Insiden Terjun Bebas HP-ku

//Cerita ini ditulis pada 13 Juni dan tidak dipost hingga seminggu setelah insiden ini terjadi supaya bisa ditambahi update berita//

Jika kalian mau membaca cerita tentang kebodohan, kepanikan, serangan jantung dadakan, umpatan dan sebuah secercah harapan yang dihancurkan oleh kebodohan lagi– aku punya cerita untuk kalian.

Dan cerita ini, saking bodohnya, tidak mungkin bisa direplikasikan dan dikarang. Ini true story 100%. Dan aku, sayangnya, adalah karakter utama di cerita ini.

Continue reading

Pertunjukan

“Kenapa kamu tidak pernah menyayangiku?” Protesnya.

“Aku selalu menyayangimu.” desahku, frustasi.

Tapi ia tidak mendengarkanku.

Ia pergi meninggalkanku setelah itu. Tak peduli berapa keras aku berusaha mengontaknya. Telpon di pagi hari. Sebuah pesan di malam. Tidak pernah ada angkatan dan sapaan. Ia tidak pernah menjawab lagi.

Aku sendirian tiap malam, memandangi langit – langit kamarku. Kesusahan untuk tidur tanpa ucapan malam darinya. Tanpa merasakan getar HP-ku dengan sebuah kalimat penuh kasih yang muncul di layarnya. Di malam – malam ini, aku menghitung ulang berapa hari yang telah lewat sejak ia pergi. 3 bulan, 21 hari. Aku tidak tidur nyenyak selama 3 bulan dan 21 hari.

Selama jangka waktu itu aku berusaha mencarinya. Atau setidaknya merasakan dirinya lagi.

Aku membaca ulang semua kecupannya di malam hari.

Aku memainkan ulang suaranya hingga dinding kamarku bosan.

Aku menonton semua film kesukaannya, berusaha mendengar tawanya ketika adegan terlucu sukannya muncul. Atau melihat sekilas dari bagaimana lesung pipitnya akan keluar dan tangannya langsung mengatup mulutnya. Berusaha mencegah suara keluar,padahal suara tawanya adalah salah satu hal terindah yang pernah kudengar. Berusaha. Tak pernah berhasil. Hanya kesunyian yang sama. Semakin hari semakin keras. Semakin hari semakin menghantuiku.

Aku masih menarik 2 gelas ketika menyeduh teh.

Masih kaku ketika mengembalikan salah 1 kembali ke lacinya.

Aku masih menahan pintu untuk membiarkan seseorang lewat duluan sebelum aku.

Masih menoleh ke sekitar ketika sadar tidak ada siapa – siapa denganku.

Aku masih mendengar namaku dipanggil.

Masih berhenti mengerjakan apa yang sedang kukerjakan seketika untuk mencari tahu kenapa.

Masih butuh waktu cukup lama untuk sadar aku biasanya hanya mengimajinasikannya. Atau aku salah dengar.

3 bulan dan 21 hari sejak ia pergi, dan aku akhirnya melihatnya lagi hari ini. Dengan orang lain. Tawa yang sama. Gandengan yang sama. Terlihat bahagia dengan cara yang jauh berbeda. Ia tak melihatku.

Aku pulang hari itu dan untuk pertama kalinya sadar bahwa hubungan kita berakhir. Kurasa selama ini aku pikir tidak karena ia tidak pernah memberi penjelasan mengapa ia pergi.

Atau apakah itu penjelasannya? Apakah pertanyaan yang selalu ia lontarkan itu alasannya? Aku mulai berpikir apakah aku yang kurang menjelaskan jawabanku. Apa yang sesungguhnya kumaksud.

Mengapa kau tak pernah menyayangiku? 

Aku selalu menyayangimu. 

“Aku hanya tak pandai menunjukkannya.”