Lelaki di Bis

Dia sebis denganku lagi.

Matanya yang sendu, terpejam dengan damai. Aku melihatnya dari pantulan jendelaku. Aku beruntung ini malam. Aku bisa melihatnya sepuasku dan tidak akan ada orang yang tahu, mereka mungkin mengira aku melihat pemandangan dari jalanan padat yang membosankan.

Rambutnya lebih lebat dari yang kuingat. Kapan terakhir aku melihatnya? Ia harus memotong rambutnya. Aku tidak ingat kapan kita sebis terakhir kali.

Aku selalu naik yang sama. Dan dia, dia tampaknya tidak punya rutin.

Continue reading

Gadis di Bis pt.4

“KAMU SUDAH MENEMUKANNYA?!” teriak Bianca seketika.

Theo berhenti membersihkan sepatunya di keset. Bianca memandanginya balik. Ia tidak terlihat marah, mulutnya yang selalu cemberut itu ternganga.

Sedikit aneh untuk akhirnya melihat adiknya menunjukkan emosi lain dari marah dan kecewa kepadanya.

Continue reading

Gadis di Bis pt.3

“Kamu tahu kenapa kamu bisa menangis?”

Theo mengangkat pandangannya yang menempel di buku. Dosennya lagi menanya pertanyaan itu ke anak yang duduk di barisan paling depan.

Anak itu menoleh ke belakangnya, “Tidak, kamu. Aku bertanya kepadamu.” Anak itu menoleh ke depan lagi, tertawa gugup.

“Tidak tahu?”

Anak itu menggeleng.

Continue reading

Gadis di Bis pt.2

Theo semakin melorot di kursinya. Lampu bis menyala, menandakan sudah jam 6 malam.

Persis dengan menyalanya lampu bis, layar HP-nya menyala.

Theo membuka lock screen-nya.

Chat dari Bianca.

Continue reading