Elemen

Aku begitu kecewa ketika mendengar aku tanah. Aku ingin menjadi angin, karena mereka begitu santai dan periang, dan guru kelas 2 SDku mengatakan aku seorang anak yang ceria. Angin itu romantis. Pernah melihat kincir angin? Atau melihat seorang gadis malu - malu mengatur rambutnya yang berantakan karena angin? Lagipula, tidakkah itu sesuatu untuk dibanggakan? Untuk menjadi... Continue Reading →

Advertisements

Apetit pt.3

Aku terbangun dengan kaget, sebuah petir menyambar. Kilat yang tadinya menyinar masuk dari celah tirai jendelaku hilang secepat ia datang, melemparku kembali ke kegelapan kamarku. Aku menoleh ke jam digital di meja belajarku, angkanya satu - satunya yang menyala di kamarku sekarang, 2.42 pagi. Tissue melompat ke tempat tidurku, berusaha berjalan di atas selimut biruku,... Continue Reading →

Gengsi

Aku pernah memintanya berjanji, jika suatu hari ia bangun dan ia tidak bisa menemukan bintang - bintang di mataku lagi, atau tiba - tiba menganggap caraku memegang sendok itu salah total, dan ia tidak bisa hidup denganku lagi karena satu atau lain hal.. aku memintanya berjanji untuk tidak menelponku. Aku berkata, kemaslah barang - barangmu... Continue Reading →

Apetit pt.2

Duduk di kursi putih, memandangi dinding berwarna biru pastel, harus terus menerus mengingatkan diriku untuk tidak menggoyangkan kakiku. Ini bukan ideku untuk sebuah hari Sabtu yang ideal, kakiku bergoyang dan aku menggigit bibirku, mengunyah bagian keringnya. Pintu ruang di mana aku lagi duduk menunggu terbuka, seorang dokter dengan muka bersih dan kacamata kotak yang sama... Continue Reading →

Apetit

Aku nggak tahu kapan ini mulai terjadi. Tapi aku sangat yakin sekarang. Aku sama sekali nggak nafsu makan. Ini normal. Maksudku, sesekali orang juga nggak nafsu makan. Tapi dalam tiga hari terakhir ini aku hanya makan sebuah apel. Dan aku masih nggak lapar. Aku memandangi mie kuah dengan resep rumit yang kubuat selama berjam-jam terakhir.... Continue Reading →

Ruang

"Beri aku ruang." katanya. Seakan - akan dia tidak memiliki cukup dari itu. Seakan - akan belakangan ini kita seperti terpisahkan oleh samudra. Seakan - akan semua usahaku untung berenang kepadanya ternyata ia tahu dari awal. "Kita terlalu dekat. Kita butuh ruang." protesnya. Desaknya. Padahal aku tidak mengatakan apa - apa. Apa yang kamu ingin buktikan? ... Continue Reading →

Mimpi

Ada penjelasan saintifik bahwa semua muka yang kamu lihat di mimpimu adalah muka orang yang pernah kamu lihat. Ini karena otakmu tidak bisa membuat muka. Bahkan jika kamu tidak tahu siapa yang kamu lihat di mimpimu, kamu pasti pernah melihat mereka. Mungkin hanya sekilas waktu kamu berjalan di kerumunan. Tapi aku bermimpi buruk hari ini.... Continue Reading →

Orang Terpenting di Pernikahan

Dia tampak sangat cantik mengenakan gaun pernikahannya yang putih. Aku merasakan air mataku merebak dan harus menggigit lidahku untuk menahan mereka. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau fotonya rusak karenaku. Dia tersenyum ke arahku, aku tersenyum balik. Gaunnya sempurna. Senyumnya sempurna. Sebuah hari yang sempurna. Dia mengatakan “Aku bersedia.” Kerumunan bersorak. Aku tersenyum... Continue Reading →

Wisp

It first started with Randy's rumor, something he had said jokingly on a foggy Friday afternoon after school, right behind the smoothie shop that faced the dark dense woods. He said he'd saw a white wisp-like figure. Just a second before it disappeared into the trees. "There is a wisp in the woods!" He said,... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