Gengsi

Aku pernah memintanya berjanji, jika suatu hari ia bangun dan ia tidak bisa menemukan bintang – bintang di mataku lagi, atau tiba – tiba menganggap caraku memegang sendok itu salah total, dan ia tidak bisa hidup denganku lagi karena satu atau lain hal.. aku memintanya berjanji untuk tidak menelponku.

Continue reading “Gengsi”

Advertisements

Ruang

“Beri aku ruang.” katanya.

Seakan – akan dia tidak memiliki cukup dari itu. Seakan – akan belakangan ini kita seperti terpisahkan oleh samudra. Seakan – akan semua usahaku untung berenang kepadanya ternyata ia tahu dari awal.

“Kita terlalu dekat. Kita butuh ruang.” protesnya. Desaknya. Padahal aku tidak mengatakan apa – apa. Apa yang kamu ingin buktikan? 

Continue reading “Ruang”

Orang Terpenting di Pernikahan

Dia tampak sangat cantik mengenakan gaun pernikahannya yang putih. Aku merasakan air mataku merebak dan harus menggigit lidahku untuk menahan mereka. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau fotonya rusak karenaku.

Dia tersenyum ke arahku, aku tersenyum balik. Gaunnya sempurna. Senyumnya sempurna. Sebuah hari yang sempurna. Dia mengatakan “Aku bersedia.”

Kerumunan bersorak. Aku tersenyum ke arah mereka. Mereka tersenyum balik kepadaku. Tangannya yang bersarung putih menepuk pundakku. Hatiku melewati satu ketukan. Sentuhannya masih membuatku seperti itu, bahkan setelah sekian lama. Ia tersenyum, “Bisakah kamu mengambil fotoku dengan teman – temanku?” tanyanya.

“Tentu saja,” kataku. Mengangkat kamera dan menjepret lagi.

Handphone Stalker pt.9 (Epilog)

“Pa!” teriak Katsu dari dapur. “Apa?!” seru ayahnya dari ruang keluarga.

“Apakah papa mau dua risoles atau satu?!”

“Dua!” teriak ayahnya, Katsu menjatuhkan satu risoles lagi ke piring dan membawanya ke ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman di kursi malasnya di depan TV.

“Kamu nggak mau ikut nonton?” tanya ayahnya dengan semangat, sudah mencomot setengah dari salah satu risolesnya.

“Yeah, sebentar,” balas Katsu, menaiki tangga kembali ke kamarnya, nyaris menabrak pohon natal di ujung ruang keluarga ketika melakukannya.

Continue reading “Handphone Stalker pt.9 (Epilog)”

Handphone Stalker pt.8

Lucia datang ke toko 2 hari setelah Katsu menjual HP pertamanya.

Katsu lagi tengah – tengah menjawab pertanyaan seseorang tentang harga casing HP ketika Lucia muncul dengan senyuman lebar. “Hi!”

“Hei,” kata Katsu, agak kaget. Dia tidak mengontak Lucia sama sekali selama 2 hari terakhir. Sebagian alasannya karena ia BT banget kemarin lusa dan Lucia tidak mencarinya juga. Ia tidak menyangka Lucia akan muncul tanpa mengontaknya.

Dia memandangi Lucia sebentar, tidak mengatakan apa – apa, lalu– “Sori, bisakah kamu tunggu sebentar?” katanya. Lucia mengangguk, “Yeah, tentu saja!” Katsu mengangkat 1 tangannya, kembali berbicara dengan si pembeli yang masih galau antara 2 casing.

Continue reading “Handphone Stalker pt.8”

Handphone Stalker pt.7

“Jawaban macam apa itu?” tanya Ina.

Lucia mendengus, “Ini namanya flirting, Na.” kata Lucia, menekan tombol back dan menglock HPnya.

“Oh, Tahap flirting, hm?” tanya Ina, menggerak – gerakkan alisnya. Lucia tertawa, menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya. Ina menginap malam ini untuk belajar bareng.

“Kamu serius mau dengan Katsu?” tanya Ina, di sebelah Lucia.

“Kurasa agak terlalu awal untuk berkata apakah aku serius atau tidak dengan dia. Secara teknis aku nggak tahu apa – apa tentangnya, dan bisakah kamu bayangkan jika aku menceritakan ini ke mamaku?”

Ina menarik napas dan berkata dengan nada melengking yang dibuat – buat, “Kamuuu mau pacarann sama anak cowok yang nggak kuliahh dan mencuri hpmuuuu?!!”

“Katsu nggak curi HPku, sih.”

Continue reading “Handphone Stalker pt.7”

Handphone Stalker pt.6

“Kamu terlihat bahagia,”

Katsu mengangkat mukanya dengan kaget dari HPnya, satu tangannya baru mau menyendok segumpal nasi ke mulutnya.

Ayahnya sedang memandanginya.

“Apakah kamu mendapatkan pekerjaan?” tanya Ayahnya. Katsu semakin kaget. Ini pertama kali Ayahnya setenang ini waktu menanyakan hal itu.

“Tid–Belum.” Katsu menjawab. Ayahnya tidak berkata apa – apa. Katsu mengira ia akan membalas dengan ‘kamu tahu toko selalu memerlukan tenaga tambahan’ atau semacamnya tapi Ayahnya hanya mengeluarkan gerutu keras sambil meregangkan badannya dan mengambil pisang di bagian tengah meja.

Continue reading “Handphone Stalker pt.6”

Handphone Stalker pt.5

Katsu menghirup dalam – dalam aroma kopi yang baru ditumbuk.

Ahhhh. Baunya seperti produktivitas bekerja yang dia tidak pernah alami!

“Katsu, kamu mau apa?” tanya Lucia, sudah di depan counter, seorang barista di depannya terlihat sangat bosan. “Uhhh,” Katsu membalas, membaca menu yang ditulis dengan kapur dengan cepat. Ice cappucino? Frappe? Quick blend? Apa yang ia biasanya beli? Katsu tiba – tiba menyadari ia jarang minum kopi. Ayahnya bakal memesan kopi tubruk.

Continue reading “Handphone Stalker pt.5”

Handphone Stalker pt.4

“Hai. Uh– hai.” kata Katsu, gugup. Ia ingat bagaimana muka Lucia sekarang. Ia jauh lebih pendek dari yang Katsu kira. Semiran rambutnya juga tidak seterang yang di foto.

Lucia tersenyum, “Hai, Lucia.” katanya, mengulurkan tangannya. Katsu mengangkat tangannya yang memegang HP. Ia mengoper HP ke tangan satunya dan menyalam Lucia balik, “Katsu,” katanya, menyadari tangannya berkeringat dan kemungkinan besar Lucia jijik.

Ia menarik tangannya balik. Ah sial, kenapa ia gugup banget?

“Anuu, HPku?” tanya Lucia

Continue reading “Handphone Stalker pt.4”

Powered by WordPress.com.

Up ↑