Apetit pt.2

Duduk di kursi putih, memandangi dinding berwarna biru pastel, harus terus menerus mengingatkan diriku untuk tidak menggoyangkan kakiku. Ini bukan ideku untuk sebuah hari Sabtu yang ideal, kakiku bergoyang dan aku menggigit bibirku, mengunyah bagian keringnya. Pintu ruang di mana aku lagi duduk menunggu terbuka, seorang dokter dengan muka bersih dan kacamata kotak yang sama... Continue Reading →

Advertisements

Apetit

Aku nggak tahu kapan ini mulai terjadi. Tapi aku sangat yakin sekarang. Aku sama sekali nggak nafsu makan. Ini normal. Maksudku, sesekali orang juga nggak nafsu makan. Tapi dalam tiga hari terakhir ini aku hanya makan sebuah apel. Dan aku masih nggak lapar. Aku memandangi mie kuah dengan resep rumit yang kubuat selama berjam-jam terakhir.... Continue Reading →

Ruang

"Beri aku ruang." katanya. Seakan - akan dia tidak memiliki cukup dari itu. Seakan - akan belakangan ini kita seperti terpisahkan oleh samudra. Seakan - akan semua usahaku untung berenang kepadanya ternyata ia tahu dari awal. "Kita terlalu dekat. Kita butuh ruang." protesnya. Desaknya. Padahal aku tidak mengatakan apa - apa. Apa yang kamu ingin buktikan? ... Continue Reading →

Mimpi

Ada penjelasan saintifik bahwa semua muka yang kamu lihat di mimpimu adalah muka orang yang pernah kamu lihat. Ini karena otakmu tidak bisa membuat muka. Bahkan jika kamu tidak tahu siapa yang kamu lihat di mimpimu, kamu pasti pernah melihat mereka. Mungkin hanya sekilas waktu kamu berjalan di kerumunan. Tapi aku bermimpi buruk hari ini.... Continue Reading →

Orang Terpenting di Pernikahan

Dia tampak sangat cantik mengenakan gaun pernikahannya yang putih. Aku merasakan air mataku merebak dan harus menggigit lidahku untuk menahan mereka. Tidak, aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau fotonya rusak karenaku. Dia tersenyum ke arahku, aku tersenyum balik. Gaunnya sempurna. Senyumnya sempurna. Sebuah hari yang sempurna. Dia mengatakan “Aku bersedia.” Kerumunan bersorak. Aku tersenyum... Continue Reading →

Wisp

It first started with Randy's rumor, something he had said jokingly on a foggy Friday afternoon after school, right behind the smoothie shop that faced the dark dense woods. He said he'd saw a white wisp-like figure. Just a second before it disappeared into the trees. "There is a wisp in the woods!" He said,... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.9 (Epilog)

"Pa!" teriak Katsu dari dapur. "Apa?!" seru ayahnya dari ruang keluarga. "Apakah papa mau dua risoles atau satu?!" "Dua!" teriak ayahnya, Katsu menjatuhkan satu risoles lagi ke piring dan membawanya ke ayahnya yang sudah duduk dengan nyaman di kursi malasnya di depan TV. "Kamu nggak mau ikut nonton?" tanya ayahnya dengan semangat, sudah mencomot setengah... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.8

Lucia datang ke toko 2 hari setelah Katsu menjual HP pertamanya. Katsu lagi tengah - tengah menjawab pertanyaan seseorang tentang harga casing HP ketika Lucia muncul dengan senyuman lebar. "Hi!" "Hei," kata Katsu, agak kaget. Dia tidak mengontak Lucia sama sekali selama 2 hari terakhir. Sebagian alasannya karena ia BT banget kemarin lusa dan Lucia... Continue Reading →

Handphone Stalker pt.7

"Jawaban macam apa itu?" tanya Ina. Lucia mendengus, "Ini namanya flirting, Na." kata Lucia, menekan tombol back dan menglock HPnya. "Oh, Tahap flirting, hm?" tanya Ina, menggerak - gerakkan alisnya. Lucia tertawa, menjatuhkan dirinya ke tempat tidurnya. Ina menginap malam ini untuk belajar bareng. "Kamu serius mau dengan Katsu?" tanya Ina, di sebelah Lucia. "Kurasa agak terlalu awal untuk berkata... Continue Reading →

Powered by WordPress.com.

Up ↑