Handphone Stalker pt.3

Katsu mengangkat mukanya dari bantalnya, melihat HPnya yang barusan bergetar. Ia membuka notifikasinya.

inalovesnoodles liked your photo!

“Apaan itu inal… ina.. loves noodles?” ujarnya heran, menggeser jempolnya ke kanan, membuka instagram. Fotonya dia waktu memegang kado hasil tukar kado acara kelas waktu tahun baru. Dia dapat masker muka. Untuk cewek.

Dia tetap pakai sih 2 minggu setelahnya karena sayang dibuang. Dia baru ingat dia mau diam-diam beli lagi karena baunya super enak dan selama 3 hari setelah ia pakai kulit wajahnya semulus bokong bayi.

Katsu membuka profile inalovesnoodles. Di-private. Foto profilenya dari belakang, hanya kelihatan rambut. Dia nggak kenal dari bentuk kepalanya. Dia melihat followers dan followingnya. Ermmm, rasanya tidak ada temannya yang berteman dengan cewek ini. Katsu mengembalikan HPnya lagi, menjatuhkan kepalanya ke bantal dan memejamkan matanya lagi. Hendak tidur.

Ketika notifikasi datang dari laptopnya. “Ugggghhh,” ia memaksakan diri berdiri dan menggerakkan mousenya untuk melihat.

“Hei. Apakah kita bisa bertemu supaya aku bisa mengambil HPku lagi?” 

Katsu mengetik balik, “ok. Mau kpan?”

Lucia Sundhari is typing. Lalu hilang. Lucia Sundhari is typing lagi. Lalu hilang. Lalu, “Besok bisa? Jam 3?”

Katsu menghela napas. Dia cukup yakin tidak akan ada company yang bakal mengontaknya besok, dan dia nggak ada jadwal interview, dan mencari pekerjaan dengan masuk ke toko demi toko seperti biasanya belakangan tidak membuahkan hasil juga. Secara statistik tidak ada alasan untuknya agar bisa menolak, tapi terasa seperti pukulan hebat ke mentalnya ketika ia harus mengiyakan karena ia sama sekali tidak ada kerjaan.

Yeah aku bisa.” 

Di kampus univ providence. Taman besarnya.”

Katsu bersiul rendah. Providence adalah salah satu universitas yang cukup bagus. Dia tahu beberapa anak sekolahnya yang pintar masuk sana.

“Ok. Akan aku kabari besok lagi lewat FB?”

“Ok, thank you! :D”

“Oh!” seru Katsu agak kaget. Lucia memberi emoticon.

“Sama – sama (^_^)/” balas Katsu, dengan smiley face juga.


“Ooooh!!!” seru Ina dan Lucia barengan. “That’s kinda cute,” ujar Lucia. Mereka sudah selesai kelas sekarang, berjalan ke halte bis.

“Dia terlihat seperti orang yang baik – baik saja.” ujar Ina. Lucia mengangkat bahu, “Kuraa kita akan melihat besok.” balasnya, sebuah bis datang. “Aku akan sengaja mematikan wekerku supaya kamu diculik olehnya dan aku tidak perlu bertemu dengan muka menjijikkanmu lagi,” kata Ina, memanjat bis. Lucia mengangkat jari tengahnya ke Ina yang hanya tertawa dan melambaikan tangannya.

Lucia menghela napas, sendirian sekarang. “Lucia?” ia menoleh, ah shit! Britanny.

Lucia langsung memutar badannya dan berjalan cepat ke arah yang berlawanan. “Lucia!” Seru Britanny, mengejarnya.

“Tinggalkan aku sendiri!” seru Lucia balik, mempercepat langkahnya. “Luc–” Britanny melewatinya dan menghentikannya dari depan. “Biarkan aku menjelaskan–”

“Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjelaskan, Brit, dan penjelasanmu bahwa ‘cowokmu yang super ganteng itu tiba – tiba mengajakku ke tempat tidurku dan aku tidak keberatan’ bukan termasuk penjelasan yang BAIK.”

“Kamu sangat kekanak – kanakan tentang hal ini, kamu tahu itu, Lucia?” gumam Britanny, melempar rambutnya yang lembut dan panjang ke belakang punggungnya.

“Aku? Kekanak – kanakan?!” teriak Lucia balik, ia tahu ia tidak membuktikan apa – apa dengan marah tapi ia muak dengan ini. “Dengar, bitch, aku ternyata pacaran dengan seorang bajingan dan berteman baik dengan seorang ular dan aku cukup baik untuk hanya memutuskan hubunganku dengan kalian berdua diam – diam. Jika aku menuruti kata hatiku kalian tidak bakal bisa menunjukkan muka kalian di kampus karena level permaluan yang bisa kulakukan ke kalian berdua!”

“Yeah, banyak omong sedikit tindakan seperti biasa.” kata Britanny. Ia menghela napas, “Dengar, Lucia. Aku hanya ingin berteman dengan–”

“KITA SUDAH TIDAK BERTEMAN LAGI, BRITANNY.”

“See? Kekanak – kanakan.”

“FUCKING SHI– oke, kamu tahu apa? Lupakan. Aku tidak mau berbicara denganmu lagi,” Lucia mengangkat kedua tangannya dan melewati Britanny. Berjalan cepat. Ia tidak tahu ia harus ke mana. Kamar kosnya yang baru ke arah yang berlawanan. Lucia memutuskan tetap berjalan lurus dan mengambil taxi saja nanti. Apapun untuk tidak menghadapi Britanny yang berseru, “Kamu tidak akan pernah mendapat persahabatan seperti milik kita dulu, Lucia!!”

“BAGUS!” teriak Lucia balik, masih berjalan.


Katsu memutuskan tetap pergi keluar rumah ketika pagi. Jika ia tetap di rumah hingga siang, ia akan terlihat super pengangguran dan ayahnya akan berkata sesuatu tentang itu. Setelah episode tengkaran terbaru mereka kemarin, ia tidak ingin mendengar omelan ayahnya secepat itu lagi.

Ia berhasil keluar rumah tanpa dilihat oleh siapa – siapa, ia menarik lepas dasinya seketika, menghela napas panjang.  Katsu membuang waktu di sebuah taman, membeli sebuah roti dan memakannya. Ia mencuil sedikit dari rotinya tiap beberapa kali gigit dan melemparnya ke bebek – bebek di danau. Ia merasa ia pernah membaca sesuatu bahwa memberi roti ke bebek itu sebenarnya tidak baik karena akan membunuh mereka lama – lama atau semacamnya.

Katsu menarik secuil roti dan melempar lagi. Bebek – bebek itu berebutan mengambilnya. Ia mengecek jamnya. Jam 11. Katsu menghabiskan rotinya dan berjalan, bosan. Ia berjalan ke food court dekat taman itu. Ada sebuah tawaran pekerjaan di sebuah stand hot dog. Ia menggaruk dagunya, berharap ia tidak seputus asa itu untuk sebuah pekerjaan.

Setelah terasa seperti selamanya, hanya duduk – duduk dan berjalan dari satu taman ke taman lain, ia naik ke bis dan turun di halte yang paling dekat dengan universitas di mana ia harus bertemu dengan Lucia.

Ia berhasil menemukan taman tengah yang dimaksud Lucia, sebuah taman besar dengan banyak bangku dan sebuah air mancur di tengah – tengahnya. Ada banyak mahasiswa – mahasiswa lalu lalang membawa tas dan buku, berbicara satu dengan yang lain. Katsu duduk di salah satu bangku yang ada dengan canggung. Ia merasa aneh berada di sebuah kampus universitas. Ia membuka HP-nya. 14.52.

“Hei! aku sudah di sini :)” Kirim Katsu.

Katsu meng-lock HPnya, mengelap keringatnya dengan satu tangan, sial bangku ini panas. Dia mencari apakah ada bangku lain yang lebih teduh. Tidak ada. Ia menoleh untuk melihat seorang mahasiswa melihatinya. Mereka saling pandang sebentar dan Katsu menoleh ke arah lain, mulai menggerak – gerakkan kakinya dan menggosokkan tangannya.

Sebuah balasan datang. “Hei! Di mana kamu?”

“Aku memakai kemeja putih.” balas Katsu, menoleh ke sekeliling. Sial, seperti apa muka Lucia lagi? Dan kenapa ia agak gugup? Ia hanya mengembalikan HP yang ia temukan di tengah jalan. Sebuah alasan aneh untuk bertemu dengan seorang cewek, memang.

Sebuah tangan menepuk pundaknya, “H-hei,” Katsu menoleh ke belakangnya, dan berhadapan dengan Lucia.

Handphone Stalker pt.2

“Apa?” tanya Katsu, masuk ke ruang makan.

Ayahnya duduk di kursinya, wajah kotak dan kumis yang tebal yang beberapa sudah memutih. Ada beberapa potong ayam di atas meja, ayahnya sudah mengambil 2 di piringnya.

“Duduklah.”

“Aku sibuk.”

“Ayah tidak bertanya kamu sibuk atau nggak, duduk.”

Katsu menggerutu dalam hati tapi duduk. “Kemana kamu tadi pagi?”

Continue reading

Handphone Stalker pt.1

Katsu menemukan sebuah HP.

Lebih tepatnya dia menendangnya. OH FUK. Dia buru – buru mengejar HP itu, mengangkatnya dan menoleh ke sekeliling. Pundaknya menabrak pundak orang lain. Jalanan yang ramai, dia terbawa arus, terpaksa berjalan ke arah yang ia awalnya pergi. Ia berusaha menoleh ke sekeliling, mencari siapapun yang kelihatan kehilangan sebuah HP.

Tidak ada siapa – siapa. Jika apapun, HP itu tampaknya sudah jatuh agak lama. Retak memanjang di layar yang hitam. Ia menekan tombol home. Tidak menyala.

Katsu memasukkan HP itu ke kantongnya, kembali berjalan pulang. Mungkin aku bakal bisa menemukan siapa yang memilikinya di rumah.

Continue reading

Lelaki di Bis

Dia sebis denganku lagi.

Matanya yang sendu, terpejam dengan damai. Aku melihatnya dari pantulan jendelaku. Aku beruntung ini malam. Aku bisa melihatnya sepuasku dan tidak akan ada orang yang tahu, mereka mungkin mengira aku melihat pemandangan dari jalanan padat yang membosankan.

Rambutnya lebih lebat dari yang kuingat. Kapan terakhir aku melihatnya? Ia harus memotong rambutnya. Aku tidak ingat kapan kita sebis terakhir kali.

Aku selalu naik yang sama. Dan dia, dia tampaknya tidak punya rutin.

Continue reading

WC #16 :Kamu Ingin Bertambah Baik di…?

Hei semua, kembali lagi di writing challenge!!

Sedikit off topic tapi aku kemaren barusan meng-submit salah satu tugas besarku jadi aku bisa bernapas sebentar, alhasil keluarlah writing challenge ini!

Topik kali ini adalah ‘Kamu Ingin Bertambah Baik di…?’

Jawabannya hanya boleh 1 hal atau bidang, supaya nggak ke mana – mana.

Continue reading

Berpapasan

Aku melihatnya di jalan yang panas, kita berpapasan.

“Jen?” panggilku, entah bagaimana bisa mengumpulkan cukup keberanian untuk memanggilnya.

Dia menoleh, mata melebar, “Connor!”

Aku menemukan diriku tersenyum sedikit, dia mengingatku! Dia berhenti, mendekat ke arahku. “Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini!”

“Yeah, aku sudah lama tidak ke area sini.. kamu masih sering ke sini?”

Continue reading

Gerimis

Kamu semakin mendekat, memastikan tanganku semakin memelukmu dari belakang. Kamu menyundulkan rambutmu ke bawah daguku. Aku mengangkat leherku, geli, tapi tidak terlalu banyak, karena aku tidak mau kamu tersinggung.

Suara air hujan yang pelan terdengar di luar jendela kamarmu, aku menoleh ke jendela sesaat, hanya bisa melihat segaris dari langit yang meneteskan gerimis pelan, tertutup dengan gorden putih.

Continue reading

Insiden Terjun Bebas HP-ku

//Cerita ini ditulis pada 13 Juni dan tidak dipost hingga seminggu setelah insiden ini terjadi supaya bisa ditambahi update berita//

Jika kalian mau membaca cerita tentang kebodohan, kepanikan, serangan jantung dadakan, umpatan dan sebuah secercah harapan yang dihancurkan oleh kebodohan lagi– aku punya cerita untuk kalian.

Dan cerita ini, saking bodohnya, tidak mungkin bisa direplikasikan dan dikarang. Ini true story 100%. Dan aku, sayangnya, adalah karakter utama di cerita ini.

Continue reading

Kangen

Semua orang bilang, “Hei, kamu nggak kangen dia?”

Aku mendengus, “Tidak, aku bukan seorang putri yang harus dielus kepalanya tiap malam dan dibisiki kalimat – kalimat manis.”

Semua orang bertanya kepadanya, “Apakah kalian ingin segera bersama lagi?”

Dan dia mengangkat bahu karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hitungan hari, jadi memikirkan masa depan itu bodoh.

Semua orang menggeleng – gelengkan kepala mereka dan berkata, “Kalian aneh,” dan kita berdua mengangguk setuju di dua tempat yang berbeda.

Continue reading