Partner Finder pt.1

Ada sebuah app baru yang aku ingin coba sejak pertama keluar. Aku sudah menginstall-nya di iPhone-ku tapi ini pertama kalinya aku benar – benar menggunakannya.

‘Partner Finder : Find a partner for any occasion!’

Aku menarik napas panjang dan membuka pilihan occasion-nya. Jempolku melayang di atas pilihan ‘Travelling’. Lalu aku menekannya.

‘Where are you going?’

Aku menggigit lidahku dan memutuskan mengisi kolom di bawahnya dengan “Anywhere as long as we part ways at the destination’s airport.

Jariku menekan ‘Find Partner!’

Halamannya berganti ke loading screen. Aku menelan ludah dan membisik, “Aku sudah gila.” Ke diriku sendiri. Aku kembali tiduran di kasur, membuang hp-ku ke satu sisi. Memejamkan mataku.

Lalu HP-ku bergetar. Aku mendudukkan badanku dengan kecepatan kilat, merebut HP-ku dan membukanya dengan tidak percaya.

We found you a partner!” ujar layar hp-ku, di bawahnya ada sebuah profile picture dan username dari orang yang mau menemaniku pergi dari sini.

“Omigod,” aku berseru, tidak percaya ada yang bahkan mau pergi denganku dengan deskripsi sebodoh itu. Aku mengklik profile picturenya– hanya sebuah gambar kartun robot, salah satu pilihan profile picture default dari app-nya. Aku mengklik username-nya. ‘jacketGuy29’. Sebelum aku bisa melakukan apa – apa, ia membuka chat denganku di direct message.

eqnabi

Dan dalam hitungan detik. Dia mengajakku ke airport. Tanpa mengatakan namanya. Tanpa bertanya kita ke mana. Dan aku menjawab ya.

Aku baru menyadari betapa bahaya ini semua ketika aku sudah di taxi, memeluk tas dan menggenggam passport, dengan koperku berisi baju dan barang – barang yang buru – buru kujejalkan ke dalamnya.

Ketika aku sampai di airport, aku menarik turun koperku, berjalan ke counter untuk membeli tiket dan berhenti. Aku seharusnya bertanya ke si ‘partner’-ku dia juga mau kemana, kan? Aku membuka lagi HP-ku dan mencarinya.

Ketika aku mengangkat mukaku, aku melihat seorang lelaki. Tinggi. Tapi aku dikenal sebagai seorang gadis yang pendek, jadi kurasa itu tidak berkata banyak. Wajahnya bermuka asia, tetapi rambutnya agak kecoklatan. Aku bertanya – tanya apakah ia mengecatnya seperti aku. Aku menelan ludah ketika ia semakin mendekat, dan entah kenapa aku tahu bahwa ia tahu. Ia partnerku. Si jaket biru.

Ia mengangkat satu tangannya dan aku melambaikan tanganku.

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan dari seseorang yang langsung mau menemani seseorang yang asing ke sebuah tempat dengan spontan. Ia terlihat lelah, dari tadi ia tidak tersenyum, aku memiliki pikiran aneh bahwa ia jarang melakukan hal itu.

Hi.” ujarku.

Hey.” katanya. Ia tidak membawa koper apapun. Hanya sebuah backpack yang tidak terlihat penuh sama sekali.

Uh, where you wanna go?” tanyaku, menoleh ke arah counter yang masih sepi.

I thought you said anywhere is fine,” ujarnya.

I did,” kataku defensif. “I was just wondering if you might have somewhere in mind.

Well, let’s just decide in front of the counter.” katanya, mengedikkan kepalanya ke arah counter sambil berjalan ke arahnya. Aku mengekor, merasa sedikit canggung.

Flight yang paling awal adalah 2 jam lagi, ke sebuah kota di Yunani. Aku tidak tahu Yunani terletak di mana di peta, dan sebelum aku bisa berpikir dua kali, aku memutuskan kita akan pergi ke situ. Kita menyerahkan passport kita dan itulah ketika aku menyadari–

“Kamu juga dari Indonesia?” tanyaku. Ia menoleh kepadaku, tidak berekspresi. Butuh beberapa detik hingga ia berkata, “Ya.”

“Oh wow. Dunia itu kecil.” ujarku, tersenyum atas kebetulan ini.

Dia mengangkat bahu, “Kurasa. Kita harus cek-in.” katanya dengan suara sedingin es kutub utara. Aku mengikut di belakangnya. Merasa agak malu entah kenapa.

