WC#14 : Opinimu tentang Orang Tua dan Anak – Anak

Hai semua!

Aku kembali dengan Writing Challenge dengan topik berat kali ini : orang tua dan anak – anak. Post ini lumayan terinspirasi dari post ini :

Inti post itu : si penulis merasa orang tua jaman sekarang tidak mau mendengarkan anak  – anak mereka dan menganggap hobi main game itu kekanak – kanakan, ini menyebabkan anak – anak jadi nggak mau cerita apa yang mereka lakukan ke orang tuanya padahal di game itu dia mengembangkan kreativitas dan orang tuanya tidak tahu sama sekali.

Post ini mendapat 49.000 lebih notes (likes/reblogs) di Tumblr, jadi ada 49.000 pengguna Tumblr yang setuju bahwa hal itu tidak baik, dan itu mendorongku untuk membicarakan opiniku tentang hal itu. Aku masih remaja dan aku nggak punya pengalaman menjadi orang tua, jadi obviously aku cuma bisa ngomong dari sisiku sebagai seorang anak saja. Aku juga punya keluarga yang super super super mendukung hobi dan pilihanku. Orang tuaku selalu berkata ‘Pilih apapun yang bikin kamu happy, kalau kamu happy itu yang paling penting’ (dengan syarat dan ketentuan berlaku, contoh: jangan pergaulan bebas dan kawin lari sama cowok dari Eropa yang ngedrugs dan ngerokok) 

contoh hal yang tidak disetujui oleh orang tuaku

Aku super beruntung karena mendapatkan keluarga seperti ini, karena jujur saja ada BANYAK orang tua yang memaksa anak – anaknya melakukan sesuatu yang anaknya tidak suka karena itu mimpi mereka, atau melakukan physical/mental abuse, dll, dst, dsb.

Dulu aku mengira semua keluarga yang KDRT, baik dengan teriak – teriak maupun main fisik, itu bukan keluarga yang benar, dan orang tua yang melakukan hal itu tidak peduli dengan anaknya sama sekali. Antara itu, atau orang tuanya merasa itu hal yang harus mereka lakukan untuk masa depan anaknya yang baik, jadi mereka sebenarnya salah tapi melakukannya karena mereka sayang anaknya.

Sekarang dunia tidak sehitam-putih itu lagi bagiku. Kadang ada orang tua yang cara mendidiknya baik – baik saja, tapi memiliki anak yang depresi berat. Kadang ada orang tua yang salah total cara pengajarannya, tapi anaknya lalu jadi sukses karena didikan keras macam itu. Jujur saja semuanya tergantung situasi dan kondisi keluarga secara individu.

Andai semua masalah keluarga bisa diselesaikan dengan pelukan

Aku dulu selalu memiliki prinsip ‘kamu harus baik kepada orang tuamu karena sejahat apapun mereka, mereka masih orang tuamu‘. Hal ini berubah karena jika memang hubungan orang tuamu kepadamu sangat buruk dan merusak, secepat mungkin kamu bisa hidup sendiri semakin baik. Jadi jika aku dulu yakin 100% remaja yang kabur dari rumah dan memilih hidup sendiri dan menolak berbicara dengan orang tuanya itu anak durhaka, sekarang aku memastikan dulu apakah mereka punya alasan.

Di jaman sekarang, kekerasan fisik di keluarga, meski masih banyak, lebih mudah dideteksi dan cenderung langsung ditangkal, jadi aku bakal nge-skip bagian itu. Kalau kamu sengaja mukul anakmu dan mendapat rasa puas dari situ, ndang tobat 😡

Kekerasan mental jauh lebih rumit dari itu. Aku pernah lihat sekali seorang mama yang berusaha mengerti anaknya yang punya penyakit depresi. Mamanya membiarkan anaknya home-school atas permintaan anaknya, menyertakan anaknya ke dokter dan psikiater dll dst, jadi aku sempat mikir wah, bagus dong mamanya ngerti anaknya memang butuh bantuan. Lalu anak ini cerita bahwa mamanya masuk ke kamarnya dan bicara panjang lebar. Intinya nanya ‘kamu masa tiap pagi bangun langsung merasa depresi? Harusnya kan nggak kayak gitu. Jangan terlalu khawatir buat hal – hal yang nggak perlu dikhawatirkan.. tiap nggak yakin langsung doa saja 😀

Dan anak ini nuangis parah, dan dia merasa bersalah tapi juga frustrasi karena depresi itu nggak bisa dimati-nyalain kayak cetekan lampu gitu.

Reaksiku mbaca post itu

Jujur saja, di kehidupan nyata aku kemungkinan besar bakal jadi mamanya, karena aku cenderung gagal paham sama orang yang depresi. Jadi di kondisi macam itu, menurutku mamanya memang perhatian, sayang dan mau mengerti anaknya, jadi secara teknis mamanya ini nggak melakukan kekerasan mental, tapi nyatanya anaknya tetap merasa tertekan.

RUMIT KAN?!

Jadi menurutku supaya keluarga itu harmonis, seperti semua hubungan di dunia ini, adalah KOMUNIKASI

Untuk anak – anak : JANGAN MENGANGGAP ORANG TUAMU TIDAK BAKAL MENGERTI. Orang tuamu dulu juga pernah muda. Kamu nyontek pas ulangan? Kemungkinan besar orang tuamu yang menciptakan teknik nyontek yang kamu pakai. Kamu galau pacaran? Orang tuamu kemungkinan besar punya daftar mantan yang cara mutusinnya lebih dramatis daripada sinetron.

Menyembunyikan hal – hal yang kamu suka, apalagi jika hal itu hal normal, adalah hal yang bullshit di mataku. ‘aku suka nge-dance, tapi tiap papaku  masuk kamar pas aku lagi nari, aku bakal pura – pura jatuh dan ngelap lantai’ GILA APA. Coba bicarakan baik – baik sama ortumu lah. Ngomong itu juga harus dibicarain baik – baik. Jangan sambil mezzo – mezzo, ceritakan kenapa kamu suka, kenapa hal itu baik menurutmu, positif negatifnya. Buat supaya bahkan orang paling skeptis pun bisa melihat apa yang kamu suka itu menyenangkan.

Di sisi lain, jangan selalu ngarep orang tuamu bakal mengerti ataupun menerima hobimu. Minimal kamu sudah cerita ke mereka kalau kamu suka itu jadi mereka sudah tahu. Nggak bakal ada adegan dramatis waktu papamu bilang ‘APA, KAMU SUKA NGEDANCE DAN SUDAH IKUT KOMPETISI DANCE YANG PAPA NGGAK TAHU SAMA SEKALI JADI KAMU NGGAK BISA IKUT KE ACARA KELUARGANYA PAPA YANG PAPA NGGAK CERITA KE KAMU JUGA?! DURHAKA KAMU!

Intinya kalau kamu nggak cerita, ujung – ujungnya bakal lebih rumit.

Orang tua, ingatlah bahwa anak – anakmu itu juga punya kehidupan mereka sendiri. Apa yang menurutmu bagus buat mereka belum tentu yang terbaik. Kalau mereka interestnya beda total sama kamu, lumayan sedih seh, tapi tugasmu itu untuk sebaik mungkin mendukung dan mendorong mereka untuk bisa menjadi orang dewasa yang baik. Dapet uang banyak dan jodoh itu cuma plus poin.

Sesulit apapun, menurutku orang tua juga harus belajar dikit tentang apa yang anaknya suka. Mamaku nggak ngerti jalan ceritanya Naruto, tapi mamaku tahu itu tentang ninja dan namanya anime (dan kemungkinan besar nggak peduli), tapi kalau aku cerita dengan antusias Naruto akhirnya berhasil mbikin rasengan mamaku ikut bilang ‘yee’.

Apalagi dengan internet sekarang yang super terbuka, orang tua harus lebih proaktif untuk tahu apa yang lagi dilihat sama anak – anaknya. ‘Halah anakku umur 9 cuma nonton youtube orang main game, nggak apa – apa lah

Sementara itu :

Congrats, anak – anakmu tiba – tiba lancar mezzo pake inggris.

Again, ini nggak berarti kamu harus melarang anakmu nonton youtube, karena itu nggak bakal berhasil. Tapi kamu harus ngerti konten yang kamu biarkan anakmu lihat, dan kamu harus mengajari anakmu untuk cukup dewasa untuk nggak meniru apapun yang mereka lihat.

Inti post ini, SERING – SERINGLAH MAKAN MALAM BERSAMA SUPAYA BISA NGOMONG DENGAN KELUARGAMU LEBIH SERING. ASEK, AYOK MAKAN BARBECUE RAME – RAME

Sekian

Advertisements

One thought on “WC#14 : Opinimu tentang Orang Tua dan Anak – Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s