Partner Finder pt.2

Biru mengangkat bahu.

Aku berusaha memproses apa yang ia barusan katakan kepadaku. “Buat apa kau melakukan itu? Aku tidak perlu diantar jika kamu tidak ingin ke sana—“ kataku buru – buru.

“Hei, itu sebuah kebohongan. Jika kamu tidak perlu diantar kamu tidak akan menggunakan Partner Finder.”

Aku terdiam.

Ia meneguk habis kopinya dan berdiri, “Sudah saatnya masuk ke ruang tunggu.”

Aku berdiri juga dan berkata, “Kenapa kamu mau melakukan hal ini?” tanyaku. Biru menoleh kepadaku, “Kenapa kamu mau ke Yunani tiba – tiba?” Aku membuka mulutku tapi tidak menemukan kemampuan untuk menjawabnya. Aku menutup mulutku dan menelan ludah.

Biru kembali menoleh ke depan, berjalan. Ketika kita sampai di depan ruang tunggu, aku menggapai jaket biru-nya dan menghentikannya. Ia menoleh kepadaku.

“Aku—aku tahu ini akan terdengar menyedihkan,” aku tertawa terpaksa, menelan ludah dengan susah payah. “Tapi aku merasa lebih baik aku mengatakannya sebelum aku masuk ke ruang tunggu dan pergi dari sini.”

Biru membalikkan badannya, memandangiku. Aku melepas peganganku dan menarik napas panjang, “Aku memiliki banyak masalah belakangan ini, dan aku merasa aku perlu keluar dari kota ini. Aku merasa pergi dari sini, melakukan sesuatu yang bodoh dan tidak dewasa seperti pergi ke Yunani dengan seseorang yang tidak kukenal akan membuatku menemukan jawaban – jawaban untuk beberapa masalahku.”

Aku menelan ludah lagi dan mendongak untuk memandangnya persis di mata. Ia memandangiku balik. “Well. Kurasa aku melakukan hal ini untuk alasan yang kurang lebih sama.” Katanya, ia membenarkan posisi tas ranselnya dan mengedikkan kepalanya ke ruang tunggu di sebelah kita. “Kamu masih mau melakukan hal bodoh dengan orang yang tidak kamu kenal ini?” tanyanya.

Aku tertawa sedikit, menyadari betapa absurd kalimat itu. Tapi aku mengangguk. Dan kita berjalan masuk, bersebelahan.

Kita mendapatkan tempat duduk bersebelahan, tanpa orang di sebelah kita. Dia masuk duluan dan memilih tempat duduk di sebelah jendela. Ia menawarkan permen karet dari tasnya sebelum kita lepas landas. Aku menerimanya, kita mengunyah bersamaan dengan munculnya awan di jendela sebelahnya.

“Perjalanannya 6 jam.” Ujarku kepadanya setelah telingaku beradaptasi dengan tekanan udara.
“Hm.” Balasnya. Ia mengambil majalah pesawat dan mulai membacanya. Aku melongokkan kepalaku dan melihat artikelnya.
“Apakah itu Bali?” tanyaku, menunjuk ke foto – foto resort yang memukau di sebelah laut.
“Bukan. Thailand.”
“Oh. Yah, kurasa Thailand juga punya banyak resort bagus.” Kataku.

Aku kembali menghadap ke depan, sedikit bosan.

“Kamu pernah ke Thailand?” tanyanya tiba – tiba. Aku menoleh kepadanya, agak terkejut. “Iya. Sekali dengan teman – teman.”

“Oh.”
“Kamu pernah ke sana?”
“Tidak.”
“Kamu pernah ke mana saja?”
“Bali. Semarang beberapa kali waktu SMA dengan teman – teman.”
“Kalau di luar Indonesia?”
“Uh. Aku pernah ke Paris. Sekali.” Matanya menerawang jauh sesaat.
“Aku tidak pernah ke Paris.” Kataku.
Ia berkedip dan menoleh ke depan lagi, memasukkan kembali majalah pesawatnya, “Tidak sebagus yang orang – orang katakan, jujur saja. Dan kamu bakal dikeremuni dengan penipu – penipu yang bakal merampokmu jika kamu memutuskan membeli souvenir di pinggir jalan atau semacamnya.” Ia membenarkan posisi duduknya dan merosot sedikit di kursinya.

“Terdengar seperti tempat yang cocok untuk seorang petualang.” Kataku.

Ia mendengus sedikit, “Yeah. Aku memang pergi dengan seseorang yang suka berpetualang.

Aku menaikkan alisku, “Jadi kamu tidak suka?”

“Bukan tidak suka,” katanya agak defensif, “Cuma….” Ia terdiam mencari kata – kata yang tepat. Aku menunggu. Biru menghela napas panjang dan akhirnya berkata, “Entahlah. Dia berhasil membujukku untuk pergi waktu itu.”

Kalimat itu terdengar seperti sebuah pengakuan dosa.

Aku memutuskan lebih baik tidak bertanya lebih. Kita terdiam lagi hingga seorang pramugari datang dan mulai membagikan makanan pesawat. Kita mendapatkan semacam ayam tak jelas dengan kentang yang kering.

“Aku tidak pernah suka makanan pesawat,” gumamku.
“Mmh. Aku juga. Kurasa tidak pernah ada yang suka.” Tanggap Biru. Aku sibuk memikirkan akan menanyakan dia apa lagi ketika dia mengeluarkan sebuah earphone dan memasukkannya ke dalam telinganya lalu memejamkan matanya. Untuk beberapa menit aku memikirkan apakah aku sebaiknya merasa tersinggung atau tidak. Aku memutuskan untuk tidur juga, hanya saja aku tidak bisa tidur. Aku melipat lenganku, memejamkan mataku.

Ketika terasa seperti selamanya, akhirnya aku berdiri dan ke kamar mandi.

“Tidak apa – apa. Tidak apa – apa kok, cuma,” aku mengecek arlojiku, “4 jam lagi. 4 jam lagi di pesawat ini, lalu kamu akan sampai di Yunani. Lalu kamu akan di Yunani dan—“ Aku berhenti. Memandangi diriku di cermin. Aku terlihat menyedihkan.

Alasanku pergi adalah ‘Menyelesaikan masalah – masalahku’. Bagaimana jika aku di sana dan mereka malah bertambah? Aku memejamkan mataku.

“Kamu sungguh kekanak – kanakan, kamu tahu itu? Kamu tidak bisa lari dari masalahmu terus.”

“Aku tidak lari.” Gumamku, kepadanya di kepalaku. Aku menarik napas gemetaran, mendengar lagi suara kecewa dari kakak dan ibuku ketika aku memutuskan mengambil pekerjaan di luar negeri daripada tinggal di rumah.

Aku menghembuskannya pelan – pelan, masih memikirkan fakta bahwa aku yakin semuanya akan baik – baik saja karena dia akan ada di sana—membisikkan bahwa ia akan mencintaiku selamanya ketika kenyataannya setahun kemudian ia meneriakkan bahwa ia tidak akan pernah mau melihatku lagi.

Aku menarik napas dalam lagi, tapi air mataku menggelinang dan aku ingat aku menangis begitu keras ketika ia pergi dan aku memutuskan pekerjaan bodoh itu tidak sebagus yang kukira dan aku meninggalkannya di waktu terburuk di hidupku. Karena kemudian aku terjebak di apartmenku, sendirian tanpa memiliki niat dan tanggung jawab cukup untuk melakukan apapun.

Aku membuka mataku lagi, menyadari aku terlihat lebih menyedihkan daripada sebelumnya dengan mata merah dan hidung beringus. Aku menyalakan keran, mencuci tanganku dan mencipratkan air ke mukaku dengan harapan eyeliner waterproof-ku benar – benar bekerja.

Aku menarik napas panjang dan keluar, merasa lebih buruk daripada sebelum aku masuk di toilet. Aku menemukan kursiku dan duduk—melihat Biru yang buru – buru menutupi HP-nya, ia menutup aplikasi video dan meluruskan kembali HP-nya.

Aku memandanginya dengan heran, ia menoleh kepadaku dan—

“Apakah kamu habis menangis?”
Sial! Kenapa kamu penasaran sekarang? “Tidak, ada sesuatu di mataku tadi.” Ujarku, klise. “Apa itu tadi di HP-mu?” tanyaku, mengganti topik.
“Bukan urusanmu,” ujarnya, sedikit kasar. Aku menelan ludah, mendecakkan lidahku dan memutuskan, aku tidak dalam suasana hati yang cukup baik untuk membiarkan kalimat itu lewat tanpa balasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s