Berpapasan

Aku melihatnya di jalan yang panas, kita berpapasan.

“Jen?” panggilku, entah bagaimana bisa mengumpulkan cukup keberanian untuk memanggilnya.

Dia menoleh, mata melebar, “Connor!”

Aku menemukan diriku tersenyum sedikit, dia mengingatku! Dia berhenti, mendekat ke arahku. “Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini!”

“Yeah, aku sudah lama tidak ke area sini.. kamu masih sering ke sini?”

“Aku kerja di cafe di bawah gang itu,” katanya menunjuk ke sebuah cafe kecil di ujung jalan, aku bisa melihat ujung payung – payung besar yang digunakan untuk meja di luar.

“Cafe itu? Wow, ingatkah kamu kita dulu sering minum teh bersama setelah kelas di sana?”

“Haha.. yeah, well sekarang mereka tidak menjual teh lagi.” kata Jen, memegang kalungnya.

“Apa? Kamu tidak serius, teh mereka yang terbaik!”

“Well, si manager tidak setuju, kita hanya menjual kopi dan cake sekarang..”

Aku mendecak agak kecewa. Jen masih terperangah, “Sedang apa kamu di sini? Aku sudah begitu lama tidak melihatmu!”

“Yeah.. hanya kebetulan lewat saja–”

Dia tersenyum, masih terlihat kaget dan agak gugup. Tangannya masih bermain dengan kalungnya yang pendek, hanya setulang lehernya. Bentuknya lingkaran kecil. Aku menoleh ke arah lain, menyadari aku juga gugup. Ini percakapan paling canggung di antara kita yang bisa kuingat. “Jadi, apa yang kamu lakukan belakangan?”

“Uh.. kamu tahu.. hal – hal kecil.” Kataku, menggaruk leher belakangku, “Aku part-time di supermarket dekat rumahku. Dan menerima pekerjaan untuk rekaman video orang menikah, kadang..”

“Masih suka videografi, kalau begitu, eh?”

“Yeah, lumayan,” kataku, tertawa canggung. “Bagaimana denganmu? Aku nyaris tidak mengenalimu, kamu bertambah cantik..”

“Oh, berhenti membual. Aku bertambah gendut dan mukaku bertambah aneh sejak SMA dan–” Jen melepas pegangannya ke kalungnya, memegang pipinya.

“Hei, hei, itu tidak benar!”

Jen tersenyum, “Kamu selalu so sweet, kamu tahu itu, Connor?”Hatiku melompat seketuk. Aku tersenyum kembali.

“Aku merindukanmu,” kataku tanpa berpikir. Air mukanya berubah seketika. Begitu cepat hingga aku bisa merasakan senyumanku pelan – pelan memudar.

“Kenapa kamu tidak pernah menelponku kalau begitu?”

“Jen,” kataku, dengan tenggorokan tercekat. “Aku minta maaf.”

Jen mendengus sedikit, “Aku tidak apa – apa sekarang, Connor. Cuma.. well,” dia menghela napas. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu menghilang , Connor! Aku menelpon dan mengirim SMS dan ke rumahmu dan orang tuamu berkata kamu pindah? Dan tidak ada seorang pun yang tahu kamu ke mana!”

Aku menelan ludah dengan susah payah. “Aku..” aku mencoba tertawa, mengecilkan hal yang bakal kukatakan, “Well, aku hanya memerlukan waktu sendiri saja.”

“Waktu sendiri?” ulang Jen, suaranya sama skeptis dengan orang tuaku 3 tahun lalu.

“Aku hanya.. aku hanya tidak bisa lagi,  kamu tahu?”

“Tidak, Connor, aku tidak tahu. Aku begitu panik dan bingung, tidakkah KAMU tahu??”

“Aku tahu, aku menyesal sekarang.. Aku tidak menyangka aku bakal pergi begitu lama.” kataku, menelan ludah. “Aku hanya.. aku tidak bisa berada di rumahku lagi, dan melihat semua orang, dan merasakan semua tekanan itu, dan kukira aku hanya butuh beberapa hari sendiri tapi..”

“Beberapa hari? Connor kamu hilang selama bertahun – tahun!”

“Aku tahu! Aku tahu, Jen.. aku yang melewati tahun – tahun itu sendirian, okay? Dan aku menyesal tapi aku kembali sekarang. Dan aku tahu agak aneh untuk kembali setelah bertahun – tahun tanpa kabar tapi di sini aku sekarang.” Aku tertawa kecil, Jen memandangiku dengan tidak percaya.

