Apetit pt.3

Aku terbangun dengan kaget, sebuah petir menyambar. Kilat yang tadinya menyinar masuk dari celah tirai jendelaku hilang secepat ia datang, melemparku kembali ke kegelapan kamarku. Aku menoleh ke jam digital di meja belajarku, angkanya satu – satunya yang menyala di kamarku sekarang, 2.42 pagi.

Tissue melompat ke tempat tidurku, berusaha berjalan di atas selimut biruku, mengeong panik.

Aku mendudukkan diri, membuka lenganku agar dia bisa masuk ke dalam pelukanku. “Aku juga kaget, buddy.” kataku pelan, mengelus badannya.

Continue reading “Apetit pt.3”

Advertisements

Apetit pt.2

Duduk di kursi putih, memandangi dinding berwarna biru pastel, harus terus menerus mengingatkan diriku untuk tidak menggoyangkan kakiku.

Ini bukan ideku untuk sebuah hari Sabtu yang ideal, kakiku bergoyang dan aku menggigit bibirku, mengunyah bagian keringnya.

Pintu ruang di mana aku lagi duduk menunggu terbuka, seorang dokter dengan muka bersih dan kacamata kotak yang sama dengan yang tadi mengecekku masuk, memegang clipboard dan memasang senyuman profesional yang sama.

“Jadi ada kabar bagus dan ada kabar buruk.” Continue reading “Apetit pt.2”

Apetit

Aku nggak tahu kapan ini mulai terjadi.

Tapi aku sangat yakin sekarang.

Aku sama sekali nggak nafsu makan.

Ini normal. Maksudku, sesekali orang juga nggak nafsu makan. Tapi dalam tiga hari terakhir ini aku hanya makan sebuah apel. Dan aku masih nggak lapar.

Aku memandangi mie kuah dengan resep rumit yang kubuat selama berjam-jam terakhir. Baunya membuat kucingku mengeong – ngeong minta sesendok. Aku menghela napas dan mengangkat mangkok berisi mie itu dan meletakkannya di lantai. Kucingku melahapnya.

Ini nggak masuk akal.

Continue reading “Apetit”

Handphone Stalker pt.9 (Epilog)

“Pa!” teriak Katsu dari dapur. “Apa?!” seru ayahnya dari ruang keluarga.

“Apakah papa mau dua risoles atau satu?!”

“Dua!” teriak ayahnya, Katsu menjatuhkan satu risoles lagi ke piring dan membawanya ke ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman di kursi malasnya di depan TV.

“Kamu nggak mau ikut nonton?” tanya ayahnya dengan semangat, sudah mencomot setengah dari salah satu risolesnya.

“Yeah, sebentar,” balas Katsu, menaiki tangga kembali ke kamarnya, nyaris menabrak pohon natal di ujung ruang keluarga ketika melakukannya.

Continue reading “Handphone Stalker pt.9 (Epilog)”

Handphone Stalker pt.8

Lucia datang ke toko 2 hari setelah Katsu menjual HP pertamanya.

Katsu lagi tengah – tengah menjawab pertanyaan seseorang tentang harga casing HP ketika Lucia muncul dengan senyuman lebar. “Hi!”

“Hei,” kata Katsu, agak kaget. Dia tidak mengontak Lucia sama sekali selama 2 hari terakhir. Sebagian alasannya karena ia BT banget kemarin lusa dan Lucia tidak mencarinya juga. Ia tidak menyangka Lucia akan muncul tanpa mengontaknya.

Dia memandangi Lucia sebentar, tidak mengatakan apa – apa, lalu– “Sori, bisakah kamu tunggu sebentar?” katanya. Lucia mengangguk, “Yeah, tentu saja!” Katsu mengangkat 1 tangannya, kembali berbicara dengan si pembeli yang masih galau antara 2 casing.

Continue reading “Handphone Stalker pt.8”

Handphone Stalker pt.7

“Jawaban macam apa itu?” tanya Ina.

Lucia mendengus, “Ini namanya flirting, Na.” kata Lucia, menekan tombol back dan menglock HPnya.

“Oh, Tahap flirting, hm?” tanya Ina, menggerak – gerakkan alisnya. Lucia tertawa, menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya. Ina menginap malam ini untuk belajar bareng.

“Kamu serius mau dengan Katsu?” tanya Ina, di sebelah Lucia.

“Kurasa agak terlalu awal untuk berkata apakah aku serius atau tidak dengan dia. Secara teknis aku nggak tahu apa – apa tentangnya, dan bisakah kamu bayangkan jika aku menceritakan ini ke mamaku?”

Ina menarik napas dan berkata dengan nada melengking yang dibuat – buat, “Kamuuu mau pacarann sama anak cowok yang nggak kuliahh dan mencuri hpmuuuu?!!”

“Katsu nggak curi HPku, sih.”

Continue reading “Handphone Stalker pt.7”

Handphone Stalker pt.6

“Kamu terlihat bahagia,”

Katsu mengangkat mukanya dengan kaget dari HPnya, satu tangannya baru mau menyendok segumpal nasi ke mulutnya.

Ayahnya sedang memandanginya.

“Apakah kamu mendapatkan pekerjaan?” tanya Ayahnya. Katsu semakin kaget. Ini pertama kali Ayahnya setenang ini waktu menanyakan hal itu.

“Tid–Belum.” Katsu menjawab. Ayahnya tidak berkata apa – apa. Katsu mengira ia akan membalas dengan ‘kamu tahu toko selalu memerlukan tenaga tambahan’ atau semacamnya tapi Ayahnya hanya mengeluarkan gerutu keras sambil meregangkan badannya dan mengambil pisang di bagian tengah meja.

Continue reading “Handphone Stalker pt.6”

Handphone Stalker pt.5

Katsu menghirup dalam – dalam aroma kopi yang baru ditumbuk.

Ahhhh. Baunya seperti produktivitas bekerja yang dia tidak pernah alami!

“Katsu, kamu mau apa?” tanya Lucia, sudah di depan counter, seorang barista di depannya terlihat sangat bosan. “Uhhh,” Katsu membalas, membaca menu yang ditulis dengan kapur dengan cepat. Ice cappucino? Frappe? Quick blend? Apa yang ia biasanya beli? Katsu tiba – tiba menyadari ia jarang minum kopi. Ayahnya bakal memesan kopi tubruk.

Continue reading “Handphone Stalker pt.5”

Handphone Stalker pt.4

“Hai. Uh– hai.” kata Katsu, gugup. Ia ingat bagaimana muka Lucia sekarang. Ia jauh lebih pendek dari yang Katsu kira. Semiran rambutnya juga tidak seterang yang di foto.

Lucia tersenyum, “Hai, Lucia.” katanya, mengulurkan tangannya. Katsu mengangkat tangannya yang memegang HP. Ia mengoper HP ke tangan satunya dan menyalam Lucia balik, “Katsu,” katanya, menyadari tangannya berkeringat dan kemungkinan besar Lucia jijik.

Ia menarik tangannya balik. Ah sial, kenapa ia gugup banget?

“Anuu, HPku?” tanya Lucia

Continue reading “Handphone Stalker pt.4”

Powered by WordPress.com.

Up ↑