Gadis di Bis pt.3

“Kamu tahu kenapa kamu bisa menangis?”

Theo mengangkat pandangannya yang menempel di buku. Dosennya lagi menanya pertanyaan itu ke anak yang duduk di barisan paling depan.

Anak itu menoleh ke belakangnya, “Tidak, kamu. Aku bertanya kepadamu.” Anak itu menoleh ke depan lagi, tertawa gugup.

“Tidak tahu?”

Anak itu menggeleng.

“Bagaimana denganmu?” tanya dosennya ke anak yang duduk di sebelah kirinya.”Kamu tahu kenapa kamu menangis?”

Anak itu menggeleng juga.

“Ada  yang tahu?” tanya si dosen. Seorang anak di ujung kelas membolak – balik halaman dengan kecepatan kilat, berusaha mencari jawaban di buku paket mereka. Beberapa mulai membisik satu dengan yang lain.

Theo mengangkat tangannya. Si dosen yang hampir membalikkan badan, memutar lagi, tersenyum. “Ya?”

Sekelas menoleh kepadanya.

“Kita menangis karena otak kita tidak bisa menangani emosi yang terlalu banyak. Otak kita lalu memberi signal untuk mengeluarkan emosi itu dengan cara menangis.”jawab Theo.

Dosennya menepuk kedua tangannya, “Ya, benar. Tapi sebenarnya, ada lebih dari satu teori yang menentang hal itu, salah satunya diperkenalkan oleh Rottenberg yang mengadakan tes dimana orang yang setelah menangis TIDAK merasa lebih baik. Jadi apa gunanya menangis? Ini bisa kita kaitkan dengan—”

Theo sudah membenamkan hidungnya di bukunya lagi. Ia tahu banyak tentang menangis, meskipun ia jarang melakukannya.

Ia tahu tentang teori itu juga, bahwa sebenarnya menangis tidak membuatmu merasa lebih baik. Teori itu aneh di kepalanya. Bahwa tubuh manusia bisa overdosis dengan emosi hingga satu – satunya hal yang bisa dilakukan adalah mengeluarkan air mata. Dan itu tetap tidak membantu.

Ia bertanya – tanya jika bahkan menangis tidak membantu, apa gunanya menghibur orang yang menangis?

Theo menekan bolpennya, mencoret – coret asal di ujung bukunya. Ia sudah membaca semua teori yang ada tentang menangis dan menghibur orang yang sudah menangis, tapi sudah 3 bulan dan 15 hari.

Dan ia masih belum menemukan gadis yang membuatnya melakukan semua riset itu.


Bianca menutup pintu kamarnya dan duduk bersila di lantai, membuka laptop yang ada di meja kecil.

Ia mengetik tugas laporannya, berusaha konsentrasi.

Sekitar 15 menit lewat, ia mendongak ke arah jam. 8 malam. Bianca membuka HP-nya. Theo belum membalas.

Bianca heran kenapa ia bahkan menanyakan kabar kakaknya. Isi chatnya hanya dari sisinya dia. Theo nyaris tidak pernah membalas. Kalaupun membalas cuma ‘y’ atau ‘ok’.

“Semua lelaki sama saja,” gumam Bianca sinis. Menutup HP-nya dan kembali mengetik.

Sejam lewat dan sebuah notification dari Skype menyala di ujung kiri bawah layarnya. Kevin Tan is online. 

Bianca menoleh kembali ke dokumen di tengah. Mengetik 2 kalimat lagi. Ia berhenti. Berpikir sebentar. Ia mendongak ke jam. Mengecek HP-nya.

Lalu ia membuka skype dan menekan tombol untuk menelpon Kevin.

“Halo?” ujarnya ketika koneksinya terhubung.

“Hei Bibi,” ujar Kevin. Nyengir lebar. Bianca mengerjap.

“Jangan panggil aku itu. Dan gigimu ada kotorannya.” Kevin menggunakan lidahnya dan mencoba membersihkannya. Kotoran itu malah semakin terdorong ke depan. Bianca meringis. Melihat hal ini membuatnya geli.

Kenapa kamu menelpon?” tanya Kevin, masih berusaha membersihkan gigi dengan lidahnya di sela – sela kata yang ia ucapkan.

“Kamu skype tiap malam dengan kakakku.”

Terus? Jealous?” cemooh Kevin.

“Jujur saja jika kalian pacaran aku lebih bahagia daripada kalian sekarang HTS gini.” balas Bianca datar.

Kevin berhenti tersenyum sesaat, memutar bola matanya. “Apa yang kamu mau, Bibi?

“Kamu tahu tentang delusi bodohnya dengan cewek di bis itu kan?”

“Oh. Yeah, kenapa?”

“KAMU TAHU?!”

Yeah, obviously. Kamu serius manggil aku HTS sama dia tapi gak nyangka kalau aku tahu semuanya tentang kakakmu?

Bianca menarik napas panjang, “Dia belum pulang, semakin lama kurasa ia semakin parah, jujur saja. Ia mengejar sesuatu yang tidak ada.

“Kakakmu tidak gila, jika itu yang kamu khawatirkan.” 

“Bagaimana kamu seyakin itu?” tanya Bianca, menyipitkan matanya.

Kevin mengangkat bahu, gerakan paling menjengkelkan yang Bianca tahu dan tampaknya semua cowok tanpa tulang belakang bisa lakukan– lalu Kevin membalasnya.

“Karena ia sudah menemukan cewek itu.”

Bianca mengerjap. Untuk sesaat itu mengira internet connectionnya error sehingga kalimatnya Kevin juga kacau.

“Halo?” ujar Kevin setelah beberapa saat diam.

“APA?” balas Bianca.

“Oh, kukira disconnected.”

“APA MAKSUDMU IA SUDAH MENEMUKANNYA?!”

“Iya kan. Kayak, 2 minggu setelah kejadian?”

“APA?!”

“Hoooo.. Jadi kamu belum tahu?”

“TENTU SAJA AKU TIDAK TAHU, TERUS NGAPAIN DIA SEKARANG?! APA YANG TERJADI?!”

Kevin nyengir, “Aku bilang ke Theo kalau kamu pasti bakal bereaksi seperti ini jika ia tidak segera cerita ke kamu.

“Vin, WTF–“Bianca mendengar pintu depan terbuka. Ia menoleh ke arah pintu.

Theo pulang.

“Theo pulang!” ujar Bianca, ke dirinya sendiri, ke Kevin yang bersiul rendah dan ke kamarnya yang hanya membalas dengan bunyi detik jam dinding.

“Katakan halo dariku,” ujar Kevin, ke Bianca yang berdiri dan lari keluar kamar. Kevin memutar bola matanya, memutus koneksi Skype bersamaan dengan suara kaki lari menuruni tangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: