Jatuh

Aku jatuh.

Tidak, aku tidak jatuh cinta, se-romantis apapun itu, ceritaku tidak se-klise itu.

Aku jatuh di tangga sekolah, terpleset dan kehilangan keseimbanganku, menabrakkan kepalaku ke lantai dan membuat siapapun di radius 5 meter kaget. Aku berusaha berdiri, dengan tangan gemetaran dan kepala sakit. Kukira sahabatku bakal tertawa habis – habisan tapi kali ini ia terlihat khawatir dan malah ikut membantuku berdiri. “Kamu tidak apa – apa? Hei, hei, berdiri–”  ujarnya dengan panik. Aku pasti terlihat buruk hingga bahkan ia melakukan itu. Aku baru menyadari kenapa ia begitu khawatir ketika tanganku menyentuh pelipisku dan ada darah yang ikut.

Beberapa anak berseru melihatku, darah mulai mengucur dan ada beberapa sudah menetes di tangga. Aku mengerjap, melihat seorang anak perempuan di depanku yang menempel ke dinding, berusaha sejauh mungkin dariku.

Bahkan di kondisiku yang agak disorientasi aku tetap ingat bahwa dia sangat overdramatis. Siapa yang masih takut melihat darah di jaman sekarang, sih?

Sahabatku tertawa gugup dan membuat candaan jayus, caranya untuk membuat dirinya merasa lebih tenang. Dia membopongku ke UKS, dimana seorang suster membersihkan luka dan memasang plester di pelipisku. Dia berkata aku bisa saja gegar otak ringan dan aku harus hati – hati lain kali.

Aku tertawa gugup bersama sahabatku. Kita keluar dari UKS dan melewati tangga itu lagi, menyadari darahnya masih ada di situ. “Heh, mereka harus segera membersihkan ini kecuali mereka mau orang – orang mengira terjadi sesuatu di sini.” kata sahabatku, aku tertawa dan berkata, “Yeah, seperti si cewek tadi yang langsung nempel ke dinding.”

Sahabatku memandangiku heran, “Cewek siapa?”

“Cewek tadi, ketika aku jatuh. Dia di tangga dan langsung nempel ke dinding, kayak takut melihat darah sesedikit itu.”

Sahabatku memandangiku heran, “Tidak ada siapa – siapa tadi.”

Aku mendengus, “Jika ini caramu untuk menakut-nakutiku, kamu gagal total. Ada cewek itu dan ada setidaknya beberapa orang lagi yang agak rame waktu aku jatuh.”

“Aku tidak berusaha menakut – nakutimu. Kamu yang gegar otak, bodoh. Kita kan lagi kabur dari kelas, tidak ada siapa – siapa di sekitar kita karena kelas – kelas masih pelajaran.”

Aku mengerjap.

Karena aku masih mendengar dan melihat siswa – siswi lalu lalang.

Keesokan harinya aku sudah kembali normal, tapi sejak hari aku jatuh aku berhati -hati kalau naik-turun tangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s