Handphone Stalker pt.4

“Hai. Uh– hai.” kata Katsu, gugup. Ia ingat bagaimana muka Lucia sekarang. Ia jauh lebih pendek dari yang Katsu kira. Semiran rambutnya juga tidak seterang yang di foto.

Lucia tersenyum, “Hai, Lucia.” katanya, mengulurkan tangannya. Katsu mengangkat tangannya yang memegang HP. Ia mengoper HP ke tangan satunya dan menyalam Lucia balik, “Katsu,” katanya, menyadari tangannya berkeringat dan kemungkinan besar Lucia jijik.

Ia menarik tangannya balik. Ah sial, kenapa ia gugup banget?

“Anuu, HPku?” tanya Lucia

FUCK pikir Katsu, nyaris lupa. “Ah, ini.” kata Katsu buru – buru mengeluarkan HP dari kantongnya.

Lucia menerimanya dan seketika mundur selangkah. “Thanks,” kata Lucia, terlihat was – was. “Aku nggak membuka apapun,” kata Katsu seketika.

“Uh-huh..” balas Lucia. Semua laki memang pembohong. 

Sial, dia tahu aku berbohong, batin Katsu yang langsung mengubah jawabannya, “Well, um. Sori sebelumnya, tapi yeah, aku membukanya. Hanya untuk mencari tahu HPnya milik siapa. Uh, facebookmu sudah log-in secara otomatis jadi aku tahu dari situ.”

“Uh-huh…” kata Lucia, masih terlihat tidak yakin.

“Dan, uh, messages-mu. Aku juga mengecek mereka karena mengira kamu mungkin chat dengan orang yang tinggal denganmu.” Lucia sedang membuka HPnya, “Layarnya retak parah,” kata Katsu, tidak nyaman dengan diam saja.

“Yeah,” kata Lucia, terdengar lebih kecewa daripada was- was kali ini.

“Kamu bisa memasukkannya ke service center. Jika kamu ada garansinya dan masih setahun.”

“HPku sudah lebih dari setahun..” kata Lucia, mengecek messages dan terbelalak. Katsu membaca chat – chat ini?! Dari Gabriel dan Mom?! Lucia menoleh ke Ina yang berdiri di dekat salah satu pilar di gedung. Memberi signal untuk ke sana.

“Oh, well, kamu bisa ke toko lain dan cuma minta ganti layar. Tidak semahal itu.” balas Katsu.

“Yeah, aku akan memikirkannya,” balas Lucia. Ia mendongak dan tersenyum sopan, “Terima kasih mau mengembalikannya, omong – omong.”

No problem.” balas Katsu tersenyum balik. Bahkan meskipun Lucia masih memasang label stranger danger ke Katsu, ia masih bisa melihat jika cowok di depannya ini senyumannya manis. Lucia baru mau membalikkan badan ketika–

“Lucia?” Lucia membeku dan mengeluarkan sumpah serapah karena YA TUHAN, AKU TIDAK MEMERLUKAN INI, SEKARANG. 

“Gabriel,” balas Lucia,memberikan senyuman yang sopan dan penuh dengan keinginan untuk menyerang. Katsu menyadari senyuman itu dan menelan ludah dengan gugup meskipun senyuman itu tidak terarah kepadanya. Ia menoleh ke lelaki dengan badan bidang dan rambut diatur pomade yang terlihat licin.

Tunggu dulu. Gabriel? Bukankah itu mantannya Lucia? Ohhhh shit. Drama drama. 

“Hei, uh. Kamu tidak membalas chatku jadi aku kira kamu sibuk. Kurasa kamu memang sibuk, eh?” kata Gabriel, menoleh sekilas ke Katsu. Ohhhh shit. Aku juga terlibat di drama ini sekarang? Ini terasa seperti sinetron murahan. 

“Dia bukan apa – apaku,” kata Lucia, terlalu cepat, terlalu defensif. Katsu dengan canggung berdiri di situ dan berkata, “Uh, aku akan pergi sekarang..”

“Tidak, tidak, tunggu, aku mau memberitahumu sesuatu,” Gabriel berkata, menghentikan Katsu.

“Aku, eh, aku tidak terlalu ingin–”

“Apakah kamu tahu dia akan mengabaikanmu karena tugasnya lebih penting?” tanya Gabriel, “Dan dia akan menuduhmu memakai pasta giginya, dan ia akan memaksamu membelikannya es krim di tengah malam dan menonton semua drama korea membosankan bahkan jika kamu tidak suka–”

“Gabe,” kata Lucia, mukanya merah dan terlihat malu, “Gabe, dia bukan–”

“Dan dia jual mahal banget, kawan. Kamu tidak akan bisa mendapatkan apa – apa darinya,”

“Terdengar lebih seperti kamu tidak mampu, bukan dianya yang jual mahal.” balas Katsu mulai sedikit kesal. “Dengar aku tidak mau ikut – ikut dan–” Katsu terpotong karena pukulan ke rahangnya. Ia terdorong ke belakang, memegangi mulutnya, “GABE! WHAT THE FUCK?!” Teriak Lucia, Gabriel menoleh ke Lucia dan menunjuk dengan jari telunjuknya, “Kita bisa saja terjadi, Lus, aku bisa saja mengabaikan semua kekuranganmu tapi kamu tidak bisa mengabaikan semua kekuranganKU. Kita berhenti di sini.” Gabriel membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan dramatis.

Lucia berdiri di situ, tertegun. Katsu menegakkan badannya dan mengumpat pelan, merasakan darah di mulutnya. “Oh my God, you okay?” tanya Lucia, sadar akan keberadaan Katsu lagi.

“Yeah, yeah, uh.” Katsu menjilat bibir atasnya, “Kukira kalian memang sudah putus berbulan – bulan yang lalu?”

“Yeah, well, tampaknya dia tidak mau menerima fakta kita putus kecuali dia yang memutuskan hubungannya.”

What an ass.” balas Katsu, Lucia tertawa kecil. “Sori tentang, uh, itu,” kata Lucia menunjuk ke mulut Katsu. Katsu mengebas – ngebaskan tangannya.

“Tidak apa – apa.”

“Dan thank you.” kata Lucia, “Untuk apa yang kamu katakan tadi. Itu hal terbaik seorang lelaki pernah katakan tentangku.”

“Aku tidak suka nada bicaranya, itu saja,” balas Katsu.

“Thank you untuk, uh, HPku juga.” balas Lucia. “Aku tidak tahu bagaimana cara membayarmu.”

“Kamu bisa memulai dengan kopi,” balas Katsu, menyengir sedikit. Lucia merasakan hatinya melewati satu ketukan, “Aku hanya bercanda,” kata Katsu tertawa. Lucia sedikit kecewa.

“Aku tidak keberatan membelikanmu kopi,” balas Lucia, “Itu hal terkecil yang bisa kulakukan di situasi ini, sebenarnya.”

“Heh,” diam sebentar. “Tunggu, kamu serius?”

“Kamu.. tidak suka kopi?”

“Tidak, maksudku yeah, aku suka kopi tapi–”

“Aku, uh, aku bisa membelikanmu satu gelas di cafe depan,” kata Lucia menunjuk ke sebuah cafe kecil di seberang taman universitas yang terlihat agak ramai.

“Itu.. itu terdengar enak,” balas Katsu, tersenyum canggung.

Advertisements

2 thoughts on “Handphone Stalker pt.4

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

Si Baka Punya Cerita

Temukan Info Baka di Sini!

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

BEYOND MY MIND

by Feratry Salindri

Bibliophile

Seorang anak kecil pun bahagia ketika bisa membaca dan menulis

%d bloggers like this: