Ruang

"Beri aku ruang." katanya. Seakan - akan dia tidak memiliki cukup dari itu. Seakan - akan belakangan ini kita seperti terpisahkan oleh samudra. Seakan - akan semua usahaku untung berenang kepadanya ternyata ia tahu dari awal. "Kita terlalu dekat. Kita butuh ruang." protesnya. Desaknya. Padahal aku tidak mengatakan apa - apa. Apa yang kamu ingin buktikan? ... Continue Reading →

Advertisements

Handphone Stalker pt.9 (Epilog)

"Pa!" teriak Katsu dari dapur. "Apa?!" seru ayahnya dari ruang keluarga. "Apakah papa mau dua risoles atau satu?!" "Dua!" teriak ayahnya, Katsu menjatuhkan satu risoles lagi ke piring dan membawanya ke ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman di kursi malasnya di depan TV. "Kamu nggak mau ikut nonton?" tanya ayahnya dengan semangat, sudah mencomot setengah... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.8

Lucia datang ke toko 2 hari setelah Katsu menjual HP pertamanya. Katsu lagi tengah - tengah menjawab pertanyaan seseorang tentang harga casing HP ketika Lucia muncul dengan senyuman lebar. "Hi!" "Hei," kata Katsu, agak kaget. Dia tidak mengontak Lucia sama sekali selama 2 hari terakhir. Sebagian alasannya karena ia BT banget kemarin lusa dan Lucia... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.7

"Jawaban macam apa itu?" tanya Ina. Lucia mendengus, "Ini namanya flirting, Na." kata Lucia, menekan tombol back dan menglock HPnya. "Oh, Tahap flirting, hm?" tanya Ina, menggerak - gerakkan alisnya. Lucia tertawa, menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya. Ina menginap malam ini untuk belajar bareng. "Kamu serius mau dengan Katsu?" tanya Ina, di sebelah Lucia. "Kurasa agak terlalu awal untuk berkata... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.6

"Kamu terlihat bahagia," Katsu mengangkat mukanya dengan kaget dari HPnya, satu tangannya baru mau menyendok segumpal nasi ke mulutnya. Ayahnya sedang memandanginya. "Apakah kamu mendapatkan pekerjaan?" tanya Ayahnya. Katsu semakin kaget. Ini pertama kali Ayahnya setenang ini waktu menanyakan hal itu. "Tid--Belum." Katsu menjawab. Ayahnya tidak berkata apa - apa. Katsu mengira ia akan membalas... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.3

Katsu mengangkat mukanya dari bantalnya, melihat HPnya yang barusan bergetar. Ia membuka notifikasinya. inalovesnoodles liked your photo! "Apaan itu inal... ina.. loves noodles?" ujarnya heran, menggeser jempolnya ke kanan, membuka instagram. Fotonya dia waktu memegang kado hasil tukar kado acara kelas waktu tahun baru. Dia dapat masker muka. Untuk cewek. Dia tetap pakai sih 2... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.2

"Apa?" tanya Katsu, masuk ke ruang makan. Ayahnya duduk di kursinya, wajah kotak dan kumis yang tebal yang beberapa sudah memutih. Ada beberapa potong ayam di atas meja, ayahnya sudah mengambil 2 di piringnya. "Duduklah." "Aku sibuk." "Ayah tidak bertanya kamu sibuk atau nggak, duduk." Katsu menggerutu dalam hati tapi duduk. "Kemana kamu tadi pagi?"... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.1

Katsu menemukan sebuah HP. Lebih tepatnya dia menendangnya. OH FUK. Dia buru - buru mengejar HP itu, mengangkatnya dan menoleh ke sekeliling. Pundaknya menabrak pundak orang lain. Jalanan yang ramai, dia terbawa arus, terpaksa berjalan ke arah yang ia awalnya pergi. Ia berusaha menoleh ke sekeliling, mencari siapapun yang kelihatan kehilangan sebuah HP. Tidak ada siapa -... Continue Reading →

Lelaki di Bis

Dia sebis denganku lagi. Matanya yang sendu, terpejam dengan damai. Aku melihatnya dari pantulan jendelaku. Aku beruntung ini malam. Aku bisa melihatnya sepuasku dan tidak akan ada orang yang tahu, mereka mungkin mengira aku melihat pemandangan dari jalanan padat yang membosankan. Rambutnya lebih lebat dari yang kuingat. Kapan terakhir aku melihatnya? Ia harus memotong rambutnya.... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