Apetit pt.2

Duduk di kursi putih, memandangi dinding berwarna biru pastel, harus terus menerus mengingatkan diriku untuk tidak menggoyangkan kakiku.

Ini bukan ideku untuk sebuah hari Sabtu yang ideal, kakiku bergoyang dan aku menggigit bibirku, mengunyah bagian keringnya.

Pintu ruang di mana aku lagi duduk menunggu terbuka, seorang dokter dengan muka bersih dan kacamata kotak yang sama dengan yang tadi mengecekku masuk, memegang clipboard dan memasang senyuman profesional yang sama.

“Jadi ada kabar bagus dan ada kabar buruk.”

Aku menelan ludah, memegangi ujung T-shirt oranyeku, “Kabar buruk dulu saja?”

“Baiklah. Kabar buruknya adalah.. kamu baru saja pergi sejauh 2 kilometer untuk ke sini… untuk menerima kabar baik bahwa tidak ada apa – apa yang salah denganmu! Sehat walafiat.”

Aku melepas pegangan T-shirtku dan berkata, “Oh.” dengan agak bingung dan berusaha tidak kecewa. Lalu aku membuka mulutku, mengerutkan keningku sedikit sambil bertanya, “An– kurasa itu agak tidak mungkin?”

Dokter itu sekarang yang mengerutkan keningnya, meletakkan clipboardnya ke mejanya dan menyatukan tangannya. “Apakah ada keluhan spesifik?”

Aku mengangkat tanganku ke jakunku dan mengelusnya, “Aku, eh.. aku tidak lapar. Sudah tiga hari lebih sejak aku terakhir memakan sesuatu dan–”

Dokter itu mengangkat alisnya, aku merasa ia tidak memercayaiku.

“Jika kamu tidak makan selama tiga hari, kamu seharusnya tidak bisa berbicara sesantai seperti ini, nak.”

Aku mengangguk, “Aku tahu, tapi..” tangan ke samping, tidak mengerti, aku tahu. “Apakah mungkin ini semua semacam sugesti atau sesuatu di kepalaku? Seperti otakku tiba – tiba korslet dan bagian yang menyuruhku makan lagi shut down?”

Dokter itu mendengus, “Aku tidak akan mengatakan ‘tidak mungkin’ karena badan manusia masih sebuah misteri. Tapi aku akan berkata bahwa hal yang kamu katakan sangat jarang terjadi. Apakah kamu sudah mencoba suplemen untuk menambah nafsu makan?”

Aku terjebak antara tahu bahwa suplemen tidak akan membantu apa – apa dan tidak bisa mengatakan hal itu karena aku belum mencobanya.

Dokter itu menarik kertasnya, “Aku akan menuliskan sebuah resep untuk mencarikan suplemen penambah nafsu makan, tapi jujur saja nak, kamu tidak sebenarnya memerlukannya.” Dia merobek kertas itu dan menyerahkannya kepadaku.

Aku mengangguk, berterima kasih dan keluar dari ruang konsultasi dokter, menunduk ke resepku dan menghela napas panjang. Aku memutuskan tetap membelinya.


Aku membuka pintu rumah untuk melihat Tissue lagi meminum susu dari piring.

“Tissue, jangan,” kataku, buru – buru meletakkan kresek dengan suplemenku di meja dan mengangkatnya dengan kedua tanganku. Ia mengeong, sedikit marah kepadaku. Aku menoleh ke bagian kanan, rak sepatu yang berantakan. Sandal rumahku, ayahku dan ibuku berjejer dengan rapi. Tidak ada orang di rumah.

Aku menghela napas, mengangkat piring itu dengan satu tangan, memeluk Tissue yang menggigit tanganku. Aku membiarkannya dan tetap membuang susu itu ke kitchen sink. 

Aku mengambil cat food dari rak bawah dan menuangkan secup ke tempat makan Tissue dan meletakkannya kembali di  lantai. Dia mengeong, masih agak marah. Aku menarik post it di meja makan dan berburu sebuah bolpen. Hasil buruanku hanya sebuah spidol yang setengah mati, tapi aku tetap menulis dengannya.

Jangan memberikan susu ke Tissue. Kucing dewasa nggak tahan susu dan bakal diare.

Aku menempelnya dengan keras ke pintu kulkas sebelum membukanya. Sisa sop merah kemarin malam. Tidak kumakan kemarin karena aku berada di kamarku untuk semalaman. Tissue mengeong. Aku mengeluarkan sop itu dari kulkas dan menuangnya ke panci, memanasinya di atas kompor. Berdiri dengan canggung, menunggu sopnya bertambah hangat. Aku menoleh ke rak kecil tempat kita menyimpan bumbu – bumbu.

Di sebelah rak itu ada tanaman di dalam pot. Posisinya aslinya di sebelah TV. Kupindah ke situ karena di situ, jendela di depan kompor akan memberinya sinar matahari dari jam 9 pagi sampai 3 sore. Jika di depan TV dia hanya akan mendapatkan sinar dari jam 8-9.

Aku menjulurkan jari kelingkingku dan menekan tanahnya. Kering. Aku mengambil botol sprayer di sebelahnya dan menyemprotnya 2 atau 3 kali. Ketika aku menoleh ke sopku lagi, dia sudah mendidih. Aku mematikan kompornya dengan buru – buru.

Tissue mengeong, menempel ke kakiku sementara aku memindahkan sopnya ke mangkok. Aku berhenti menuang untuk melihat tempat makannya bersih tanpa sisa.

“Tissue kamu sudah makan.” kataku, menuang lagi.

Meong lagi. Mengelus pipinya ke kakiku. Aku duduk di kursi meja makan, “Tissue kamu bakal obesitas.” kataku sambil menarik botol suplemenku dan membukanya. Sehari 3 kali. Sebelum makan.

Meong. Matanya lebar memandangiku. Terus kenapa? Aku menuang botol itu dan mendapatkan satu kapsul.

“Jangan – jangan semua nafsu makanku pindah ke kamu.” gumamku. Dia mengeong. Aku memasukkan kapsul itu ke mulutku dan melempar kepalaku ke belakang, menelannya.

Rasanya pahit dan aku terbatuk, mengernyitkan mukaku.

“Oke, Tissue.” Aku menoleh kepadanya, matanya berbinar, aku dan dia tahu aku bakal memberikannya setidaknya beberapa sendok nanti. “Mari kita lihat apakah aku bisa memaksa diriku makan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

hiraeth

a longing for a home you can't return to, or one that was never yours ;

Just an ordinary soul’s thoughts

A place where i’m going to drain my thoughts out. So what say? Let’s begin.

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

%d bloggers like this: