Apetit

Aku nggak tahu kapan ini mulai terjadi.

Tapi aku sangat yakin sekarang.

Aku sama sekali nggak nafsu makan.

Ini normal. Maksudku, sesekali orang juga nggak nafsu makan. Tapi dalam tiga hari terakhir ini aku hanya makan sebuah apel. Dan aku masih nggak lapar.

Aku memandangi mie kuah dengan resep rumit yang kubuat selama berjam-jam terakhir. Baunya membuat kucingku mengeong – ngeong minta sesendok. Aku menghela napas dan mengangkat mangkok berisi mie itu dan meletakkannya di lantai. Kucingku melahapnya.

Ini nggak masuk akal.

Aku memandangi Tissue, kucingku (kunamainya itu karena bulunya putih semua) (aku SMP waktu pertama kali punya dia dan harus menamainya, OK) (jangan menghakimiku). Dia menyerusup kuahnya.

Sudah nggak dingin artinya. Berapa lama aku duduk di kursi ini berusaha membuat diriku sendiri makan?

Aku menoleh ke jam dinding, jam 3 sore. Aku nggak ingat kapan aku duduk. Dengan sedikit kecewa aku berdiri, meregangkan badanku sedikit dan berjalan kembali ke kamarku, menutup pintu kamar dengan pelan. Entah kenapa aku melakukan itu, orang tuaku tidak bakal ada yang pulang sampai jam 7, aku bisa sekeras yang kumau.

Aku membuka laptopku, masih sama pelannya.

Halamannya masih website dengan resep yang kupakai tadi. Telur digodok dengan teknik terumit yang pernah kupakai, sehingga waktu ditusuk kuning telurnya akan meluber ke mie. Kuah yang hangat dan sedikit asin. Daging ayam yang digoreng dan ditaburi wijen dan dibumbui dengan kecap.

Tetesan hujan di luar sudah mereda.

Membaca komentarnya, semua orang menyukai resep ini. Sempurna. kata seseorang. Baca resepnya aja sudah bikin laper. Kata orang lain. Komen itu dapat 180 likes.

Aku menutup tab itu. Tab satunya tentang penyakit, dari mantan penderitanya. Semua jenis penyakit yang ada berhubungan dengan tidak mau makan.

Tanganku memegang jakunku, mengelusnya sementara aku mengscroll halaman itu lagi. Aku tahu ini tidak normal. Semua hal tentang tidak makan ini. Mungkin ada sesuatu yang salah di kepalaku?

Aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang makanan ketika aku menderita anorexia. Aku lapar terus tapi aku tidak mau menelan apapun karena aku terobsesi dengan beratku.

Aku mengernyitkan mukaku membaca paragraf itu. Terdengar buruk.

Aku bisa memberitahu kalian semua cara untuk memuntahkan kembali seluruh isi kulkas kalian setelah kalian memakannya 5 menit yang lalu. Setahun yang lalu aku bahkan akan menganggap pengetahuanku tentang ini normal. 

Aku membayangkan isi kulkasku. Aku ingat ada es krim di freezer. Apakah aku mau es krim? Tetesan air hujan di luar. Tissue mengeong di ruang keluarga. Mungkin ia sudah selesai makan.

Tidak. Aku tidak mau es krim.

Aku menutup tab itu dan menghela napas lagi. Kurasa letak masalahnya bukan karena aku tidak makan. Tapi aku tidak lapar. 3 hari nyaris tidak memakan apapun, aku seharusnya sekarat sekarang dan kelaparan. Semua logikaku mengarah ke situ.

Seharusnya aku lapar.

Seharusnya berat badanku turun, dan mukaku menjadi tirus dan kantong mataku bertambah.

Seharusnya badanku memintaku, memohonku untuk makan sesuatu.

Seharusnya seharusnya seharusnya. 

Berat badanku tidak turun. Aku hanya tidak lapar. Tanganku naik dari jakunku ke mata, menutupnya dan menyandarkan kepalaku ke kursiku.

Ada suara samar dari kuku tajam mengais – ngais pintu kamarku. Aku mengangkat tangan dari mataku dan menoleh ke pintu. Tissue mengeong pelan. Aku berdiri dan membukakan pintu, melihat Tissue mendongak ke arahku. Aku mengangkat badannya dan duduk kembali, memangkunya dan mengelus badannya.

“Aku akan pergi ke rumah sakit besok, Tissue.” kataku kepadanya, meski matanya terpejam dan ia sudah setengah tidur. “Mungkin mereka bisa menemukan apa yang salah dariku.”

Advertisements

3 thoughts on “Apetit

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

hiraeth

a longing for a home you can't return to, or one that was never yours ;

Just an ordinary soul’s thoughts

A place where i’m going to drain my thoughts out. So what say? Let’s begin.

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

%d bloggers like this: