Handphone Stalker pt.6

“Kamu terlihat bahagia,”

Katsu mengangkat mukanya dengan kaget dari HPnya, satu tangannya baru mau menyendok segumpal nasi ke mulutnya.

Ayahnya sedang memandanginya.

“Apakah kamu mendapatkan pekerjaan?” tanya Ayahnya. Katsu semakin kaget. Ini pertama kali Ayahnya setenang ini waktu menanyakan hal itu.

“Tid–Belum.” Katsu menjawab. Ayahnya tidak berkata apa – apa. Katsu mengira ia akan membalas dengan ‘kamu tahu toko selalu memerlukan tenaga tambahan’ atau semacamnya tapi Ayahnya hanya mengeluarkan gerutu keras sambil meregangkan badannya dan mengambil pisang di bagian tengah meja.

Katsu menekan tombol lock HPnya, menutup instagramnya Lucia yang tadi ia buka (dan yang ia sudah follow dan barusan kena spam like). 

Ayahnya mengupas pisang dan memakannya, mengunyah dengan keras. Katsu menyendok, dentingan pelan dan kunyahan dengan mulut tertutup.

“Kamu tahu–” kata Ayahnya tiba – tiba. Katsu menarik napas, menyiapkan dirinya untuk kalimat yang ia sudah tahu akan keluar. Dia sudah memikirkan harus membalas dengan ‘Tidak aku tidak mau bekerja di toko dan–‘

“Marco muncul tadi di toko.”

Jalan pikir Katsu berhenti mendadak dan ia tersedak, “Apa?”

“Marco. Kamu ingat Marco?” kata Ayahnya.

“Uh….” Katsu menyipitkan matanya, berusaha mengingat.

“Mungkin kamu memanggilnya paman dulu. Memiliki kumis kotak dan memakai kacamata tebal yang–”

“Oh!” Katsu berseru, ingat sekarang. “Paman Marco, yeah yeah.”

“Hng. Dia bertanya kamu di mana tadi.”

“Apa yang ayah jawab?”

“Keluar.” kata Ayahnya, nadanya agak menyindir.

“Hng.” balas Katsu. Tidak memberikan tanda bahwa ia merasa tersindir. Mereka diam lagi. Katsu merasa sedikit bersalah, ayahnya jauh lebih baik hari ini dari hari – hari biasanya. Mungkin ia harus lebih bersahabat juga. “Apa yang ia mau beli tadi?” tanya Katsu.

“Dia menjual HP lamanya dan membeli dua.”

“Dua? Kenapa dua?”

“Satu untuk anaknya.”

“Paman Marco punya anak?” tanya Katsu heran.

“Aku sekaget kamu tadi.” Kekeh ayahnya.

HP Katsu bergetar, Katsu mengerling untuk melihat sebuah notifikasi dari instagram. Ia menekan tombol lock lagi, meskipun ia sebenarnya ingin tahu apa yang Lucia katakan di chat. Dia mendongak untuk melihat ayahnya sudah memandanginya.

Mereka saling pandang untuk beberapa saat.

Lalu ayahnya menghela napas panjang dan mengangkat piring dan meletakkannya ke bak cucian, “Cucilah mereka,” lalu dengan badannya yang besar dan sambil menggaruk perutnya, ia keluar dari ruang makan dan masuk ke ruang keluarga. Katsu berdiri dan mendengar suara TV yang memainkan pertandingan sepak bola kemarin malam. Dia mencuci piring.


“Hei!” seru Lucia, menepuk Katsu dari punggungnya.

“Oh hei,” balas Katsu, sedikit kaget, ia menutup HPnya.

Mereka akhirnya bertemu lagi, sesuai dengan janji mereka beberapa hari yang lalu di cafe. Mereka chat beberapa kali juga lewat instagram. Mereka merencanakan untuk bertemu di sebuah restoran pizza kecil dekat dengan sebuah taman waktu sore hari karena mereka berdua setuju pizza adalah hal terbaik yang dunia ini pernah ciptakan.

“Kamu lapar?” tanya Lucia, ia terlihat lebih semangat daripada Katsu, rambutnya diikat menjadi 1 ke belakang, dan ia membawa tas besar dengan map yang tidak bisa sepenuhnya masuk ke dalamnya. Katsu menduga ia baru selesai kuliah.

“Yeah,” balas Katsu. Lucia tersenyum kecil, mengangkat menu dan membacanya. “Pepperoni terdengar enak. Atau kamu mau chicken cheese?” tanya Lucia.

“Ehh, terserah.” balas Katsu, mengecek HPnya lagi. Tidak ada notifikasi baru. Ia meng-lock screennya lagi. “Kamu siap memakan large?”

“Oh hell yeah,” balas Katsu tertawa pelan. Lucia mengangkat tangannya dan memesan. Ketika si staff sudah pergi, Lucia menoleh ke Katsu dan bertanya, “Kamu tidak apa – apa? Terlihat agak murung.”

“Hm?” Katsu menoleh dari saos tomat yang ia tadi pandangi. “Oh. Tidak, aku tidak apa – apa.”

“Tidak ada kuliah hari ini?” tanya Lucia.

“Aku tidak kuliah, Lus.” balas Katsu.

“Oh.” balas Lucia, sedikit kaget. Ia tidak pernah bertanya karena ia selalu menduga.. “Sori, aku kira.. Uh, jadi kamu ngapain?”

Katsu menelan ludah, berusaha tidak terlihat gugup. Ia benci pertanyaan itu sekarang karena sebenarnya dia ngapain?

“Me-mencari pekerjaan.” jawab Katsu seperti biasa tapi ia juga tidak nyaman dengan jawaban itu karena lanjutannya selalu–

“Oh. Pekerjaan apa?”

Dan itu. Itu pertanyaan yang Katsu tidak tahu harus jawab apa. Ia bahkan lupa ia awalnya mau bekerja sebagai apa waktu di SMA dia memutuskan untuk tidak kuliah. Dia hanya dengan naif melemparkan dirinya ke–

“1 pepperoni large,” kata staff yang meletakkan pizza hangat yang membuat air liur Katsu dan Lucia langsung menggumpal. Mereka memakan pizza itu dalam hitungan menit, tertawa dan saling mengoper saos.

“Fiuh!” kata Lucia, menyandarkan diri ke kursi, “Aku kekenyangan,”

“Ha” kata Katsu dengan nada mencemooh, “Lemah.”

Lucia menyipitkan matanya dan tersenyum, “Ayo berjalan – jalan di taman depan, aku mau menurunkan makanannya.”

“Okay,” kata Katsu, mereka berdiri dan keluar. Berjalan bersebelahan dengan pelan, mengelilingi taman yang sepi.

“Jadii—” Lucia berkata, “Aku punya ide.”

“Hm?”

“Kamu tahu kalau ini harusnya kesempatanku untuk mengenalmu lebih baik?”

“Uh-huh..?”

“Jadi aku mau kita bermain 20 questions. Aku nggak mau kamu mendengar kamu menolak, kamu harus menjawab. Oke?”

“Oke. Itu sudah 1 pertanyaan.” kata Katsu, mengangkat 1 jari.

“Hei! Itu tidak adil!” kata Lucia. Katsu tidak menurunkan jarinya dan hanya memberikan senyuman nakal.

“Ugh, fine. 19 lagi. Uhh… Kenapa namamu Katsu?”

“Uhh, nggak tahu. Ibuku yang kasih nama.”

“Apakah kamu suka chicken katsu?”

Shut up,” kata Katsu, tertawa. “Kamu nggak tahu berapa kali aku selalu mendengar pertanyaan itu.”

“Dan kamu belum menjawabnya.”

“Sedihnya, iya. Jadi aku juga sering difoto dan diejek Katsu makan katsu.” Lucia tertawa.

“Apa hobimu?”

“Meme-hunting.”

“Kamu serius?”

“Yeah, dan itu juga pertanyaan.”

“Hei!” Lucia memrotes, memukul pundak Katsu dengan pelan. “Ow,” kata Katsu, menggosok pundaknya, “Ok, pertanyaan penting berikutnya : anjing atau kucing?”

C’mon. Kamu tahu ini. Kucing.”

Yay! Ummm… apa lagi…” Lucia memegang dagunya, berpikir keras. “Oh. Jadi pekerjaan apa yang kamu cari sekarang?”

Katsu menghela napas, terlihat agak keberatan untuk menjawab. “Entahlah. Apapun, kurasa.”

“Kamu sudah mencari di mana saja?”

“Di mana – mana.”

“Kenapa kamu tidak kuliah dulu?”

“Nilaiku tidak sebagus itu dulu,” balas Katsu mengangkat bahu, “Aku tidak melihat apa gunanya menghabiskan 3 atau 4 tahun hanya belajar ketika aku bisa bekerja dan head start dari yang lain.”