“Aku di sini sekarang,” ulangku, untuk diriku sendiri. “Dan hari ini kita bertemu, dan tidakkah itu berarti sesuatu? Bahwa aku baru saja kembali dan kita kebetulan berpapasan?”

“Connor..”

“Jen, aku tahu ini bakal terdengar egois, tapi–”

“Kamu benar, ini terdengar SANGAT egois, Connor. Apakah kamu mengira dunia berhenti berubah selama kamu pergi?”

Aku menelan ludah, “Aku mencintaimu, Jen,” kataku pelan. Jen menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia menghela napas. “Aku dulu mencintaimu juga, Connor. Tapi kamu menghilang dan–”

Jen tersenyum sedih, “Well, aku harus move on, setelah mencoba dan menunggu sekian lama, kan?” Jen memegang kalungnya lagi.

Aku baru benar – benar memerhatikan bentuknya. Lingkaran. Berwarna silver. Seukuran dengan jarinya yang kurus. Aku memandangnya dengan kosong.

“I’m so sorry, Connor..”

Aku tahu aku harusnya mengatakan ia tidak harus meminta maaf. Aku tahu aku yang salah, menghilang dan tidak mengatakan apa – apa. Aku tahu dia tidak tahu kenapa aku menghilang. Aku tahu dia tidak akan mengerti rasanya untuk melihat semua orang dan hanya memikirkan dasar laut yang dingin dan merasa seperti tenggelam setiap aku menarik napas. Aku tahu dia berhak mendapatkan orang lain.

Tapi yang kukatakan adalah, “Kau berkata aku satu – satunya,” dengan nada menuduh dan sakit dan menetes dengan patah hati.

“Itu dulu, Connor, dan..”

“Dan itu tidak berarti lagi? Dan KITA tidak berarti lagi, Jen?” Tanyaku. Muka Jen merah padam. “Aku tidak pernah mengatakan itu! Aku tidak pernah mengatakan kamu tidak berarti..”

“Tidakkah kamu berpikir untuk menunggu?”

“Aku menunggu, Connor! Aku sudah menunggu tapi aku tidak bisa menunggu selamanya, dan kamu menghilang tanpa alasan–”

“Tidakkah kamu bisa membayangkan aku pergi kuliah? Di luar negeri? Tidakkah kamu akan menungguiku jika aku melakukan itu?”

“Kamu tidak pergi kuliah, Connor, kamu menghilang tanpa alasan! Aku tidak bisa bertahan–”

“Well, TERIMA KASIH, karena tidak bisa bertahan lebih lama.” Kataku, memutuskan untuk membalikkan badan dan berjalan pergi sebelum aku mulai menangis dan hatiku semakin mencelos, dan aku memutuskan untuk menghilang lagi.

“Connor!” panggil Jen.

Aku merasakan mataku pedih. Dan aku ingin terus berjalan karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan, tapi kakiku berhenti. Aku menoleh.

Jen berhenti mengejarku. Beberapa langkah dariku. Aku menelan ludah dan menahan air mataku, memaksakan sebuah senyuman, “He’s a lucky guy, Jen.

Jen tersenyum pahit. Dan aku ingin berkata terima kasih yang benar. Terima kasih bahwa dia sempat mencintaiku dulu. Bahwa di masa – masa tergelapku aku membayangkan senyumannya kadang, dan itu kadang membantu.

Tapi aku membalikkan badanku, dan meninggalkannya.


Inspired by : Flatsound – If We Could Just Pretend

Advertisements

2 thoughts on “Berpapasan

Add yours

    1. Hai, thanks for asking! 😀 Sebenernya terserah kamu mau melihat alasannya itu sebagai apa. Mungkin pribadinya dia dari sananya yang penakut, atau karena dia ada mental-illness yang membuat dia dapat anxiety atau depresi, atau hanya situasi kondisi keluarga yang tidak mendukung, dll. Aku pribadi merasa dia pergi dan hidup sendiri tanpa arah jelas karena sedikit dari semua hal itu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Hilda Punya Cerita

Temukan ceritamu di sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

The Hunchback of Jinjang Selatan

Nothing but nunsense mostly

%d bloggers like this: