Apetit pt.3

Aku terbangun dengan kaget, sebuah petir menyambar. Kilat yang tadinya menyinar masuk dari celah tirai jendelaku hilang secepat ia datang, melemparku kembali ke kegelapan kamarku. Aku menoleh ke jam digital di meja belajarku, angkanya satu – satunya yang menyala di kamarku sekarang, 2.42 pagi.

Tissue melompat ke tempat tidurku, berusaha berjalan di atas selimut biruku, mengeong panik.

Aku mendudukkan diri, membuka lenganku agar dia bisa masuk ke dalam pelukanku. “Aku juga kaget, buddy.” kataku pelan, mengelus badannya.

Kita berdua tidak bisa tidur lagi setelah itu, aku mengangkatnya dengan satu tangan, melempar selimut ke samping dan berjalan ke meja belajarku di mana aku menyalakan lampunya.

Aku menggunakan satu tangan untuk mendorong arah lampunya untuk mengarah ke dinding, menjauh dari laptopku. Terlalu terang.

Aku membuka layar laptopku, tadi hanya ku-sleep. Enter. Buka internet.

Tissue mendengkur, menempelkan mukanya ke t-shirtku, meminta elusan. Aku menggunakan tangan kiriku untuk mengelus kepalanya sementara tangan kananku mengscroll halaman internet.

Aku mengklik play dari sebuah video tentang penyakit – penyakit yang tidak bisa dijelaskan. Aku mengskipnya tiap 5 detik, tidak terlihat menarik dan tidak sesuai dengan yang–

Satu – satunya hal yang memberi sedikit penjelasan bagiku adalah cerita dari kakak sepupuku. Dia berkata jika sesuatu terjadi ke belahan jiwa kita, kita sedikit banyak juga akan terpengaruh. 

Aku berhenti.

Jadi mungkin, apapun yang terjadi kepadaku itu karena belahan jiwaku dan bukan karena badanku. 

Tawa dari audiens yang menonton live menggema di video itu. Si pasien mengangkat bahu, tampak sangat yakin. Penyakitnya sesuatu dengan pankreasnya. Aku menutup video itu setelahnya.

Tissue sudah tertidur di pangkuanku sekarang. Aku mengelus jakunku dengan tangan kananku, mengerutkan keningku.

Oke anggap saja kita ikut dengan teori itu, lalu apa yang terjadi ke belahan jiwaku? Apa yang membuatnya tidak akan lapar lagi? Ini tidak masuk akal.

Aku menunduk ke Tissue, melihat perutnya yang semakin gendut naik dan turun.

Naik. Dan turun.

Memangnya siapa yang bakal lapar jika mereka sudah dikubur? 

Aku mengangkat tanganku dan menampar mukaku dengan keras.

Tissue melompat bangun. Mengeong marah kepadaku.

“Sori,” gumamku memegang pipiku. Damn, ternyata aku lebih kuat dari yang kukira. Tissue mendesis ke arahku, meluruskan ekornya. “Oh ayolah,” aku menegurnya dengan kesal. Dia membuang muka dengan angkuh, melompat ke lantai dan berjalan ke pintuku.

Lalu dia mengeong meminta dibukakan. Aku memutar bola mataku, “Kamu kalau marah nggak dipikir ke depan dulu, ya?” kataku, berdiri dan berjalan untuk membuka pintu untuknya. Tissue tidak mengeong balik dan berjalan keluar kamarku. Aku membiarkan pintuku terbuka sedikit jika – jika dia mau kembali.

Aku mendudukkan diriku ke tempat tidur, menarik napas panjang sebelum menjatuhkan badanku. Suara buk pelan dari bantalku yang empuk dan langsung kempes tidak tahan berat kepalaku. Aku memejamkan mataku, membuka lenganku ke samping, meregangkan bagian bawah badanku.

Lalu KOMPRYANG BRAK! dan meongan tiada akhir.

Aku mendudukkan diriku dengan cepat, “Tissue??” seruku, berdiri dan membuka pintu kamarku. Aku akhirnya menemukannya, terjebak di tirai jendela dapur dan salah satu vas tanaman di dekat jendela jatuh di lantai.

“Bagaimana kamu bahkan–” aku tidak menyelesaikan kalimat itu, mengeluarkannya dari tirai. Ketika dia akhirnya berhasil keluar, aku menyadari ada bekas luka di kaki depan kanannya. Dia mengeong tidak berhenti.

“Itu luka super kecil, Tissue.” omelku, “Serius, sejak kapan kamu semanja ini?”

Dia mengeong.

Aku mengambil tissue (yang asli) (bukan yang kucing) (diamlah), dan membasahinya dengan air. “Oke, ini bakal sakit–” aku menepuk – nepuknya pelan ke lukanya. Dia mencakar tanganku.

“Ow, Tissue!” tegurku. Dia melompat turun dari peganganku. Aku membiarkannya. Memutuskan untuk menyapu tanah dan serpihan vas dan tanaman di lantai. Tissue duduk di sofa, memandangiku menyerok dan menyapu dengan tatapan sinis. Aku berhenti, memandanginya balik, “Kita akan ke dokter hewan besok. Setengah  karena luka kecilmu itu, dan setengah karena aku cukup yakin kamu harus diet.”

Dia mendesis. “Kamu boleh protes terserahmu. Kamu bukan orang yang nggak nafsu makan sejak entah kapan dan belahan jiwanya bisa jadi mati.” Desisku balik. Dia diam setelah itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

hiraeth

a longing for a home you can't return to, or one that was never yours ;

Just an ordinary soul’s thoughts

A place where i’m going to drain my thoughts out. So what say? Let’s begin.

Coklat dan Hujan

menikmati minum coklat hangat sambil melihat hujan

JENITA DARMENTO

Indonesian Travel, Food and Lifestyle Blogger

Misty Angel

Whispers in the woods

Field of Thoughts

I hereby sow my thoughts and interests here.

Talanimo

Where all thoughts are spoken

Teras Rumah

Bercerita di sini

PG16

Teknologi Cinta

%d bloggers like this: