Gadis di Bis pt.1

“Ada sesuatu yang benar – benar salah denganmu,” ujar Bianca ke Theo.

Theo menoleh ke adik perempuannya yang cemberut ke arahnya. Adik sama yang orang – orang selalu mengira sebagai kakaknya bukan adik karena bagaimana Theo selalu menurut dan mengikuti kata Bianca daripada dia yang memimpin.

“Hmm. Kurasa.” balas Theo dengan sedikit tidak acuh. Bianca semakin geram.

“Kamu tahu kamu kemungkinan kamu akan bahkan melihatnya lagi itu super kecil?”tanya Bianca. Theo mengangkat bahu, menaikkan ristleting jaketnya lalu membuka pintu rumah dan tetap keluar.

Ia berjalan ke halte bis terdekat.

Theo sering naik bis.

Ia naik bis untuk ke kuliah, ia naik bis untuk ke pekerjaan paruh waktunya. Ia naik bis untuk pulang.

Jadi bisa dibayangkan ia pernah sebis dengan berbagai macam orang. Tapi hanya satu yang ia ingat dengan jelas, satu yang tidak akan pernah ia lupa. Si gadis yang menangis di bis 190.

Theo pulang kerja agak malam karena rekan kerjanya tidak masuk hari itu. Ia naik bis, kedinginan kena hujan dan capek, dan memejamkan matanya.

Ia terbangun, 5 hentian setelah seharusnya ia turun. Tidak yakin ia dimana, kepala masih berputar, ia melihat sesuatu di ujung matanya. Seorang gadis yang duduk di serongnya.

Gadis itu terlihat biasa saja, kecuali fakta bahwa ia menangis.

Sulit melihat muka gadis itu dari posisinya, tapi Theo bisa melihat ia mengusap air mata sesekali dan sesenggukan pelan bersama dengan guncangan pundak yang konstan cukup memberitahu Theo gadis itu 100% menangis.

Theo menoleh ke belakang, hanya ada seseorang lain di belakagnya, pandangannya terpaku kepada jendela bis.

Theo menoleh ke depan lagi dan melihat gadis itu mengusap mukanya lagi. Theo membuka mulutnya lalu menutupnya lagi.

Bis mereka berhenti.

Theo menelan ludah dan berpikir untuk duduk di sebelah gadis itu untuk bertanya. “Apakah kamu tidak apa – apa?” “Hei, kamu nggak apa – apa?” “Ada masalah?” “Mau tissue?” “Apakah kamu perlu bantuan?” Berdeham lalu menaikkan alis? 

Bis mereka berjalan lagi dan Theo menoleh ke arah jendela, memutuskan tidak menghiraukan gadis itu. Ini kota besar. Menunjukkan kamu peduli kadang bisa membuatmu rugi sendiri di jaman sekarang.

Lalu belokan berikutnya bis mereka berhenti di sebuah halte dan gadis itu berdiri, mengangkat tasnya dan menoleh ke Theo.

Theo sedikit melonjak ketika mata mereka bertemu.

Lalu gadis itu menoleh ke depan lagi dan turun dari bis. Theo memandang ke luar jendela, memerhatikan sosok gadis itu mengecil dan menghilang. Ia bersumpah gadis itu juga memandanginya balik.

Sejak hari itu, Theo menghabiskan waktu luangnya hanya naik bis ke manapun, dengan harapan ia akan bertemu gadis yang menangis di bis 190 itu.

Advertisements

One thought on “Gadis di Bis pt.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s