Lucia menyesal bertanya, Katsu menjadi agak diam. Mereka berhenti di atas jembatan, memandangi air di bawahnya. “Apa meme favoritmu.” tanya Lucia akhirnya setelah mereka memandangi air agak lama. Katsu mendengus kaget akan pertanyaan absurd itu, “Here come dat boi,” balas Katsu.

“Apa?”

“Kamu nggak tahu?” Lucia menggeleng. Katsu membuka HPnya dan membuka gallery, lalu folder dengan nama MEME DATABASE dan mengscroll puluhan foto yang membuat Lucia agak ngeri dengan dedikasinya.

“Nih,” Kata Katsu, mulai tertawa kecil melihat fotonya.

What the fuck..” bisik Lucia pelan.  “Ada lagunya juga,” kata Katsu dengan semangat, masih setengah tertawa, cepat – cepat membuka youtube.

“Uhhh, aku rasa lebih baik aku tidak tahu, thanks,” balas Lucia dengan cepat. Katsu terlihat kecewa.

“Tapi memenya terlihat lucu,” kata Lucia, berusaha menghibur. “Kirimkan ke aku,” katanya mengambil HPnya keluar. Katsu menyadari layarnya yang masih retak. “Kamu belum memperbaikinya?” tanya Katsu.

“Hm? Oh. Well, aku tidak tahu harus membenarkan di mana..”

“Kamu bisa membenarkannya di tempatku,” kata Katsu. APA YANG KUKATAKAN. Pikir Katsu.

“Oh?” tanya Lucia agak heran. “Y-yeah, um. Keluargaku punya toko servis dan jual/beli HP.” Katsu menjelaskan agak gugup.

“Oh!” seru Lucia, “Aku tidak tahu itu. Berapa lama biasanya akan kamu perlukan untuk mengganti layarnya?”

“Uhh.. tidak lama..” kata Katsu dengan gugup.

“Itu bagus. Di mana tokomu? Aku akan ke sana waktu aku bisa.”

“Ap-tapi– Uh, okay.. kapan kamu akan datang?” tanya Katsu.

“Oh entahlah, jadwalku minggu depan super sibuk. Aku nggak tahu kapan aku bisa datang.”

“Oh..” Katsu berkata agak kecewa.

“Tapi aku akan ke sana! Jadi aku harapkan service maksimal!” kata Lucia, menuding Katsu dengan 1 jari. Katsu tertawa sementara dia menjerit di dalam kepalanya sendiri.


Katsu membuka pintu rumah dan menutupnya dengan pelan, menghela napas dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.

“Katsu, itu kamu?” teriak ayahnya dari ruang keluarga. Katsu mengangkat mukanya dan berkata, “Yeah.”

“Ngapain kamu tadi?”

“Keluar,” kata Katsu seperti biasa.

Dia mau naik ke lantai 2 untuk ke kamarnya tapi lalu dia memutuskan lebih cepat lebih baik. Dia melonggokan kepalanya ke ruang keluarga, melihat ayahnya duduk di kursi malasnya, satu tangan memegang kaleng bir, mata tertancap ke pertandingan bola.

“Hei… pa?” katanya memutuskan menggunakan panggilan itu. Ia langsung menyesal begitu kata itu keluar dari lidahnya. Ia bergidik.

Ayahnya menoleh dari TV, terlihat seperti ia baru saja mendengar suara setan.

“Aku.. uh… tentang.. um..” Katsu bingung memasukkannya dalam kata – kata. Ia menggaruk dagunya dan memegang ambang pintu, “Uh.. apakah— kamu tahu, toko selalu butuh, uh..”

Ayahnya menaikkan alisnya. Katsu menarik napas panjang dan mengatakannya,

“Apakah aku bisa kerja di toko hanya untuk minggu depan?”


Writer’s Note : Katsu bakal pingin kalian nonton ini

Advertisements

3 thoughts on “Handphone Stalker pt.6

Add yours

  1. hell yeah finally lus! aku dari awal juga mempertanyakan kenapa katsu namanya katsu dan apa dia suka katsu. HAH. akhirnya.
    dan oh, aku juga nggak ngerti dimana lucunya meme itu kumohon terangi aku….. (btw, last meme-video yang kamu kirimi link nya ke aku pun itu aku nggak ngerti plis apa aku tidak humoris)

    Liked by 1 person

    1. sebenarnya memang meme – meme yang disukai Katsu (dan aku) itu udah next level meme yang cuma dianggep lucu kalau kamu terlalu lama di internet haha. Reaksinya Lucia itu reaksi orang normal kok xD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

BBMagz!!

review and quotes

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

Sebuah Kisah

cinta. perjalanan. kenangan

%d bloggers like this: