Gadis di Bis pt.4

“KAMU SUDAH MENEMUKANNYA?!” teriak Bianca seketika.

Theo berhenti membersihkan sepatunya di keset. Bianca memandanginya balik. Ia tidak terlihat marah, mulutnya yang selalu cemberut itu ternganga.

Sedikit aneh untuk akhirnya melihat adiknya menunjukkan emosi lain dari marah dan kecewa kepadanya.

“Menurutmu?” tanya Theo balik, menekan sepatunya dengan kakinya agar lepas.

“Theo, aku serius–” Theo mendorong kedua sepatunya menempel ke rak sepatu di sebelahnya.

“Yeah.” balas Theo, mulai melepas jaketnya.

Bianca berhenti, “Yeah? Yeah apa? Yeah kamu sudah menemukan cewek menangis nggak jelas itu? Yeah kamu orang bodoh? Yeah kamu membuang semua waktumu? YEAH AP–”

“Yeah aku menemukan cewek itu. Di bis yang sama, jam yang sama. Dia membawa koper yang terlihat terlalu penuh dan memakai 3 jaket.”

Bianca terdiam, tidak mengerti.

Theo mengangkat bahu, “Aku menduga ia putus dengan pacarnya, atau mungkin kabur dari rumah dan itu semua baju – bajunya.”

“Terus?” tanya Bianca, kepalanya tidak bisa memikirkan hal lain untuk ditanya.

“Terus dia turun, di halte bis yang berbeda dari sebelumnya. Dan aku tidak pernah melihatnya lagi sampai sekarang.”

“Kamu tidak berbicara dengannya?”

“Tidak.”

“Kenapa? Kukira kau mencarinya untuk membantunya atau hal bodoh lain—”

“Dia terlihat tidak membutuhkanku.” ujar Theo, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. “Dia tidak menangis ketika aku melihatnya lagi.”

“APAKAH ITU PENTING?!” teriak Bianca, Theo nyaris melompat, tidak menduga Bianca bakal berteriak.

“Bianca, ssh-”

“AKU TIDAK AKAN DIAM THEO, KAMU SERIUS MENGHABISKAN BERBULAN – BULAN HANYA UNTUK–” Bianca berada di depannya sekarang, menunjuk jarinya ke dada Theo, Theo berusaha tidak mundur. “UNTUK.. UNTUK.. UNTUK ENTAH APA YANG KAMU LAKUKAN! Kamu serius menganggap dirimu seorang pahlawan atau semacamnya? Kamu merasa kamu spesial? APA? Kamu marah? Dengan fakta bahwa cewek cantik di bis yang KEBETULAN kamu kelihatan itu ternyata TIDAK membutuhkanmu? Bahwa kamu bukan pangeran dengan kuda putihnya?!”

“Aku–”

“KITA TIDAK SPESIAL, THEO!”

“Aku tahu itu,” gumam Theo pelan. Bianca tidak menghiraukannya.

“KITA TIDAK SPESIAL, DAN CEWEK ITU TIDAK SPESIAL, DAN TIDAK ADA ORANG DI DUNIA INI YANG SPESIAL! KITA SEMUA ORGANISME TIDAK MEMILIKI TUJUAN DI SINI DAN BERUSAHA MELAWAN FAKTA ITU ADALAH SESUATU YANG BODOH DAN—”

“Sssh–”

“AKU TIDAK AKAN DIAM!”

“Aku tahu, ok Bianca?” ujar Theo dengan tenang. Bianca semakin marah, ia tidak paham kenapa Theo tidak kembali berteriak.

“TERUS KENAPA?!”

“Karena aku memerlukannya.”

Bianca membuka mulutnya dan menutupnya kembali, tidak tahu harus membalas apa.

Theo mengangkat bahu, Bianca melotot. Bahu Theo melorot. “Aku memerlukan gadis di bis itu. Karena sebelumnya aku merasa bahwa aku bisa saja membantunya dan aku tidak dan hal itu membuat aku sadar sesuatu tentang diriku. Bahwa aku bisa saja menjadi orang yang berbeda dan dia juga dan dunia ini tidak akan sama untuk entah siapa banyak orang lagi jika aku hanya berdiri dan berkata sesuatu. Tapi aku tidak.”

Theo menggaruk dagunya, “Entahlah, sejak hari itu hal itu berada di kepalaku terus. Bahwa aku bertemu dengannya itu lebih menunjukkan siapa aku sebenarnya daripada dia. Aku merasa lebih mengenal diriku lebih baik— sekarang aku tahu bahwa jika ada sesuatu yang terjadi aku tidak bisa terlalu lama berpikir atau aku akan terlambat. Sekarang aku sadar bahwa semua orang di bis memiliki kehidupan sendiri – sendiri, mereka bukan cuma muka, mereka juga orang.”

Bianca melipat lengannya.

“Entahlah, aku memerlukan diriku untuk naik bis – bis itu. Karena gadis di bis 190 yang menangis itu membuatku sadar bahwa aku tidak mengenal diriku sebaik yang kukira.”

“Aku mengenal dirimu, kamu bodoh, itu dirimu.” gumam Bianca.

Theo tersenyum, “Tuh kan? Aku tidak bakal tahu itu jika aku tidak bertemu dengannya.”

Bianca mendengus.

“Kamu tidak perlu naik bis tiap malam, membuang semua waktu dan tenagamu mengejar sesuatu yang TIDAK ada untuk mengenal dirimu, Theo.”

“Aku rasa. Tapi aku merasa aku memerlukannya. Jadi sampai aku merasa nyaman dengan pikiranku sendiri, aku tidak bakal berhenti melakukannya.”

“Kamu bodoh.”

“Hmm.”

“Kamu membuang waktumu.”

“Kamu menyisakan makanan?”

Bianca mengeluh keras – keras dengan kesal, mengangkat kedua tangannya dengan frustrasi. “AKU MENYERAH!” Teriaknya, memutar badannya dan menaiki anak – anak tangga lagi.

Theo melewati ruang tamu dan masuk ke ruang makan. Gadis di bis itu mengajarkannya hal – hal baru tentang dirinya. Tapi ia sekarang menyadari hal – hal lain tentang sekitarnya juga.

Seperti fakta bahwa selalu ada sepiring di bawah tudung saji di meja makan tiap ia pulang tidak tepat waktu.

“PANASI SEBELUM KAMU MAKAN!” teriak Bianca dari lantai 2.

“Dingin juga tidak apa – apa.” balas Theo, duduk di kursi.

Bianca membanting pintunya tutup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: