Ruang

"Beri aku ruang." katanya. Seakan - akan dia tidak memiliki cukup dari itu. Seakan - akan belakangan ini kita seperti terpisahkan oleh samudra. Seakan - akan semua usahaku untung berenang kepadanya ternyata ia tahu dari awal. "Kita terlalu dekat. Kita butuh ruang." protesnya. Desaknya. Padahal aku tidak mengatakan apa - apa. Apa yang kamu ingin buktikan? ... Continue Reading →

Advertisements

Orang Terpenting di Pernikahan

Dia tampak sangat cantik mengenakan gaun pernikahannya yang putih. Aku merasakan air mataku merebak dan harus menggigit lidahku untuk menahan mereka. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau fotonya rusak karenaku. Dia tersenyum ke arahku, aku tersenyum balik. Gaunnya sempurna. Senyumnya sempurna. Sebuah hari yang sempurna. Dia mengatakan “Aku bersedia.” Kerumunan bersorak. Aku tersenyum... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.9 (Epilog)

"Pa!" teriak Katsu dari dapur. "Apa?!" seru ayahnya dari ruang keluarga. "Apakah papa mau dua risoles atau satu?!" "Dua!" teriak ayahnya, Katsu menjatuhkan satu risoles lagi ke piring dan membawanya ke ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman di kursi malasnya di depan TV. "Kamu nggak mau ikut nonton?" tanya ayahnya dengan semangat, sudah mencomot setengah... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.8

Lucia datang ke toko 2 hari setelah Katsu menjual HP pertamanya. Katsu lagi tengah - tengah menjawab pertanyaan seseorang tentang harga casing HP ketika Lucia muncul dengan senyuman lebar. "Hi!" "Hei," kata Katsu, agak kaget. Dia tidak mengontak Lucia sama sekali selama 2 hari terakhir. Sebagian alasannya karena ia BT banget kemarin lusa dan Lucia... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.7

"Jawaban macam apa itu?" tanya Ina. Lucia mendengus, "Ini namanya flirting, Na." kata Lucia, menekan tombol back dan menglock HPnya. "Oh, Tahap flirting, hm?" tanya Ina, menggerak - gerakkan alisnya. Lucia tertawa, menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya. Ina menginap malam ini untuk belajar bareng. "Kamu serius mau dengan Katsu?" tanya Ina, di sebelah Lucia. "Kurasa agak terlalu awal untuk berkata... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.6

"Kamu terlihat bahagia," Katsu mengangkat mukanya dengan kaget dari HPnya, satu tangannya baru mau menyendok segumpal nasi ke mulutnya. Ayahnya sedang memandanginya. "Apakah kamu mendapatkan pekerjaan?" tanya Ayahnya. Katsu semakin kaget. Ini pertama kali Ayahnya setenang ini waktu menanyakan hal itu. "Tid--Belum." Katsu menjawab. Ayahnya tidak berkata apa - apa. Katsu mengira ia akan membalas... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.5

Katsu menghirup dalam - dalam aroma kopi yang baru ditumbuk. Ahhhh. Baunya seperti produktivitas bekerja yang dia tidak pernah alami! "Katsu, kamu mau apa?" tanya Lucia, sudah di depan counter, seorang barista di depannya terlihat sangat bosan. "Uhhh," Katsu membalas, membaca menu yang ditulis dengan kapur dengan cepat. Ice cappucino? Frappe? Quick blend? Apa yang ia biasanya... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.4

"Hai. Uh-- hai." kata Katsu, gugup. Ia ingat bagaimana muka Lucia sekarang. Ia jauh lebih pendek dari yang Katsu kira. Semiran rambutnya juga tidak seterang yang di foto. Lucia tersenyum, "Hai, Lucia." katanya, mengulurkan tangannya. Katsu mengangkat tangannya yang memegang HP. Ia mengoper HP ke tangan satunya dan menyalam Lucia balik, "Katsu," katanya, menyadari tangannya... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.3

Katsu mengangkat mukanya dari bantalnya, melihat HPnya yang barusan bergetar. Ia membuka notifikasinya. inalovesnoodles liked your photo! "Apaan itu inal... ina.. loves noodles?" ujarnya heran, menggeser jempolnya ke kanan, membuka instagram. Fotonya dia waktu memegang kado hasil tukar kado acara kelas waktu tahun baru. Dia dapat masker muka. Untuk cewek. Dia tetap pakai sih 2... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