah yang tidak terselesaikan’ atau semacamnya. Entahlah. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memiliki seorang terapis.”

Aku menghela napas panjang dan memutar bola mataku. “Ini bodoh. Ini semua salah Henry sebenarnya. Berkata ‘Kau akan merasa lebih baik jika kamu menceritakannya ke seseorang. Pergilah ke terapis, mungkin akan membantumu’ blablabla. Ia tidak pernah berhenti menelponku tiap hari sejak–” Aku berhenti.

Berdeham.

“Anyway. Itu tidak penting. Apa kabarmu?”

Hening. “Kamu selalu membenci basa – basi.” Gumamku pelan.

“Aku menemukan cewek lain, omong – omong. Aku tidak tahu kenapa aku menceritakan ini kepadamu, tapi, uh.. yeah. Dia keren. Baik. Kurasa. Entahlah. Kita baru pergi kencan beberapa kali. Masih belum serius. Ia menanyakan tentangmu sekali dan aku belum menjelaskannya.”

Aku menghembuskan napas panjang, “Jika kamu menyebut ‘belum menjelaskannya’ itu sama dengan membentaknya dan menjadi sangat over-dramatis tentang seorang mantan pacar. Aku rasa hubunganku dengannya tidak akan kemana – mana. Dia tidak pernah menelponku lagi sejak itu. Sama sepertimu sebenarnya.”

“Menjengkelkan bahwa kamu masih mensabotase hubunganku ketika kita sudah tidak bersama lagi.” ujarku.

Aku menelan ludah, mulai kesulitan untuk menemukan kata – kata.

“Aku tidak ingin berkata apa – apa lagi. Terapisku berkata hal semacam ini akan terjadi jika aku menelponmu tapi kurasa ia salah. Kurasa aku bakal menemukan semua kata – kata yang sempurna jika aku menelponmu dan tidak– tidak ini.” 

Aku memandangi fotonya. Di tanganku. Air mata semakin menggenang.

Aku mengeluarkan tawa terpaksa bersamaan dengan tetesan pertama yang jatuh. “Kamu tahu ini bodoh bahwa aku masih tidak bisa mengatakannya ke terapisku atau ke Henry, atau ke siapapun.” Aku menarik napas gemetaran dan tertawa terpaksa lagi. “Semua orang bisa melihatnya dan aku masih tidak bisa mengatakan bahwa aku masih mencintaimu.”

Senyumanku menghilang bersamaan dengan kenyataan yang menghantamku, kalimat itu keluar dari bibirku dan segala penyesalan yang pernah kurasakan. ” Tapi kamu sudah dikubur dan aku masih tidak tahu bagaimana aku bisa berhenti mencintaimu.”

Advertisements

3 thoughts on “Kontak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s