Jatuh

Aku jatuh.

Tidak, aku tidak jatuh cinta, se-romantis apapun itu, ceritaku tidak se-klise itu.

Aku jatuh di tangga sekolah, terpleset dan kehilangan keseimbanganku, menabrakkan kepalaku ke lantai dan membuat siapapun di radius 5 meter kaget.  Continue reading

Pacar

Aku merindukan pacarku.

Ia menggandengku. Tersenyum manis. Matanya jernih, soft lens bewarna biru, terbuka lebar sementara ia menceritakan tentang harinya ke aku.

Aku berusaha tersenyum, tapi Tuhan, aku merindukan pacarku.

Continue reading

Tanamannya Mamaku

Tanamannya mamaku mati.

“Ma, tanamannya diapain sih?” teriakku dari taman depan, tangan terlalu sibuk menggaruk dan mengebas – ngebaskan nyamuk yang menempel di betisku. Mataku tertuju ke pot bunga di depanku, sebuah tanaman yang dulunya hijau dan sehat ketika pertama kali mamaku bawa pulang dari pasar bunga sekarang terlihat kuning dan layu. Bahkan tanahnya terlihat kering, berkerak dan keras.

Continue reading

Sendirian(?)

Aku mengusap mata. Tanganku yang satunya melayang ke samping.

Kamu tidak ada.

Aku berhenti. Membuka sebelah mataku.

Masih tidak ada.

Aku menggunakan satu tangan untuk menumpu badanku, mencarimu di ruangan.

Tidak ada.

Continue reading

Huruf Pertama

Januari adalah bulan dimana aku pertama melihatnya. Aku nyaris tersedak, kukira aku salah lihat. Namun aku benar, di bayang – bayang layar komputerku yang gelap, ada sesuatu. Gara – gara satu sentakan fatal, ia tahu bahwa aku tahu. Aku tidak aman lagi. Neraka mungkin lebih baik daripada hidup seperti ini. Continue reading

Hatinya

Ronald menggigit jarinya, sebuah kebiasaan buruk yang tidak akan pernah berubah darinya. Keningnya mengerut sementara ia berusaha berpikir bagaimana cara memenangkan hati dari Luna.

Ia menghela napas dengan frustrasi. Luna.. gadis tercantik di seluruh sekolah. Seluruh kota bahkan, sejak ia memenangkan lomba kecantikan sekota. Semua lelaki yang pernah melihatnya langsung takluk. Semuanya berlomba – lomba memenangkan hatinya. Tapi tidak ada yang benar – benar berpikir sekeras Ronald.

Continue reading

Ritual pt.8

Rumahku satu  – satunya yang gelap di jalanan.

Gelap dan kaca sebelah pintu depannya pecah, serpihannya masih di sekitar semak – semak. Aku mendongak ke kamar ayahku, tempat terakhir aku melihat tangan itu melambai – lambai ke arahku. Tapi kamarnya gelap dan gordennya tertutup. Aku menelan ludah.

Dengan hati – hati, aku berusaha melompat masuk ke rumahku melalui jendela itu, berusaha menghindari pecahan kaca di sekitarnya. Aku merasa hembusan angin dingin dari luar sementara aku memanjat masuk dan bertanya – tanya bagaimana caraku menjelaskan ini ke ayahku besok.

Continue reading

Ritual pt.6

Aku mengerling ke Ruth yang menyeruput es krim soda stroberinya dengan diam. Ia terlihat kecil. Rambut panjangnya yang coklat dan halus ia tidak ikat hari ini. Sesuatu yang aku sadari karena biasanya ia selalu mengepang mereka atau mengikatnya menjadi ikat satu. Aku ingat waktu SD Ruth menjadi selebriti ketika ia satu – satunya cewek yang bisa mengepang rambut dengan bagus. Semua cewek selalu ke mejanya dan meminta rambut mereka ia atur, dengan diam dan senyumannya ia akan selalu menerima.

Kurasa tidak banyak yang berubah sampai SMA. Setidaknya 5 cewek akan datang ke mejanya tiap pagi sebelum kelas mulai. Ruth mendongak ke arahku, matanya bertanya – tanya. Aku menoleh ke arah lain buru – buru, mengambil kentang lagi.

Continue reading