Astronot

“Aku terlihat payah,” ujarnya dengan kesal. Aku menoleh ke arahnya.

Rambutnya berantakkan, matanya lesu dan lingkaran di bawah matanya sebanyak lingkaran planet di Bima Sakti. Gemerlap bintang malam bisa kutemukan di memar yang muncul di lututnya karena tadi menabrak dinding kamar mandi.

Rok putih yang ia pakai kusut tidak jauh berbeda dari tumpukan dari baju yang harus disetrika di atas sofa tempatku duduk. Tali bahu-nya jatuh, menunjukkan pundak yang kecil yang mengintip seperti mathari di balik awan.

Aku mengambil tangannya dan mengecupnya, membau lavender dan bau manis dari sabun batang yang ia pakai. Meletakkan tanganku ke dagunya yang mulus, menikmatinya rasanya yang seperti bintang jatuh dan komet di langit— sesuatu yang hanya bisa kau nikmati sekali seumur hidup.

Aku ingin berkata bahwa ‘payah’ adalah hinaan terburuk untuk seseorang sepertinya, yang bisa memuat semua keindahan dari luar bumi.

“Kamu tidak terlihat payah,” kataku sebagai gantinya, karena astronot tidak pernah benar – benar bisa mengatakan kata yang tepat untuk mendeskripsikan keindahan luar angkasa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

BBMagz!!

review and quotes

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

%d bloggers like this: