Handphone Stalker pt.2

“Apa?” tanya Katsu, masuk ke ruang makan.

Ayahnya duduk di kursinya, wajah kotak dan kumis yang tebal yang beberapa sudah memutih. Ada beberapa potong ayam di atas meja, ayahnya sudah mengambil 2 di piringnya.

“Duduklah.”

“Aku sibuk.”

“Ayah tidak bertanya kamu sibuk atau nggak, duduk.”

Katsu menggerutu dalam hati tapi duduk. “Kemana kamu tadi pagi?”

“Keluar.”

Ayahnya memberikan pandangan geram. Katsu menggeram kembali.  Mereka seperti itu selama beberapa saat. Lalu ayahnya menghela napas panjang. Katsu merasa sedikit puas ia yang menang.

“Aku mendengar dari St.Henders kamu mencari pekerjaan di mereka?”

“Memangnya kenapa kalau iya?”

“Itu toko saingan ayah, itu kenapa.”

“Well, mereka nggak menganggap ayah sebagai saingan, jika itu yang ayah khawatirkan–”

“KAPAN KAMU BAKAL NURUT SAMA AYAH?!” bentak ayahnya tiba – tiba, membantingkan tangan ke meja. Katsu berhasil tidak melonjak. Ia tahu ini akan datang cepat atau lambat.

“Tugasmu itu melanjutkan toko Ayah.”

“Aku nggak mau.”

“Tapi kamu mau kerja di toko yang melakukan hal yang persis sama dengan toko ayah?” teriak ayahnya, melayangkan tangannya ke samping.

“Setidaknya mereka tidak memaksaku melakukannya.” gumam Katsu.

“Kamu itu anak ayah, kamu punya kewajiban buat ngelanjutin apa yang ayah bangun.”

“Memangnya aku minta dilahirin jadi anak ayah?” balas Katsu dengan kasar. Ayahnya membantingkan tangan ke meja dan berdiri. Jarinya menuding Katsu yang sedang megepalkan kedua tangannya.

“Kamu jangan coba – coba–” desis ayahnya, tidak menyelesaikan kalimatnya. Mereka saling pandang beberapa saat. Tidak ada yang mulai berbicara. Tidak ada yang mundur. Katsu bertanya – tanya apakah dia sudah melewati batas. Katsu bertanya – tanya apakah ada batas.

Ayahnya menghela napas panjang, mengusap kepalanya yang diselingi rambut memutih dan mulai membotak. Katsu menang ronde ini lagi, ia berdiri, “Aku tidak diterima di sana.” balas Katsu singkat. Ayahnya menoleh kepadanya. “Mereka bilang toko ayah lebih baik. Aku tidak setuju tapi jika itu yang ayah ingin dengar, aku sudah mengatakannya.”

Dia menaiki tangga, kembali ke kamarnya. Menjatuhkan diri ke tempat tidur dan membenamkan mukanya ke bantalnya. Sudah 5 bulan sejak ia lulus. Ia tidak mau kuliah, nilainya tidak sebagus itu dan ia bakal membuang waktu belajar hal yang ia tidak suka.

Ia mau langsung bekerja, tapi tidak di toko ayahnya yang ramai dan sesak dan ia benci. Tapi sudah 5 bulan dan semua temannya yang kuliah sudah mau ujian semester pertama, temannya yang tidak lanjut kuliah sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan mereka, dan dia? Dia masih terjebak di situasi bodoh ini.

Ia membalikkan badannya, meluruskan kakinya dan menendang sesuatu. Ia menaikkan kepalanya untuk melihat HP yang retak tadi.

Katsu berdiri, mengangkat HP itu dan duduk di kursinya, membuka Facebook lagi.

Sebuah balasan. Matanya melebar.

Hei, bisakah kamu memfoto HPku?”

Katsu menggaruk kepalanya, mengambil HPnya dan memfoto HP rusak itu dari beberapa angle, mengirimnya ke Lucia.

Yeah, ini.”

Tidak ada balasan lagi. Katsu mengecek. Lucia tidak online. Dia mengecek jam. 6 malam. Mungkin ia kelas? Entahlah. Katsu mengusap mukanya, mengerang pelan. Kenapa ia bahkan begitu marah? Marah itu nggak zaman. Find your chillbro. 

