Gerimis

Kamu semakin mendekat, memastikan tanganku semakin memelukmu dari belakang. Kamu menyundulkan rambutmu ke bawah daguku. Aku mengangkat leherku, geli, tapi tidak terlalu banyak, karena aku tidak mau kamu tersinggung.

Suara air hujan yang pelan terdengar di luar jendela kamarmu, aku menoleh ke jendela sesaat, hanya bisa melihat segaris dari langit yang meneteskan gerimis pelan, tertutup dengan gorden putih.

Kamu mengeluarkan erangan sambil meregangkan badan, mendongak, tersenyum lebar ke arahku. Lalu sebelum aku siap, kamu menciumku.

Sedikit kaget, tapi aku tidak menolak.

Kamu melepas ciumanmu, meninggalkanku sedikit memohon untuk lebih. Tapi kamu tidak suka memanjakanku dan dengan senyuman sedikit licik menutup matamu dan menyandarkan kepalamu ke leherku.

Kamu menghela napas panjang.

Aku mendengarkan air hujan di luar jendelamu.

Untuk sesaat kita seperti satu – satunya orang di dunia ini.

 

 

 

 

 

TUMBEN ROMANTIS,
MENENG’O

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

BBMagz!!

review and quotes

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

%d bloggers like this: