Handphone Stalker pt.1

Katsu menemukan sebuah HP.

Lebih tepatnya dia menendangnya. OH FUK. Dia buru – buru mengejar HP itu, mengangkatnya dan menoleh ke sekeliling. Pundaknya menabrak pundak orang lain. Jalanan yang ramai, dia terbawa arus, terpaksa berjalan ke arah yang ia awalnya pergi. Ia berusaha menoleh ke sekeliling, mencari siapapun yang kelihatan kehilangan sebuah HP.

Tidak ada siapa – siapa. Jika apapun, HP itu tampaknya sudah jatuh agak lama. Retak memanjang di layar yang hitam. Ia menekan tombol home. Tidak menyala.

Katsu memasukkan HP itu ke kantongnya, kembali berjalan pulang. Mungkin aku bakal bisa menemukan siapa yang memilikinya di rumah.

“Katsu?” seru sebuah suara lelaki begitu dia menutup pintu depan rumah. Dia menaiki tangga dengan buru – buru, membanting pintu kamarnya tutup sebelum ayahnya bisa menanyainya apa – apa.

Tidak, dia tidak menemukan pekerjaan lagi hari ini. Tidak, dia tidak mau bekerja di toko.

Katsu menghela napas panjang, menarik lepas dasinya dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Katsu menekan tombol power HP yang menyedihkan itu.

Tidak menyala. Ia menggapai ke bawah ranjangnya, menarik keluar segumpal kabel – kabel lama dari berbagai merk HP. Ada beberapa keuntungan menyimpan benda – benda ini, bahkan ketika mereka 3/4 rusak.

Dia akhirnya menemukan satu yang cocok, tapi dia harus memegangnya dengan sudut tertentu supaya chargernya jalan.

Dia menahan posisi itu, tangan satunya bermain dengan HPnya sendiri.

Ketika sudah agak lama dan lengannya mati rasa, dia menekan tombol powernya. Sebuah nada yang luar biasa keras dan cahaya yang lebih terang daripada matahari menyerang mukanya. Dia menyipitkan matanya, “Buset dah,” gumamnya.

Lock screennya sebuah foto dari luar angkasa ala Tumblr. Bukan foto muka.

Image result for phone lock screen

Katsu menggeser jempolnya di atas layar itu. Tidak ada password. Ia menghela napas lega. Background HP-nya juga sama dengan lock screennya. Tidak ada apa – apa yang spesial.

Katsu membuka aplikasi messages.

Yang paling atas adalah dari seseorang bernama Gabriel.

stuff

“Oh shit,” umpat Katsu. Tampaknya ia mengangkat HP dari seseorang yang lagi diteror sama seorang mantan pacar bernama Gabriel.

Katsu keluar dari chat dengan Gabriel, mencari chat lain dengan orang yang mungkin masih sering bertemu dengan si pemilik HP.

Spam text. Promo skin care. Spam text. Mom.

MOM! Katsu membuka chat dengan Mom.

MzMzNTMx

“Ohhhhh shit—” Katsu menghela napas panjang. Gadis pemilik HP  ini sangat tidak beruntung.

Ibu macam apa yang menyuruh anaknya tetap pacaran dengan cowok macam itu? Katsu memukul pipinya sendiri. Fokus Kats. Cari orang lain. Britanny. Dari namanya saja Katsu sudah membayangkan itu mantan best friend yang jadi selingkuhan Gabriel.

Katsu mengecek. Benar saja. Katsu keluar dari aplikasi messages.

Gadis ini tidak punya banyak teman, mantan pacarnya menerornya, keluarganya tidak ingin dia datang untuk natal dan HPnya jatuh di jalanan dan berakhir di tangan Katsu.

Jika Katsu bertemu dengannya, ia bakal bertanya ia lahir tanggal berapa dan memastikan anaknya tidak lahir di hari yang sama. Kamu harus dikutuk oleh seorang dewa atau semacamnya untuk mendapatkan sial sebesar ini.

Katsu membuka contacts. Deretan nama – nama. Gadis ini tidak memasukkan detail apa – apa di ‘Me’ selain nomor HPnya. Katsu menelan ludah dan membuka gallery. Deretan foto slide PPT dan tulisan tangan. Tampaknya gadis ini masih mahasiswa.

Katsu menggeser foto demi foto dari slide PPT dan tugas– astaga gadis ini rajin. Dari slidei – slide itu Katsu menduga cewek ini jurusan marketing. Ia berhenti ketika mencapai sebuah foto kucing.

Kucing.

Related image

Katsu mengeluarkan “AWWWWWWW!!” yang luar biasa keras. Dia menggeser dan dengan bahagia menemukan lebih banyak foto dari kucing itu.

Dia berhenti lagi ketika mencapai sebuah foto selfie. Seorang gadis dengan semir berwarna ungu di bagian bawah rambutnya, kontras yang besar dengan kucing berwarna oranye di pangkuannya. Dia tersenyum ke arah kamera, matanya terlihat lelah dan ada tumpukan buku di depannya. Mungkin itu minggu ujian.

Katsu mengecek tanggal foto itu. Sebulan lalu. Itu berarti 2 bulan setelah ia putus, kan? Gadis ini tampaknya cukup independen. Katsu ingat ia masih berguling di tempat tidur tiap ia sampai rumah selama berbulan – bulan setelah ia putus dengan pacarnya dulu.

Katsu keluar dari gallery, tidak menemukan apapun yang bisa membantunya selain selfie dari gadis itu dengan beberapa cewek dan lebih banyak foto tugas kuliah. Dia menghela napas panjang, memikirkan cara lain untuk mengontak cewek itu.

Dia menekan tombol home lagi dan mengecek facebook. Log in. Bagus.

“Lucia,” baca Katsu. Ia memiringkan kepala sedikit. Nama yang bagus.

Katsu melompat berdiri dari kasurnya dan mendudukkan diri di kursinya, membuka laptop di atas meja belajar.

Dia log in ke facebook, mencari nama Lucia dan mengirim sebuah friend request dengan message “Hei, aku menemukan HP-mu di jalan. Bagaimana caraku mengembalikannya kepadamu?”

Katsu meletakkan HP Lucia di sebelahnya, keluar dari friend request itu dan malah nge-stalk wall Lucia.

“Katsu?” panggil sebuah suara dari bawah. Katsu menggerutu, “Yeah???”

“Kamu berniat makan malam atau tidak?”

“Tidak sekarang, thanks.” balasnya, mengscroll untuk melihat update status tentang Farmville Lucia, level 32!

“Ke sinilah sebentar, aku perlu berbicara denganmu!”

Katsu menarik napas panjang. Berdiri dari kursinya dan keluar dari kamarnya. Ia tidak mendengar bunyi notifikasi chat dari facebook ketika ia menutup pintu.

Advertisements

One thought on “Handphone Stalker pt.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s