Katsu menarik napas dalam. Lalu berlari ke tempat tidurnya, dan berteriak ke dalam bantalnya.


“Kamu bercanda.” kata Ina.

“Apakah aku terlihat bercanda?” tanya Lucia dengan muram.

“Siapa cowok yang menemukan ini?”

“Nggak tahu, aku nggak bisa log in facebook lagi. Wifi kampus kayak semut berusaha manjat tiang bendera gini.”

“Semut manjat tiang bendera tuh gampang, tahu?” Ina mengerutkan keningnya, heran.  Ia merogoh – rogoh tasnya dan mengeluarkan iPhonenya.  “Log in pake HP-ku sini.”

Lucia mengambil HP-nya Ina, mulai log in. “Lucia,” ujar Ina. “Apa.”

“Professornya ngeliatin kita.”

“Mau ditegur juga aku lagi nggak mood ikut pelajarannya.”

“Terus ngapain dateng kelas?”

“Absensi.”

Ina mendengus, menahan tawa. “Aku akan pura – pura memerhatikan pelajarannya dan tidak menganggapmu sekarang.” ujar Ina, kembali menghadap ke papan dan mulai menulis di buku catatannya.

“Sep.” balas Lucia, mengecek chatnya. “Oh, dia membalas! Oh man, layarnya retak!!”

“Apa yang bakal kamu lakukan sekarang? Ketemuan sama dia?”

“Nggak tahu. Aku perlu HPku dan tampaknya masih jalan.. tapi ia sudah membukanya sampai tahu facebookku. Dia pasti sudah buka chat – chat dan— SHIT. Selfieku bulan lalu masih di situ!!”

Well, stalk dia balik lah! Cek apakah dia kira – kira aman untuk ditemui.”

“Memangnya nggak ketemu sama dia itu opsi? Jika aku nggak ambil HPku dia bakal punya akses ke foto – fotoku, SELAMANYA!”

“Atau dia seorang pembunuh serial. ”

“Aku bisa menyeretmu ikut denganku supaya kita bisa menendang selangkangannya kalau dia mau macam – macam.”

“Kenapa kamu mengira aku bakal mau ikut denganmu?” balas Ina, mengerling dari bukunya ke Lucia.

“Kamu bakal membiarkanku pergi sendiri?” tanya Lucia dengan wajah memelas. Ina memberikan pandangan tidak terkesan. Lucia menyipitkan matanya, lalu kembali menoleh ke facebooknya.

Scroll. Scroll. “Dia lulus SMA 5 bulan lalu jadi– hei. Dia seumuran dengan kita!”

Scroll. Scroll. “Heh, noob. Cuma level 1 Farmville.”

Scroll. Scroll. “Ulang tahunnya cuma beda sehari sama mantanku.”

“Salah fokus kamu.’

“Kamu yang suruh aku ngestalk dia.” gumam Lucia, membuka gallery. “Semua fotonya nggak ada yang baru. Dia nggak sering pakai facebook rasanya.” Lucia keluar, membuka instagram, “Pinjam ig.”

“Apa yang kamu–”

“Yesh, nggak di-private.”

Scroll. “Dia lumayan ngganteng.”

“Lihat,” kata Ina, menoleh dari bukunya. Lucia membuka 1 foto, memiringkan HPnya, tidak sengaja meng-double tap. “OH SHIT OH SHITT!!”

“LUCIA!!” desis Ina, menyambar HP itu. Lucia melihatnya lalu, “Oh, OH, aku lupa itu ig-mu. Fiuh!”

“Fiuh APAMU?! Ini foto 23 minggu lalu!”

“Kan dia nggak tahu kamu!”

“Mutual friendsku kan ada kamu!”

“Ya kan tapi namamu yang bakal dicap stalker bukan aku!”

“Ujung belakang mau diam atau nggak?” tanya suara dari depan kelas.

“Sebentar, pak, ini penting!” seru Lucia balik. Professornya menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Fuck you Lus!”

Advertisements

One thought on “Handphone Stalker pt.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s