Kita cek in dan menemukan tempat duduk yang kosong di salah satu toko kopi yang ada. Kita membeli kopi sendiri – sendiri lalu duduk berseberangan. Aku mencuri pandang kepadanya. Akhirnya aku bertanya, “Jadi.. kita belum berkenalan..?”

Dia mengerling kepadaku dari kopinya, berdeham lalu berkata, “Uh. Yeah. Aku si jacketGuy29.”

“Well, jika kamu ternyata bukan, aku akan sedikit heran.” kataku sarkastik. Dia mengangkat bahu lagi dan meneguk kopinya. “Kurasa kamu tidak mau bertukar nama, kalau begitu?” tanyaku.

Dia mengangkat bahu, “Aku tidak merasa perlu menceritakan aku siapa. Tapi jika kamu keberatan aku tidak masalah memberikan namaku. Apalagi mengingat aku tahu namamu.”

“Sori, apa?” tanyaku, heran.

“Namamu. Juliette?” ujarnya.

“Oh. Itu hanya username-ku. Namaku bukan itu.” kataku.

“Oh. Well. Kurasa kita berdua tidak tahu nama satu sama lain kalau begitu. Apakah kamu masih mau berkenalan?”

Aku menggelengkan kepalaku dan menghela napas panjang, “Tidak usah. Jika kamu ingin menjaga privasimu. Panggil saja aku Juliette. Meski aku rasa ‘jacketGuy29’ tidak terdengar enak untuk sebuah nama.”

Ia meneguk kopinya lagi, tidak menjawabku. Dia sangat teramat diam untuk seorang lelaki.

“Biru, mungkin?” ujarku, memikirkan nama paling aneh yang bisa kuasosiasikan dengannya dengan harapan ia akan menawarkan nama lain.

“Aku tidak keberatan dipanggil Biru.” Oh wow, lelaki ini eksentrik.

“Okay then.. BIRU..” aku menelan ludah, mengernyitkan dahiku, “Kamu sering travelling?”

“Tidak juga.”

“Oh. Kukira untuk seseorang yang membalas requestku secepat itu, kamu tipe yang suka travelling.”

“Hm. Kurasa orang – orang bisa berpikir seperti itu.” Lalu ia diam lagi.

“Sering memakai Partner Finder, kalau begitu?”

“Hm. Lumayan.” ujarnya.

Aku tidak menanya apa – apa lagi. Ia mengecek arlojinya. Aku juga. 5 pagi.

Kita saling diam sepanjang sisa waktu kita di toko kopi itu.

Aku tidak suka jika tidak ada suara sama sekali, pikiranku terus kembali ke hal – hal yang berusaha kulupakan. Aku mengenyahkan pikiranku sendiri dan berusaha sibuk memerhatikan Biru. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam kantong jaketnya sementara yang satunya memegang botol kopinya.

Ia memandang botol itu dengan seluruh perhatiannya. Mukanya masih tidak berekspresi. Lalu tiba – tiba ia menoleh kepadaku, aku memutuskan tidak menoleh ke arah lain dan tetap memandanginya.

Kita saling pandang. Aku bertanya – tanya siapa yang bakal menoleh dulu.

Dia mengejutkanku dengan hal yang sama sekali lain. Ia berbicara. “Kamu pernah ke Yunani, Juliette?”

“Tidak.” kataku. “Tapi aku tahu mereka memiliki banyak gedung – gedung bagus, jadi aku tidak keberatan ke sana. Bagaimana denganmu?”

“Tidak, aku tidak pernah ke sana. Kurasa kau berencana untuk menjadi turis di sana?”

“Kurasa kita berdua bakal menjadi turis selama di sana, kan?”

Biru mengangkat bahu. Tidak berkata apa -apa. Ia kembali menunduk ke botol kopinya. Aku menoleh ke arah lain, memerhatikan toko di seberang kita. Beberapa menit kemudian, ia akhirnya berkata, “Aku tidak akan di sana lama.”

Aku menoleh kepadanya. “Sori?”

“Aku hanya mengantarmu ke sana. Setelah kita sampai sana aku akan berusaha mencari tiket kembali ke sini.”

Aku mengerjapkan mataku. “Apa?”

Advertisements

8 thoughts on “Partner Finder pt.1

    • omg aku nggak bermaksudd!! Ada cowok di kelasku yang selalu pake jaket biru dan jaketnya mirip sama punyaku jadi aku selalu nganggep jaket biru cocok untuk seorang karakter haha ><

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s