Gadis di Bis pt.2

Theo semakin melorot di kursinya. Lampu bis menyala, menandakan sudah jam 6 malam.

Persis dengan menyalanya lampu bis, layar HP-nya menyala.

Theo membuka lock screen-nya.

Chat dari Bianca.

“Mau sampai kapan kamu di luar?”

Theo memandangi chat itu sebentar. Mendongak dan melihat ke seisi bis. Muka – muka lelah ingin pulang. Ada seorang nenek yang tertidur di bagian depan bis.

Tidak ada tanda dari si gadis yang menangis.

Theo menunduk lagi, mendapati chat lain dari Bianca.

“Gak usah pulang sekalian -_-“

Theo mendengus dan tersenyum kecil. Bianca selalu berkata itu. Theo berdiri dari kursinya dan turun di halte bis berikutnya. Lalu ia menaiki bis lain untuk pulang ke rumahnya. Butuh satu jam hingga akhirnya ia sampai di halte bis terdekat dan berjalan pulang.

Ia memasukkan kunci dan membuka pintu rumah, berhadapan dengan Bianca yang melipat lengannya dan cemberut.

“Bukannya kamu ada kelas besok?” tanya adiknya.

“Iya.” jawab  Theo, melepas jaketnya dan menggantungnya di sebelah pintu.

“Ini jam berapa?”

Theo mengedikkan kepalanya ke jam yang menempel di dinding ruang tamu. “Tuh.”

“10 malam, Theo.”

“Thanks infonya.”

“Coba kutebak.. belum makan juga?”

Theo masuk ke ruang makan, ada tudung saji di atas meja. Theo mengangkatnya. Satu piring nasi dan semangkok sop merah di sebelahnya.

Theo duduk di kursi dan menarik mereka mendekat.

“Dipanasin dulu.” tegur Bianca.

“Nggak apa – apa kok dingin. Thank you sudah nyimpenin.”

Bianca memutar bola matanya lalu duduk di seberang Theo.

“Kamu mau apa sih?” tanya Bianca.

Theo mendongak dari sopnya. Bianca masih cemberut. Mukanya yang kecil terlihat lebih kecil dengan rambutnya yang pendek dan tebal membingkai wajahnya.Ia memakai baju tidur. Seharusnya Bianca siap – siap tidur daripada duduk menasehati kakaknya seperti ini, besok ia ada sekolah juga. Theo mengangkat bahu lalu melahap sopnya.

“Aku serius, Theo.” Bianca melipat lengannya lagi dan bersandar ke kursi. “Kamu mengharapkan apa dengan melakukan hal bodoh ini?”

Theo mengangkat bahu lagi, mengunyah nasi.

“Mungkin cewek itu cuma mengalami hari buruk aja. Dia tidak butuh seseorang seperti kamu untuk datang mencarinya seperti ini.”

Theo mengangkat bahu, berdiri dan membawa piring dan mangkoknya ke bak cuci di sebelahnya dan mulai mencuci.

“Kamu membuang – buang waktumu.”

“Hmm, kurasa.” balas Theo akhirnya.

Bianca bergumam, “Astaga!” dan menggeleng – gelengkan kepalanya. Ia berdiri dan naik ke kamarnya, menghentakkan kakinya sedikit keras supaya Theo tahu ia marah.


Theo sudah berusaha mencari gadis yang menangis di bis 190 itu selama 3 bulan dan 15 hari.

Yang tahu hanya Bianca, adiknya yang luar biasa keras kepala dan cerewet dan sangat menentang ide ini.. dan Kevin.

“Jadi kamu sudah menemukannya hari ini?” tanya Kevin, mukanya penuh jerawat dan giginya yang berkawat nyengir lebar. Theo mengkuik layarnya dan menemukan bahwa layarnya tidak kotor, memang ada kotoran di gigi Kevin. “Belum.” jawab Theo, kembali bersandar ke kursinya. Kevin terlihat kecewa berat.

Sahabatnya yang sekolah di luar negeri itu sering menelponnya via Skype. Tiap hari pertanyaan pertamanya selalu sama. Apakah gadis itu sudah ditemukan.

Kevin seseorang yang mudah jatuh cinta, terlalu mudah. Mungkin itu alasan dia rela membuang semua kenyamanannya di rumah dan pergi belajar sastra di luar negeri. Dia jatuh cinta dengan fakta bahwa membuang segalanya dan memulai sesuatu yang baru adalah sesuatu yang romantis.

“Jangan putus asa, kamu akan menemukannya suatu hari!” ujar Kevin, mengepalkan tangannya dan tersenyum begitu lebar. Ia cocok sebagai motivator di TV.

“Bianca berkata aku tidak akan pernah menemukannya.” ujar Theo, mengangkat kakinya ke kursi.

“Adikmu tidak pernah dilanda asmara.”

Theo mendengus, membayangkan Bianca dengan seorang lelaki. “Mungkin ia pernah tapi tidak pernah bilang aku.”

“Kenapa? Takut cowoknya lari gara – gara kamu?” ujar Kevin dengan nada paling mencemooh.

“Hei, aku masih kakaknya.” protes Theo. Kevin tertawa.

“Untuk cewek tipe Bianca, ia tidak akan pernah mau ditaklukkan. Cewek sepertinya itu seperti gunung berapi. Tidak semua orang mau bersamanya. Tapi yang mau akan terlalu setia dan tidak mau meninggalkan–“

“Kamu lagi bikin makalah tentang adikku?”

“AKU INI BERUSAHA PUITIS! MANA MUKAMU MAU AKU SEPAK!”

Theo nyengir. Di setiap hari ia tidak bisa menemukan si gadis yang menangis di bis nomor 190 selama 3 bulan dan 15 hari ini, ia setidaknya selalu dihibur oleh Kevin. Kevin yang sudah ada sejak sebelum 3 bulan dan 15 hari ia mencari, dan yang ia harap akan selalu ada bahkan setelahnya.

Advertisements

2 thoughts on “Gadis di Bis pt.2

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: