Jatuh

Aku jatuh.

Tidak, aku tidak jatuh cinta, se-romantis apapun itu, ceritaku tidak se-klise itu.

Aku jatuh di tangga sekolah, terpleset dan kehilangan keseimbanganku, menabrakkan kepalaku ke lantai dan membuat siapapun di radius 5 meter kaget.  Continue reading

Pacar

Aku merindukan pacarku.

Ia menggandengku. Tersenyum manis. Matanya jernih, soft lens bewarna biru, terbuka lebar sementara ia menceritakan tentang harinya ke aku.

Aku berusaha tersenyum, tapi Tuhan, aku merindukan pacarku.

Continue reading

Tanamannya Mamaku

Tanamannya mamaku mati.

“Ma, tanamannya diapain sih?” teriakku dari taman depan, tangan terlalu sibuk menggaruk dan mengebas – ngebaskan nyamuk yang menempel di betisku. Mataku tertuju ke pot bunga di depanku, sebuah tanaman yang dulunya hijau dan sehat ketika pertama kali mamaku bawa pulang dari pasar bunga sekarang terlihat kuning dan layu. Bahkan tanahnya terlihat kering, berkerak dan keras.

Continue reading

Sendirian(?)

Aku mengusap mata. Tanganku yang satunya melayang ke samping.

Kamu tidak ada.

Aku berhenti. Membuka sebelah mataku.

Masih tidak ada.

Aku menggunakan satu tangan untuk menumpu badanku, mencarimu di ruangan.

Tidak ada.

Continue reading

Hatinya

Ronald menggigit jarinya, sebuah kebiasaan buruk yang tidak akan pernah berubah darinya. Keningnya mengerut sementara ia berusaha berpikir bagaimana cara memenangkan hati dari Luna.

Ia menghela napas dengan frustrasi. Luna.. gadis tercantik di seluruh sekolah. Seluruh kota bahkan, sejak ia memenangkan lomba kecantikan sekota. Semua lelaki yang pernah melihatnya langsung takluk. Semuanya berlomba – lomba memenangkan hatinya. Tapi tidak ada yang benar – benar berpikir sekeras Ronald.

Continue reading